
Setelah memastikan keadaan mendukung aksinya, Vivian kini tengah tersenyum puas karena ternyata dia bisa mendapatkan banyak benda berharga dari sana. Tidak sulit membuka brangkas yang ada di kamar Ibu Diana, karena sebelum beraksi Vivian sudah mencari tahu pasti tanggal lahir Fredon. Seperti tebakannya, brangkas Ibu Diana di kunci dengan tanggal lahir Fredon.
" Aku bahagia sekali, akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah si Kelie brengsek itu. " Vivian tersenyum memeluk banyak sekali uang, perhiasan, juga mas batangan dari brangkas Ibu Diana sampai tidak ingat bahwa di dalam sana ada kamera pengawas.
Dengan segera Vivian memasukkan semua benda berharga yang dia dapatkan dari kamar Ibu Diana, lalu dengan segera pula dia berjalan mengendap perlahan memperhatikan suasana dengan seksama lalu masuk ke dalam kamarnya, menjadikan satu semua benda berharga yang dia dapatkan dan menghitungnya dengan mata berbinar membayangkan akan seberapa banyak uang yang akan dia dapatkan nanti.
" Ah, mula-mula aku harus memancing dulu satu pelayan supaya masuk ke dalam kamar Ibu dan Wendy, jadi aku bisa menyalahkan dia kan? Ah! Gila, gara-gara melihat benda berharga ini aku hampir lupa. " Ujar Vivian. Merasa takut jika nanti di ambil oleh orang lain alias di curi pula barang curiannya, jadi Vivian sebentar sibuk mencari tempat untuk menyembunyikan barang-barang itu. Sungguh dia benar-benar merasa begitu repot karena perasaan takut kehilangan barang itu hingga berkali-kali memindahkan kesana kemari menghabiskan waktu yang cukup lama.
" Baiklah, di sini saja sudah. " Ujar Vivian sembari membuang nafas untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya meletakkan benda berharga di dalam lemari yang sudah dia tindih dengan banyak baju dan sepatu adalah tempat penyimpanan yang paling aman. Setelah itu Vivian keluar dari kamarnya, memanggil seorang pelayan untuk membersihkan kamar Ibu Diana dan juga kamar Wendy. Awalnya pelayan itu merasa agak bingung karena lagi tadi sudah di bersihkan, tapi karena dia tidak berani melawan, mau tidak mau pelayan itu tentu menjalankan saja perintah orang yang memiliki kuasa di rumah itu.
***
Semua orang kini tengah berada di satu ruangan yaitu, kamar Elle dan juga Jarvis. Ayah, Penelope, Bryant, Jarvis, Dokter psikiater, dan tentu saja ada Elle di sana.
Sebentar Dokter psikiater bersama satu Dokter ahli yang akan membantu jalannya pengobatan yang resikonya tidak main-main itu menarik nafas dalam-dalam. Elle yang sudah berada di posisi berbaring masih terlihat tenang tak menunjukkan ekspresi apapun semenjak Ayahnya datang beberapa saat lalu. Entah apakah dia marah karena pada akhirnya Ayahnya harus melihat keadaanya, atau kah karena dia merasa kesal kepada Penelope dan Jarvis yang membawa Ayahnya kesana. Tapi sungguh Elle sama sekali tak begitu antusias begitu melihat Ayahnya tadi.
" Grizelle, benarkah itu nam mu? " Tanya Dokter psikiater, pertanyaan pertama itu tak mendapatkan respon, di ulangi lagi kedua kali, hingga ke tiga kalinya Elle baru saja mengangguk pelan.
" Bagus, Grizelle. Dengarkan ini baik-baik ya? Cobalah untuk perlahan memejamkan matamu. Kau pernah melihat atau merasakan berada di ruang yang hampa? Gelap, gelap sekali seperti jauh dari matahari, tidak ada suara, hening, hening bahkan hembusan nafas mu tak terdengar. Ruangan yang pengap, tak tahu dimana pembatasnya, tak ada cahaya untuk melihat dindingnya, dingin, bahkan sampai tubuh mu mati rasa. "
Elle yang tengah memejamkan mata dengan posisi berbaring itu mulai mengernyitkan dahi, tangannya yang saat itu tengah di genggam oleh Penelope juga gemetar dan mulai basah karena keringat yang keluar. Jarvis juga bisa merasakannya karena satu tangan Elle berada di dalam genggaman tangannya.
Jarvis menahan nafas karena sesak yang begitu menyiksanya, bagaimana mungkin Elle tidak mudah terbawa ucapan Dokter karena memang Elle beberapa kali pernah tinggal di ruang yang pengap, tak ada cahaya matahari atau penerangan yang tersedia. Ventilasi hampir tak ada, tempat itu adalah gudang belakang rumah yang dulu Jarvis gunakan untuk menghukum dan mengurung Elle.
" Grizelle atau Elle, kau takut? Tempat itu menakutkan bukan? Terlaku gelap, tak ada suara, tak ada penerangan, tak ada batasan hingga kau tidak akan tahu di mana ujungnya. Bangkit lah, dengarkan suara dari orang yang kau sayangi, dia akan menuntun mu untuk membawa mu keluar. Dengarlah suara ini, kau pasti mengenalnya, kau pasti percaya padanya karena dia adalah orang yang menyayangi serta kau sayangi. "
Dokter memberikan isyarat untuk Penelope memulai pembicaraan sesuai teks yang sudah di siapkan untuknya dari Dokter psikiater, psikolog itu.
Tes!
Hanya air mata yang jatuh dari ujung mata Elle, dia tak mengatakan apapun. Penelope jelas merasa bingung dan takut karena bahkan kakaknya tak menggerakkan satu jari pun.
Dokter kembali memberi isyarat untuk mencoba kembali dengan kalimat yang selanjutnya jika yang pertama gagal.
" Kak, Kakak tahu kan betapa indahnya dunia yang dulu kita tinggali? Ada banyak bunga, sinar matahari, banyak suara binatang, banyak suara manusia, semua yang tidak ada di sana ada di tempat kita dulu. Kakak merindukannya bukan? Raih tanganku, ayo ikut aku. "
Tes!
Air mata Elle kembali jatuh membuat Jarvis semakin panik, Bryant dan Ayah juga merasakan benar kepanikan dan ketakutan itu karena reaksi Elle seperti orang yang tidak tertarik lagi untuk hidup.
Karena Penelope di anggap gagal, akhirnya Ayah sekarang yang menggenggam tangan Elle dan memulai untuk menuntun Elle.
" Nak, ini Ayah. Bagaimana keadaan mu sekarang? Kau pasti kesepian bukan? Ayah juga kesepian jika kau berada di tempat seperti itu, tong temani Ayah di sini ya? Ayah khawatir sekali, Ayah ingin melihat mu tersenyum, tertawa seperti sebelumnya. Berikan tangan mu, ayo kita kembali bersama. "
Lagi-lagi air mata Elle jatuh, tangannya juga gak melakukan gerakan apapun yang artinya Elle masih tidak ingin keluar dari sana.
Dokter saling menatap dengan dahi mengeryit, lalu menunjuk jam di pergelangan tangannya yang artinya waktu hampir habis.
Jarvis mulai tak bisa mengendalikan diri, matanya sudah memerah menahan tangis yang ingin pecah begitu saja.
Bersambung.