Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 96 : Melakukan Segalanya Bersama



" Elle? " Jarvis menatap Elle semakin dalam, dan begitu Elle mengangguk, Jarvis benar-benar semakin tak bisa menahan diri lagi. Kedua tangannya dengan cepat meraih tengkuk Elle, membuat ciuman yang baru saja dia mulai semakin serat menyatu.


Jarvis mengangkat tubuh Elle, membuat kedua kaki Elle melingkar di pinggangnya, dia juga masih tak melepas ciumannya hingga Jarvis membawa tubuh Elle ke atas tempat tidur.


" Kau tidak boleh menyesal, kau mengerti kan kalau sudah terjadi tidak akan mungkin bisa kembali seperti semula? " Tanya Jarvis yang benar-benar ingin memastikan kebenaran tentang hal itu. Elle mengangguk, dan itu membuat Jarvis tak memiliki batasan apapun lagi. Elle, hatinya, miliknya, semuanya adalah milik Jarvis seorang saja sekarang.


Jarvis kembali menyatukan bibir mereka, menyalurkan kehangatan, juga perasaan penuh cintanya agar Elle juga bisa untuk merasakannya. Perlahan gerakan bibirnya lalu lama kelamaan begitu memacu untuk mendapatkan pelampiasan. Ciuman itu semakin memanas, jangan tanya siapa yang memulai duluan, karena mereka melakukan bersama artinya mereka berdua yang memulai.


Jarvis menjalankan tangannya, menyentuh bagian dada dan memijatnya dengan lembut. Perlahan kembali bergerak untuk masuk karena menyentuh dengan kain yang menutupinya terasa kurang untuk Jarvis. Tanpa membuka pakaian, Jarvis akhirnya bisa menyentuh benda kembar yang pernah beberapa kali lihat tanpa berani menyentuhnya. Gila, perasaan itu benar-benar seperti tidak mungkin untuknya hingga kebahagiaan yang dia rasakan seolah membawanya menjadi hampir gila.


Wanita yang beberapa saat kemarin seolah tidak akan mungkin bertahan di sisinya, kini justru berada di bawah kungkungannya, tatapan yang redup dan wajah memerah seolah menyampaikan jika Elle sendiri menikmati apa yang sedang mereka lakukan.


Cukup dengan benda kembar Elle, Jarvis menjalankan tangannya, menyuap meraih sesuatu yang paling penting untuk melampiaskan keinginanya itu. Benda itu, hangat, dan sangat lembut membuat Jarvis tidak tahan lagi. Jarvis bangkit dari posisinya, bergerak melepaskan satu persatu pakaian yang di gunakan Elle dan di saat itulah wajah Elle menjadi semakin merah. Yah, padahal dia juga sadar benar sudah beberapa kali tak menggunakan pakaian di hadapan Jarvis, tapi kali ini dia benar-benar malu, bahkan jantungnya juga berdebar sangat kencang.


" Jarvis,........ " Elle tersentak saat jemari Jarvis menyentuh bagian pentingnya, bahkan juga mengerakkan tangan di sana memberikan sensasi yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Rasa itu seolah menjalar ke seluruh tubuhnya, dari ujung kaki hingga ke ujung kepala tanpa ada yang terlewat. Indah, rasanya benar-benar indah dan ini adalah pertama kali untuk seumur hidup Elle merasakannya.


Jarvis, pria itu sebenarnya sudah sangat tidak tahan dengan miliknya yang sudah sedari tadi menahan untuk tidak terburu-buru. Iya, dia tahu benar ini adalah yang pertama untuk Elle, jika dia begitu egois dan tak berperasaan bisa saja dia langsung saja yang penting dia lega. Tapi, baginya lebih baik menahan sebentar lagi asalkan tidak harus melihat wanita tercintanya itu kesakitan maka itu jauh lebih baik.


" Ah,....... " Elle menutup bibirnya karena tak bisa mengatakan apa-apa. Gila! Jarvis bahkan mengunakan bibirnya untuk menyentuh bagian itu, rasanya malu sekali, tapi tubuhnya yang tak mau di ajak kerja sama bersama otaknya justru merasa begitu ogah menghentikan kegiatan Jarvis.


Beberapa saat kemudian.


Jarvis bangkit dari posisinya tadi, memposisikan dirinya senyaman mungkin, kalau kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Elle. Di saat yang bersamaan, dia mulai membuka jubah mandi yang ia gunakan, setelah itu dia menyentuh miliknya, mengerakkan perlahan menuju tempat dimana dia harus berlabuh. Perlahan Jarvis menekannya tanpa mengentikan ciuman bibir mereka.


" Em! " Pekik Elle saat dia merasai ada sesuatu yang memaksa masuk ke dalam dirinya. Sedikit ngilu, perih jelas dia rasakan, tapi ciuman Jarvis, lengan kokohnya yang memeluk tubuhnya membuat dia begitu bisa menahan rasa itu hingga Jarvis bisa membenamkan dengan sempurna.


Perlahan gerakan pinggulnya di awali, dan Elle juga merasa nyaman setelah beberapa saat. Hingga di mana Jarvis tak bisa lagi menahan, dia agak mempercepat gerakannya, terus seperti itu dan semakin cepat membuat Elle hanya bisa menahan itu dengan dahi mengeryit dan mata terpejam menerima hujaman yang begitu kuat.


Jarvis menempelkan dahinya dengan dahi Elle begitu dia selesai dengan kegiatannya. Satu tangannya menyentuh wajah Elle dan mengusapnya perlahan, sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk di atas tubuh Elle.


" Terimakasih. " Ucap Jarvis setelah dia cukup bisa mengatur nafasnya yang begitu menderu tak teratur beberapa saat lalu. Elle tersenyum, sungguh dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa dari ungkapan kata terimakasih yang di ucapkan Jarvis.


" Maaf, aku tadi sulit sekali mengontrol diri. Karena perlahan terus menerus, sampai besok pagi rasanya tidak akan selesai. "


Rasanya memang ngilu dan perih, pinggang ku juga sakit, tapi hati ku bahagia sekali, Jarvis.


" Kalau ada yang tidak nyaman kau harus bilang ya? Kau tahu kan aku tidak bisa menjadi wanita dan tidak tahu bagaimana rasanya saat satu bagian tubuh mu di terobos masuk. "


Elle mengangguk degan bibir tersenyum.


Setelah kegiatan itu, Jarvis dan Elle benar-benar tidur sangat nyenyak sembari memeluk satu sama lain. Mereka bangun ketika malam tiba, dan mereka akhirnya pergi makan malam bersama, setelah itu kembali ke hotel, dan melakukan itu lagi, bahkan tengah malam, senja juga bukan masalah untuk mereka.


Tidak ada Elle yang terlihat sedih dan memiliki tatapan benci serta keinginan untuk balas dendam lagi, tidak ada Jarvis yang terlihat putus asa dan kehilangan arah seperti sebelumnya, mereka menghabiskan waktu untuk bersama dengan bahagia. Sarapan bersama, makan siang bersama, makan malam bersama, tidur bersama, melakukan banyak hal bersama, mendatangi tempat wisata bersama, pokoknya semua serba bersama.


" Kau sedang melihat apa? " Tanya Jarvis sembari melingkarkan lengannya memeluk pinggang Elle, mengecup kepalanya dengan lembut saat dia sudah dalam posisi memeluk dari belakang. Mereka kini tengah berada di balkon hotel, menatap ke arah luar dimana jalanan yang tengah di penuhi salju malam itu.


" Tidak ada, aku hanya merasa bahwa salju yang menumpuk di manapun terlihat sangat indah. " Elle tersenyum, menyenderkan kepalanya di dada Jarvis dan memejamkan mata menikmati aroma tubuh Jarvis yang sangat khas.


" Memang indah, tapi tidak bisa di bandingkan dengan mu saat tidak menggunakan pakaian. "


Elle terkekeh.


" Ini sudah tiga Minggu, kira-kira akan sampai kapan kita disini? "


Jarvis menghela nafas tapi dia tersenyum.


" Sampai kau bosan. "


" Kalau aku tidak bosan? "


" Tidak usah kembali, kita beli saja apartemen untuk kita tinggal. "


Bersambung.