Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 60 : Akibat Rakus



" Lihatlah betapa memalukannya dirimu, Jarvis. Setelah semua yang terjadi kau bersimpuh memohon untuk aku bertahan? Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri, kau sedang menjilat ludah mu sendiri, Jarvis. Kau pernah mendengar kalimat yang aku katakan saat kau menyiksaku bukan? Aku mengatakan bahwa saat kau menderita dengan penyesalan, kau sudah tidak berada lagi di hatiku, kau sudah sangat jauh hingga mengingat namaku saja aku sangat muak. " Elle menjauhkan kedua tangannya dari genggaman tangan Jarvis yang hanya diam bersimpuh dengan kalimat yang sama, aku salah, aku minta maaf, tolong beri kesempatan untuk bisa memperbaiki dan mengobati luka yang aku berikan.


" Aku tidak akan menyerah, apapun caranya aku akan sekuat tenaga mempertahankan pernikahan kita. Kau boleh membenciku, aku akan sehat tenaga berusaha mengembalikan rasa cintamu padaku. Atau kalau boleh kau juga tidak masalah tidak mencintai ku, cinta yang aku miliki cukup untuk kita berdua. "


Elle tersenyum dengan tatapan tak percaya, dia bangkit dan membiarkan Jarvis di sana.


" Jarvis, semenjak aku melihatmu dengan Vivian di malam pernikahan kita, aku sudah membulatkan tekad bahwa pria sepertimu tidak pantas untuk aku cintai, dan mulai dari malam itu juga, perlahan-lahan semua cintaku sudah kau bunuh dengan sadis.


Jarvis mengubah posisi nya, dia menatap pilu punggung Elle yang karena si pemilik sedang menatap ke arah jendela yang saat itu tirinya terbuka.


" Ayo kita bercerai, Jarvis. Aku akan mengatakan kepada keluargaku kalau kita bercerai karena ketidak cocokan yang sulit untuk mendapatkan jalan tengah. Bebaskan aku dan biarkan aku memilih jalan hidupku dan berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan yang aku inginkan. "


" Kau tidak perlu kemana pun, aku janji akan melakukan segala yang aku mampu agar kau bisa merasakan kebahagiaan. " Ujar Jarvis yang tentu saja tidak rela kala harus benar-benar berseri dengan Elle.


" Tidak, kau tidak bisa melakukan apapun. Kau sudah gagal dari awal, jadi berhentilah mencoba karena sulit mendapatkan hasil yang kau inginkan. " Elle mempertegas ucapannya tanpa berbalik dan lebih tertarik melihat ke luar.


" Maaf karena aku terlalu kukuh dalam hal ini, tapi aku tidak akan menyerah dan tidak akan pernah setuju untuk bercerai. "


***


Vivian kelimpungan sendiri karena semua masalah yang menghantam dirinya, Kelie si pelayan tidak tahu malu, tidak tahu diri itu maka terus mengancamnya dengan tidak berotak. Sial! Memang benar sial sekali karena Kelie justru memiliki bukti kebohongan terbesarnya yang akan membuatnya kehilangan kenyamanan yang ia miliki saat ini.


Dua miliar, itu adalah harga dari Kelie jika dia haus menutup mata dan mulut untuk bukti yang sangat penting itu. Tidak tahu beruntung, kebetulan, atau bagaimana tapi bukti yang di miliki Kelie seperti ya benar-benar bukan main karena jelas sekali kalau dia sudah melakukan kebohongan yang amat besar.


Tidak punya pilihan lain, akhirnya Vivian memutuskan untuk menjual semua perhiasan yang ia miliki, juga tas branded untuk menyelamatkan diri sementara waktu.


" Kelie, dasar kekayaan rendahan! Setelah ini aku benar-benar akan membunuh mu! " Kesal Vivian sembari mengeluarkan semua perhiasan yang dia punya, lalu beberapa buah tas nya.


Biarlah sekarang dia habis-habisan, toh demi masa depannya juga karena di masa nanti dia bisa membeli banyak perhiasan, tas, bahkan tidak menutup kemungkinan juga kalau pada akhirnya nanti dia akan mendapatkan semua warisan yang atas nama Jarvis.


Begitu keluar dari gerbang utama dengan terburu-buru, Vivian memberhentikan taksi karena semua mobil sedang tidak ada di rumah sekarang. Satu di bawa supir untuk mengantarkan pelayanan berbelanja kebutuhan dapur, satu di bawa Ibu Diana mengantarkan Vivian ke psikiater, satu lagi di bawa Jarvis dan belum juga pulang ke rumah padahal Vivian tahu benar Jarvis bebas hari ini.


Di dalam perjalanan menuju ke toko perhiasan untuk menjual perhiasan miliknya, tapi belum juga sampai di tempat itu taksi yang di tumpangi Vivian di hentikan oleh dua pria yang sepertinya sedang sangat ketakutan dan kesakitan. Sebua sepeda motor tergeletak di tengah jalanan dan mereka berdua menggerakkan tangan untuk meminta pertolongan. Begitu mereka mendapatkan kesempatan, dua pria itu dengan segera masuk ke dalam mobil menghampit Vivian dari dua sisi. Satu orang dari mereka mengancam supir taksi, dan satu lagi menodong Vivian menggunakan senjata tajam.


" Tolong! To- " Vivian tak lagi bisa melanjutkan apa yang dia katakan karena penjahat itu sudah lebih dulu menunjukan bahwa ancamannya tak main-main, dan itu dia buktikan dengan melukai lengan Vivian meski hanya luka ringan.


" Kau pikir kami hanya main-main hah?! Serahkan semua uangmu! "


Vivian menggeleng takut, sekarang dia benar-benar tidak memiliki apapun lagi selain harta yang dia bawa untuk membungkam mulut sialan Kelie yang rencananya akan dia binasakan sebentar lagi. Tapi kalau tidak menyerahkan harta itu dia pasti akan benar-benar mati di tangan perampok licik yang terus menatapnya dengan kejam, pisaunya bahkan terus dia tekan hingga membuat darah di area itu keluar.


" Ambillah separuh saja ya? Aku juga sangat membutuhkan uang ini untuk sesuatu yang amanat penting, jadi tolong berbelas kasih lah padaku. "


" Kau masih mau tawar menawar ya? Aku ingin semua! Kalau tidak, aku benar-benar tidak ragu-ragu menyayat wajahmu, merobek kulit yang menutupi urat nadi mu, ah! Kalau kau ingin merasakan keindahan dulu, kami juga siap menusuk mu dengan benda kami itu sebelum menusuk mu dengan pisau. "


Vivian semakin gemetar ketakutan, jujur saja kalau hanya di lecehkan dia masih bisa hidup dan berpura-pura tidak terjadi apapun, tapi kalau dia mati di tangan penjahat itu bukankah tidak ada artinya dia menahan segala perhiasan dan juga tas branded nya?


" Kalau begitu, ambil saja! Ambil saja semua yang kalian inginkan. Kantung hitam itu, semua ada di sana, ambil dan pergilah dari sini. " Ucap Vivian pasrah dengan suara dan tubuh yang masih gemetar hebat.


" Bagus sekali, jadi kami kan tidak perlu membunuh orang lagi seperti kemarin. " Pria itu tersenyum miring setelah mengatakan kalimat menyeramkan yang membuat Vivian membeku semakin ketakutan.


" Bagaimana ini? " Gimana Vivian saat dia perampok itu sudah pergi dengan semua barang berharga yang ia bawa tadi. Stres, benar-benar rasanya sangat stres karena sejarah dia harus memikirkan kemana mencari uang sebanyak itu?


Di sisi lain. Kelie tersenyum setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


" Itu salahmu sendiri, kau yang begitu rakus jadi aku hanya membalas sesuai saran Nona Elle, sekarang kau pasti kelimpungan mencari kemana uang sebanyak itu bukan? Untung saja akting dua orang itu sangat keren. "


Bersambung.