
" Andai saja luka ini tidak begitu dalam, aku mungkin masih bisa luluh dan dengan bodohnya akan terus mengharapkan cintamu. Ini terlalu menyakitkan sampai aku ingin berbuat kriminal setiap waktu. "
Elle masih terdiam tak bisa sedetikpun menutup matanya, sungguh ini sangat menyiksa karena dia sama sekali tak merasakan damai barang sedetikpun. Elle bangkit dan berdiri setelah membuka penutup jendela kamarnya, dia menatap ke arah luar berharap rasa kantuk akan dia rasakan nanti jika terus menatap langit malam.
" Sepertinya aku sudah berada di tahap mulai sakit mental, aku tidak bisa kalau seperti ini terus. " Elle membuang nafasnya, sekarang dia benar-benar tenang dulu, jadi besok Elle memutuskan untuk pergi ke tempat lain sampai dia tenang barulah dia akan kembali nanti agar dapat melanjutkan rencananya.
***
Vivian terdiam tak berdaya sembari menangis pilu, sudah semalaman dia mencoba untuk masuk ke kamar Jarvis, tapi karena tak mendapatkan respon dari Jarvis, dia mencoba menghubungi, mengirim pesan juga. Masih tak mendapatkan respon juga, akhirnya Vivian memberanikan diri untuk mengetuk terus pintu kamar Jarvis dan yang ia dapat adalah wajah dingin Jarvis, rahangnya yang mengeras memperjelas bagaimana tidak sukanya Jarvis atas tindakan Vivian kala itu.
" Jangan menggangguku, kau sudah sering mendengar ini bukan? Telinga mu juga tidak mengalami masalah pendengaran, jadi jangan bersikap seolah kau adalah orang yang tuli. "
Begitulah ucapan Jarvis begitu dia membuka pintu, dan mengetahui jika yang terus mengetuk pintunya adalah Vivian. Jujur saja Vivian merasa takut dan ingin segera pergi dari sana, tapi mengingat jarak mereka yang semakin jauh, Vivian akhirnya memberanikan diri untuk mencoba merayu Jarvis. Vivian yang memang selalu menggunakan dress tidur yang tipis dan agak terbuka bagian belahan dadanya, sengaja mendekatkan diri dengan Jarvis, memeluknya erat, bahkan juga membawa lengan Jarvis untuk menyentuh bagian dadanya.
Tergoda? Tidak! Jarvis benar-benar tidak tergoda, dia justru muak karena semua yang terjadi ini selalu membuat kepala sakit setiap waktu.
" Enyahlah! Aku muak! " Jarvis menarik lengannya, masuk ke dalam kamar, lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Jarvis mengusap wajahnya dengan kasar, lali duduk di pinggiran tempat tidur. Bohong sekali kalau dia baik-baik saja setelah kebenaran terungkap, dia pun stres dengan banyak hal yang terjadi. Di tambah dia minat adanya potensi untuk Bryant fan juga Elle, sekarang di tambah Johan mulai mendekati Elle entah apa maksudnya.
Di sisi lain, Ibu Diana kini tengah terduduk diam sembari menunggu Wendy yang kini tengah tertidur pulas. Pikirannya tentu saja sedang tidak baik-baik saja setelah Jarvis memberikan semua batang bukti tengah Fredon dan juga kematiannya yang sangat mengejutkan. Padahal dia sudah menumpahkan kemarahannya, kebenciannya untuk Elle, tapi nyatanya Elle malah bukan siapapun yang bisa di salahkan, sialnya Elle justru akan di jadikan bahan taruhan oleh putra yang selama ini dia ketahui begitu pengertian, rajin, sopan, baik, manja, juga selalu terlihat naif dan manis. Ingin sekali kembali menyangkal semua ucapan Jarvis tapi kenyataannya malah semua bukti menjelaskan betapa brengseknya seorang Fredon. Tapi meski begitu, Fredon tetaplah anak nya sehingga membenci pun tidak sanggup ia lakukan. Tidak, dia lupa kalau selama ini dia juga memiliki rasa benci kepada Jarvis. Bukan kebencian sampai ingin membunuh dan menyakiti, hanya saja dia benci setiap kali melihat Jarvis yang begitu angkuh dan dingin yang selalu mengingatkan Ibu Diana dengan Ayahnya Jarvis. Mirip, bahkan benar-benar sangat mirip dari wajah juga sikap dalam kesehariannya.
" Kenapa harus kau yang mengalami semua ini sayang? Kenapa? apakah karena kau frustasi dengan Ayahmu sehingga kau yang manis dan naif memilih menjadi pria seperti itu? "
Jarvis yang saat itu suntuk karena pemikirannya yang selalu kacau, akhirnya memutuskan untuk melihat bagaimana keadaan Wendy, tapi tidak di sangka kalau dia akan mendengar ucapan Ibunya dengan nada yang begitu pilu.
" Apakah Ibu berharap yang brengsek dan mati adalah aku? "
" Jangan mengganggu adikmu! "
Jarvis tersenyum Kelu.
" Ibu selalu menunjukan sikap tidak adil setiap kali berbicara padaku, Ibu jelas menunjukkan bahwa tidak menyukaiku. Jika aku yang mati dan bukan Fredon apa Ibu akan merasa lega? Ah, ataukah jika aku yang berada di posisi Wendy Ibu akan mengurusku seperti ini? "
Ibu Diana terdiam tak menjawab.
" Baiklah, aku sudah paham dengan jawabannya. Ibu, aku tahu wajahku mirip dengan Ayah, aku juga memiliki sifat yang dingin seperti Ayah, hanya saja satu yang aku tidak miliki dan tidak Ayahku turun kan pada ku, sifat Ayah yang suka menyelingkuhi pasangannya. Aku tahu dan bisa merasakan bagaimana Ibu tidak menyukai ku, karena setiap kali Ibu menatapku Ibu akan terlihat kesal. Aku bisa mengerti bagaimana pun aku adalah anak yang paling di sayangi oleh Ayah. Tapi tidakkah ini semua adil? Fredon tumbuh menjadi putra seperti yang Ibu inginkan, hanya saja dia mengambil sifat Ayah yang menyukai gadis-gadis cantik. "
" Diam kau, Jarvis! "
Jarvis tersenyum dan menggelengkan kepalanya tak percaya jika sampai sekarang pun Jarvis masih berada di pihak yang salah apapun keadaannya.
" Ibu, terakhir aku bertemu Ayah, dia menceritakan banyak hal tentang kenapa dia begitu memburu gadis-gadis cantik dan memilih terus mengkhianati Ibu. Dia bilang bahwa, Ibu selalu menatapnya dengan maksud merendahkan, Ibu merendahkan semua usahanya, Ibu merendahkan latar belakangnya, Ibu merendahkan apa yang dia berikan kepada Ibu. Dia ingin Ibu melihat bahwa, selain Ibu masih banyak wanita yang menginginkan dia, Ibu sendiri pasti tahu kan kalau Ayah sama sekali tidak menggunakan apapun dari pihak Ibu? Dia berdiri di atas kakinya sendiri dan tidak ada satu pun orang luar yang tahu bahwa Ayahku adalah anak dari seorang konglomerat. Jadi, kebencian Ibu itu seharusnya tidak usah Ibu hayati karena kebencian Ibu itu di kandaskan oleh hal yang tidak jelas. "
Ibu Diana terdiam dengan kemarahan yang sialnya tak bisa dia gunakan untuk membantah semua ucapan Jarvis. Tepat, memang seperti itulah kenyatannya selama ini, tapi bagi Ibu Diana cara yang di gunakan Ayahnya Jarvis tetaplah salah dan tidak patut untuk di maklumi.
" Apakan masalah di antara kami, kau sebagai anak tidak perlu ikut campur. Masalah itu juga sudah lama jadi tidak perlu di ungkit lagi. "
Jarvis mengangguk paham.
" Baiklah, kalau begitu yang Ibu inginkan. Entah semua ucapanku akan mengubah cara Ibu menatapku atau tidak, aku sudah tidak terlalu memperdulikannya lagi. "
Bersambung.