Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 78 : Melihatmu Bahagia



Jarvis terdiam di ujung ruangan, matanya terus menatap Elle dan bibirnya tersenyum tipis meski hatinya sangat sedih dengan keputusan yang harus dia ambil. Tidak, dia juga bahagia dengan kembalinya Elle, dia bahagia sekali karena sekarang Elle bisa menjawab pertanyaan dengan mudah meksipun suaranya masih terdengar lemah. Sebentar Jarvis menghela nafas, dulu bahkan saat dia membenci sekaligus mencintai Elle, dia sama sekali tidak memikirkan soal perceraian, sekarang saat hatinya hanya fokus dengan perasaan cinta, dia justru harus melepaskan Elle.


Benar, hidup memang tak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Sekuat apapun dia menggenggam Elle untuk tidak melepaskannya, yang terluka bahkan bukan cuma Elle saja, tapi hatinya juga terluka karena harus menyaksikan kesedihan dari wajah wanita yang dia cintai.


Elle tak banyak bicara, dia hanya menjawab beberapa pertanyaan dari Dokter mengenai apa yang dia rasakan saja. Tapi anehnya dia malah seperti tak karuan rasanya, beberapa saat lalu, di saat dia berada di dalam pengaruh hipnotis, dia dengan jelas bisa mendengar suara adiknya memohon untuk dia kembali, lalu Ayahnya juga melakukan ha yang sama. Waktu itu Elle berpikir seperti ini, untuk apa dia kembali ke tempat di mana dia hanya akan terus berpura-pura dan terus membuang energi untuk mengais? Bukankah tempat yang sunyi, gelap, pengap itu bisa memberikan ketenangan dan dia tidak perlu berpura-pura atau juga menangis? Kenapa tempat yang seperti itu tak di anggap menarik? Di banding merasakan ramainya tempat lain, tentu saja di sana akan terasa lebih damai.


Elle mengabaikan semua suara yang meminta nya untuk pergi, tapi hatinya yang hancur, remuk dan lagi berbentuk itu sudah sangat membuatnya tak memiliki kekuatan. Dia tidak ingin menjadi monster, dia tidak ingin membiarkan hatinya terus mendendam, jadi untuk mencegah semua itu, Elle memutuskan untuk mengabdikan semua suara yang datang padanya. Dia ingin tetap berada di tempat yang tenang dan gelap agar tidak perlu melihat orang-orang yang dia benci dan kembali memiliki niat untuk melakukan perbuatan jahat.


Tapi, begitu mendengar suara Jarvis entah mengapa dia merasakan benar perubahan besar di dalam perasaannya. Dia seperti tersentak dan tersadar jika dia harus mendengarkan baik-baik ucapan Jarvis. Kalimat demi kalimat dengan seksama Elle dengarkan, dia juga mendengar suara Jarvis yang bergetar seperti menahan tangis, kalimat yang menuntut seperti orang yang putus asa karena takut kehilangan dirinya.


Elle menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah Jarvis berada. Dia terdiam tanpa kata, tatapan matanya juga tak menunjukkan ekspresi apapun. Di tatapnya sebentar Jarvis yang tengah tertunduk, dan tentu saja Elle tidak dapat melihat bagiamana ekspresi Jarvis kala itu.


Beberapa saat kemudian.


Dokter menyerahkan semua resep obat-obatan, berikut vitamin untuk di konsumsi selama masa pemulihan berlangsung. Dia juga sudah menitipkan pesan bagiamana merasa Elle, dan bagaimana cara mengatasi stres dan panik yang datang tiba-tiba, Dokter juga masih akan datang untuk memeriksa dan memastikan jika Elle sudah benar-benar membaik.


" Saya akan membawa anak saya pulang ke rumah, jika anda bersedia datang saya akan sangat bersyukur, tapi jika tidak, biarkan saya dan anak saya datang ke tempat praktek anda, Dokter. " Ucap Ayahnya Elle dan Penelope yang membuat Bryant serta Penelope tersenyum dan mengangguk setuju. Sementara Jarvis, pria itu tak mengatakan apapun, meski rasanya sangat sakit harus berpisah dengan Elle, tapi jika itu dapat mendukung Kesembuhan, apalagi mengembalikan keceriaan Elle, maka mati pun akan dia terima dengan tenang.


Dokter itu menoleh menatap Jarvis yang terdiam tak terlihat ingin menanggapi ucapan Ayah mertuanya itu.


" Tuan Jarvis? "


Jarvis menoleh menatap Dokter itu lalu mengangguk dengan bibir yang sedikit tertarik membentuk senyuman.


" Datang lah ke alamatnya, pastikan tidak pernah telat. "


Dokter itu dengan tatapan mata yang tak biasa mengangguk tanpa kata. Lagi, dia harus melihat penderitaan, kesedihan yang begitu besar dan dalam dari tatapan mata Jarvis, senyum untuk menutupi perasaan sedih tentu saja tak dapat membohonginya. Di dalam hati Dokter itu membatin pilu, lagi-lagi harus melihat perasaan pasrah tak berdaya, putus asa dan seakan lagi mengatakan kepada dirinya bahwa dia/Jarvis adalah sumber masalah.


Elle, dia hanya bisa diam menatap Jarvis yang sama sekali tak menatapnya. Kenapa? Hanya itu yang membuat Elle merasa bingung, kenapa begitu mudah untuk Jarvis mengizinkan Elle tinggal di rumah Ayahnya lagi? Apakah ada maksud tersembunyi? Apakah ada yang ingin di lakukan Jarvis dengan membiarkan Elle tinggal di rumah Ayahnya?


" Kalau boleh saya tahu, berapa hari Daris sekarang anda akan datang memeriksa keadaan putri saya? " Tanya Ayahnya Elle.


" Tiga hari dari sekarang, selanjutnya juga akan begitu sampai keadaan putri anda benar-benar aman. "


Dokter itu tersenyum dengan sopan.


" Tuan Jarvis adalah orang yang dekat dengan saya, dia juga salah satu orang yang sangat penting untuk saya, karena Nona Grizelle adalah istri Tuan Jarvis, maka Nona Grizelle, juga akan menjadi prioritas untuk saya. "


Ayahnya Elle menatap ke arah Jarvis yang masih tak menunjukkan ekspresi apapun, tatapan matanya terlihat datar membuat Ayahnya Elle, Penelope bahkan Bryant juga merasa bingung.


" Karena sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, saya undur diri untuk kembali ke rumah sakit. " Dokter itu menatap teman yang juga Dokter dengan maksud untuk mengajak pergi.


Setelah kepergian dua dokter itu, Ayahnya Elle menatap Penelope untuk mengajaknya segera meninggalkan rumah itu.


" Elle, ayo nak. " Ayahnya Elle sudah menyodorkan tangannya, tapi Jarvis segera menghentikan karena ada hal yang ingin dia katakan kepada Elle sebelum Elle meninggalkan rumah.


" Tunggu! " Ucap Jarvis.


" Jangan melarang kami membawa kakak! " Ucap Penelope yang merasa takut kalau Jarvis akan mencegah mereka membawa Elle, padahal saat ada Dokter tadi sikapnya seolah tak keberatan.


" Bukan, hanya tolong berikan sedikit saja waktu untuk ku bicara dengan Elle. "


Penelope menatap Ayahnya meminta pendapat melalui tatapan matanya.


" Baiklah, tapi aku harap kau tidak mengancam Elle dan memintanya untuk tetap tinggal. " Ucap Ayahnya Elle yang segera di angguki setuju oleh Jarvis.


Setelah beberapa saat, kini hanya tinggal Elle dan Jarvis saja di sana.


Jarvis tersenyum meski matanya tak menunjukan kebahagiaan. Dia bangkit, laku berjalan dan bersimpuh dengan satu lutut menahan tubuhnya tepat di hadapan Elle. Dia mengeluarkan sesuatu, sebuah kalung yang sudah di gunakan Jarvis entah sejak kapan. Jarvis menarik keluar kalung itu, dan rupanya ada dua cincin yang adalah cincin pernikahan mereka. Jarvis meraih tangan Elle, meletakkan kalung berserta dua cincin yang tergantung sebagai liontin.


" Aku tidak mampu menyimpannya lagi, juga tidak sanggup untuk membuangnya. Tolong, bantu aku menyingkirkan cincin pernikahan kita. " Jarvis menaikkan tatapannya menatap Elle yang masih diam tak berkata apapun.


" Berbahagialah Elle, temukan pria yang dapat memperlakukan mu dengan lembut, biarkan aku melihat mu bahagia. "


Bersambung.