
Jarvis terdiam menahan kesal karena sedari tadi dia terus mencuri pandang kepada Elle, tapi Elle sedetikpun tak terlihat menatap ke arahnya. Jujur saja, perubahan sikap Elle yang jauh lebih tenang seperti sekarang justru membuat Jarvis gelisah, dan Jarvis juga jadi terus mengingat masa dimana mereka dekat belum menikah. Kala itu Elle selalu nampak bahagia, dia sellau tersenyum Setipa kali Jarvis menatap ke arahnya, pandangannya penuh cinta, dia juga nampak tulus setiap kali berucap. Kalau dipikirkan lagi, sepertinya semua memang berubah seperti harapan Jarvis, tapi anehnya kenapa sampai detik ini semua tidak terasa memuaskan seperti keinginanya?
" Sayang, makan yang banyak ya? Aku dengar hari ini kau ada jadwal ke kantor cabang? Jam berapa pulang, nanti aku akan menunggumu sampai pulang. " Jarvis membiarkan saja Vivian bergelayut manja padanya, tujuannya hanyalah untuk melihat bagiamana ekspresi Elle. Begitu memperhatikan wajah Elle, Jarvis mengeraskan rahangnya, dia membuang nafas dan bangkit dari meja makan dengan perasaan kesal. Kesal? Iya! benar-benar kesal karena ternyata Elle sama sekali tidak perduli dengan kemesraan yang di lakukan Vivian. Apakah benar Elle sudah tidak memiliki perasaan cinta lagi untuknya? Bukankah seharusnya dia menyukai kenyataan ini? Tapi sial sekali, dia justru malah merasa kesal sendiri.
" Sayang! "
Vivian yang terkejut dengan sikap Jarvis segera ikut bangkit dari duduknya, dia mengikuti Jarvis yang berjalan cepat menuju kamarnya. Tidak tahu apakah Jarvis mendengar Vivian terus memanggil namanya atau tidak, tapi Jarvis terus saja berjalan dan begitu sampai di kamar dia langsung menutup pintu kamarnya membuat Vivian semakin terkejut bukan main.
" Brengsek! Kenapa sebenarnya aku jadi begini?! " Jarvis meninju dinding kamarnya dengan perasaan kesal. Masa bodoh dengan punggung tangannya yang terluka dan berdarah, dia benar-benar hanya fokus dengan perasaan kesal yang begitu menguasai hatinya. Sebentar Jarvis mencoba menenangkan diri, lalu dia kembali ke luar kamar untuk menuju ke kamar mendiang Fredon.
" Sayang! " Jarvis membuang nafas kasarnya dengan wajah dingin. Sungguh dia ingin sendiri, tapi kenapa Vivian begitu ingin menempel padanya? Padahal sedari dulu sudah sering di ingatkan untuk jangan menempel saat dia tidak mengizinkannya.
" Pergilah, jangan mendekatiku aku sedang ingin sendiri. "
" Tapi, "
Ogah mendengar bantahan Vivian yang akan membuatnya kembali emosi, Jarvis segera berjalan meninggalkan Vivian dan dengan cepat masuk ke dalam kamar Fredon.
Jarvis menatap ruang yang begitu sepi itu. Momen lama kembali teringat olehnya, Fredon benar-benar akan melakukan apa yang dia sukai di dalam kamarnya itu. Bermain game, memainkan gitar listrik, dia juga sangat menyukai sosial chat bersama dengan kenalannya. Fredon, di banding Wendy Jarvis memang paling dekat dengannya karena Fredon sama-sama pria sepertinya. Banyak hal yang mereka sama-sama sukai, mulai dari permainan kriket, beberapa permainan klasik, juga bermain catur. Memang benar, di usia yang masih muda Fredon sudah mulai meminum alkohol, tapi biar demikian menurut Jarvis Fredon adalah adik laki-laki yang sangat baik, penurut, dan juga manis.
" Fredon, bagaimana kakak bisa menjalani ini semua? Awalnya kakak pikir semua akan berjalan lancar seperti yang kakak inginkan. Kakak ingin membalas perempuan yah sudah menyakitimu, tapi kenapa kakak justru menderita sendiri? "
Jarvis mengusap photo Fredon yang tergantung di dinding. Photo itu, di ambil dia hari sebelum kematiannya Fredon, photo yang di ambil oleh Jarvis sendiri secara tidak Sengaja saat Fredon bersama Wendy serta Ibunya tengah berbincang di taman belakang rumah mereka.
" Baiklah, kakak akan mengaku padamu, kakak jatuh cinta bahkan saat pertama kali bertemu dengan Elle. Kakak menyukai senyumnya, tatapan matanya, kakak menyukai pelukannya yang hangat, kakak suka dia yang cerewet dan kadang juga bersikap malu-malu. Tapi setiap kali mengingat kau pergi meninggalkan kami dengan cara yang begitu tragis, serta buu catatanmu itu, kakak juga membencinya bersamaan dengan mencintainya. Jadi harus bagaimana? Kakak sudah berbuat sejauh ini, menyeret wanita yang tidak ada hubungannya untuk memberikan rasa sakit kepada Elle, juga sudah, tapi kenapa rasanya tidak memuaskan? Kenapa kakak juga terluka? "
Seluruh tubuh Jarvis gemetar mengingat hari dimana pihak polisi menghubunginya, dia pikir semua adalah kebohongan, tapi saat tubuh Fredon di angkat ke permukaan sudah dalam keadaan tak bernyawa, Jarvis benar-benar seperti kehilangan separuh hidupnya. Masih tidak ingin percaya, tapi tubuh Fredon yang pucat dan dingin karena tak lagi bernyawa sudah cukup jelas menunjukan semua itu adalah kenyataan.
Ketika Polisi memberikan tas milik Fredon, dia membuka semua isi tas itu setelah Fredon di semayamkan. Kematian Fredon memang Jarvis coba menutup semua akses untuk di beritakan demi menjaga perasaan Ibunya, juga keluarga yang masih sangat tertekan. Catatan itu menjelaskan cara untuk mengakui perasaan kepada wanita, dan di silang dengan keterangan gagal!, Ada banyak sekali catatan untuk menyatakan perasaan dan rupanya masih gagal. Di lembaran terakhir adalah catatan kalimat yang mungkin akan Fredon gunakan untuk kembali menyatakan perasaan, hari itu adalah hari kelulusan, dan hari itu juga Fredon lompat ke dalam air. Jarvis menyimpulkan jika hati itu juga Fredon di tolak oleh Elle sehingga memutuskan untuk bunuh diri saja. Awalnya Jarvis tidak ingin menunjukan catatan itu kepada Ibunya, tapi entah mengapa juga pada akhirnya catatan Fredon sampai ke tangan Ibunya, lalu jadilah kesepakatan untuk membalas dendam dengan membawa Elle masuk ke dalam rumahnya, lalu menyiksa Elle untuk menggantikan penderitaan Fredon.
***
Elle terdiam begitu masuk ke dalam kamar, dia menatap dinding kosong dengan segala pemikirannya.
" Tidak apa-apa, Elle. Kau sudah memutuskan maka kau haus bertahan sampai akhir. Lebih baik mati saat berjuang melawan dari pada lari seperti pengecut tanpa keberanian. "
Elle bangkit dari duduknya, dia meraih ponselnya untuk membalas pesan yang dikirimkan Bryant pagi tadi. Baru beberapa kata dan Elle menghentikan jemarinya dan memutuskan untuk menghubunginya saja.
Halo, Elle?
" Maaf mengganggumu, apa aku bisa bicara sebentar? "
Tentu saja, aku justru senang mendengar suaramu.
Elle tak berekspresi, sementara Bryant, wajahnya benar-benar merona merah hanya karena mendengar suara Elle.
" Bisakah kita bertemu besok? Aku ingin memulainya besok. "
Oke! Ngomong-ngomong, kita kan akan mulai menumbuhkan kecurigaan, jadi aku akan berusaha sebaik mungkin dengan penampilan terbaikku.
" Tidak, tidak perlu! "
Eh, kenapa?
" Aku akan datang dengan baju pelayan, jadi mari kita buat pertemuan kita seperti pertemuan yang tidak sengaja. "
Bersambung.