Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 36 : Mati Setelah Menghancurkan



Elle tersenyum miring saat melihat Vivian sudah berdiri di hadapannya. Dia terlihat sangat marah, dan juga frustasi. Seperti yang Elle inginkan, memanfaatkan Vivian, tapi juga menghancurkan Vivian. Menarik ulur perasaan Jarvis, membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri, menguras energi Jarvis untuk cemburu kepada Bryant, dan juga Johan. Ya, Elle pun akan menggunakan Johan sebaik mungkin dan tidak akan melewatkan kesempatan baik yang datang padanya. Biarlah dia hancur, biarlah dia kehilangan harga diri, bahkan mati pun dia juga tidak akan mempermasalahkan asalkan bisa mati setelah menghancurkan mereka semua. Jarvis yang kejam dan membingungkan, Vivian yang tidak punya otak serta perasaan, Johan yang memiliki niat melecehkan, Wendy yang egois dan arogan, serta Ibu mertua yang menambah luka dan memperlebar jalan untuknya tersiksa. Semua orang itu, harus remuk dan hancur barulah Elle bisa mati dengan tenang.


" Akhirnya ada juga orang yang bisa masuk ke sini. " Ucap Elle kepada Vivian yang sedari tadi menatap Elle dengan tatapan yang sudah jelas menggambarkan terjadi pertengkaran antara Jarvis dan Vivian sehingga Vivian nampak marah, dan tertekan.


Vivian membuang pandangannya, sebenarnya dia sendiri juga ogah datang kesana kalau tidak karena terpaksa. Kali ini dia membawa makanan untuk Elle, juga buah, tapi sebenarnya dia memiliki alasan lain yaitu, Vivian ingin membicarakan semua masalah tentang keinginan Elle untuk bisa lebih sering menemui pria yang Elle sukai. Karena Vivian mulai yakin dengan cara itulah Jarvis akan merasa muak dengan Elle lalu segera menendang Elle keluar dari rumah.


" Aku akan lebih sering membantumu keluar rumah. Aku hanya ingin mengatakan itu agar kau tidak perlu takut kedepannya, aku akan tetap membantumu, tapi dengan catatan kau hanya boleh menanggung resikonya sendiri dan jangan membawa namaku kalau sampai kau ketahuan lagi. "


" Tentu saja, kita adalah partner sekarang. "


Bodohnya, kau pikir Jarvis semudah itu di bohongi? Vivian, kau terlalu buta oleh cintamu itu, ah! Sebenarnya kau lebih tepatnya gila kenyamanan serta harta, tapi sungguh aku berterimakasih akan kebutaanmu itu. Tetaplah buta sampai akhir, karena dengan begitu kau akan memiliki akhir yang dapat membuatku tertawa jahat nantinya.


Elle tersenyum tipis, sungguh semua berjalan sesuai harapannya. Meksipun tetap pada akhirnya dia harus melukai diri sendiri, asalkan dia bisa melanjutkan rencananya semua luka yang ia terima karena perjuangan ini akan dia anggap sebagai sebuah bekas luka untuk dia tunjukan kepada semua orang yang menyakitinya bahwa luka yang ia terima akan Elle ingat bahkan sampai di neraka sekalipun.


" Aku harus pergi, aku tidak boleh lama-lama berada di sini karena Jarvis pasti akan marah padaku lagi nanti. " Vivian sudah bangkit karena dia tidak bisa berlama-lama disana. Tadi dia benar-benar sampai memohon kepada penjaga yang berjaga di sana, dan sudah memberikan janji untuk tidak menyentuh Elle sedikitpun. Penjaga di sana merasa tidak enak karena bagaimanapun Vivian adalah Nyonya mereka jadi mereka hanya bisa pasrah dan mengizinkan sebentar saja.


" Ah, aku ingin memberikan saran untukmu, Vivian. "


Vivian menentukan langkahnya, lalu berbalik untuk menatap Elle.


" Apa? "


" Menjauhlah sedikit dari Jarvis, dia pria yang mudah bosan. Kalau kau menempel terus, yang ada dia akan bosan dan muak terhadapmu. "


Vivian sebenarnya kesal sekali mendengar kalimat itu, tapi setelah di pikirkan kembali bahwa apa yang di ucapkan Elle ada benarnya, maka dia hanya bisa diam dan akan mengikuti ucapan Elle barusan. Biarlah dia agak menjauh dulu dari Jarvis, semoga saja dengan begitu Jarvis akan mulai mendekat padanya karena memiliki perasaan rindu.


" Bodoh! " Gumam Elle saat Vivian keluar dari ruangannya, lalu tersenyum licik.


***


Sekembalinya dari menemui Bryant, sebenarnya Jarvis ingin langsung menemui Elle, tapi karena dia tidak ingin membawa virus dan kuman yang akan membuat Elle semakin sakit, Jarvis akhirnya memutuskan untuk pulang dulu kerumah dan membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dari kamar, niatnya tentu saja ingin ke rumah sakit. Tapi, saat dia tak Sengaja melihat kamar mendiang adiknya, Jarvis jadi tertarik untuk sebentar pergi kesana dan melihat apakah ada perubahan di kamar itu atau tidak.


Tidak ada, tapi anehnya Jarvis malah ingin masuk ke dalam kamar dan duduk di sana sebentar. Mungkin karena perasaan rindu kepada Fredo sehingga dia ingin berada lebih lama di sana. Jarvis berjalan untuk minat buku-buku yang ada di kamar adiknya itu, tida banyak memang kalau buku pelajaran, itu semua karena Fredo sangat suka membaca komik, juga majalah. Tak sengaja mengandung sovenir berupa sepeda kecil, Jarvis hampir saja terjadi kalau saja tangannya tidak menyentuh pinggiran rak buku. Tapi siapa sangka kejadian tidak sengaja itu membuat Jarvis bisa melihat ruang rahasia milik adiknya. Sama seperti Jarvis yang tuang kerjanya berada di dalam kamar dan hanya dia sendiri yang tahu bagaimana caranya masuk ke dalam sana, kamar Fredo juga memiliki ruang rahasia.


Jarvis perlahan mask ke dalam ruangan yang masih gelap itu, dia mengunakan ponsel untuk menyalakan lampunya, barulah setelah itu Jarvis memasukkan kembali ponsel ke sakunya.


" Benar-benar anak muda. " Ujar Jarvis saat minat banyak sekali robot-robot berukuran kecil, sedang yang jumlahnya ribuan. Ada juga sepasang meja dan bangku yang Fredo gunakan untuk merakit robot. Jarvis tersenyum lalu perlahan menarik kursi itu dan duduk di sana. Benar-benar dia merasa seperti sedang berada di dekat Fredo, dan perasaan itu cukup membuat Jarvis merasa senang serta sedih sekaligus.


Jarvis mengedarkan pandangan melihat bentuk meja yang sepertinya memiliki banyak tempat penyimpanan. Entah dorongan dari mana Jarvis mulai membuka satu persatu laci itu, ada beberapa robot yang belum di rakit, lalu saat ada laci yang paling bawah, Jarvis menemukan satu handycam. Masih ada baterainya sedikit, jadi Jarvis memutuskan untuk melihat video apa saja yang ada di sana.


" Hai? Hari ini misi gagal, tapi aku masih belum menyerah, aku akan tetap berusaha sampai memenangkan- "


Jarvis mengeryit karena handycam itu tiba-tiba mati saat kamera mengarah ke beberapa teman Fredo di sana. Kalau di lihat dari seragam sekolah yang mereka gunakan, jelas itu ada di jam sekolah.


" Ah, baterai nya habis? "


Jarvis membongkar isi laci untuk mencari pengecas dan mulai mengisi baterai handycam milik Fredon.


" Dia ini sedang membicarakan misi apa? " Gumam Jarvis sembari menunggu handycam menyala kembali. Tapi dia tidak bisa lebih lama berada di sana karena teleponnya berdering, seorang penjaga di rumah sakit mengatakan jika Bryant ingin masuk dan sudah memukul dua penjaga di sana.


Bersambung.