
Nyonya Vivian, saya memiliki semua bukti dari semua ucapan saya. Boleh saja anda tidak percaya dengan ucapan saya jika saya memiliki bukti, Anda boleh saja terus mengusik saya, dan mari kita lihat apakah saya bohong atau tidak. Ingat satu hal ini, Nyonya. Saya sudah menyimpan semua bukti yang saya punya kepada seseorang, jadi jika terjadi sesuatu kepada saya ataupun keluarga saya karena ulah anda, maka bukti itu akan sampai ke tangan Tuan Jarvis tanpa sepengetahuan anda.
Seperti itulah barisan kalimat yang dikirimkan Kelie berupa pesan teks kepada Vivian. Tentu saja itu semua atas perintah Elle, jadi Kelie mengirimkan pesan itu tanpa merasa takut sama sekali karena kepercayaannya kepada Elle meningkat pesat saat Elle begitu banyak melakukan tindakan agar dia bisa selamat.
" Sialan! Bagaimana ini?! Bagaimana dan aku harus melakukan apa? "
Vivian menjauhkan ponsel dari tangannya Setelah membaca pesan yang di kirimkan padanya. Wendy sudah menanyakan perihal uangnya, sedangkan Ibu Diana masih aman karena belum menanyakan uangnya. Tapi akan sampai kapan dia seperti ini? Padahal sebelumnya hidupnya baik-baik saja dan dalam keadaan aman. Jika masalah uang ini tidak segera dia selesaikan cepat atau lambat pasti Jarvis akan mengetahuinya.
" Tidak, ini tidak boleh begini! Aku belum memiliki alasan dan cara untuk mengelak dari kebohongan jadi harus bisa menundanya sampai aku memiliki solusinya. "
Vivian mondar mandir kebingungan. Bukan hanya makan malam saja yang sudah dia lewatkan, bahkan sarapan pagi dan makan siang juga tak ia lakukan karena pikiran yang rumit itu.
Di dapur rumah.
Hari ini Elle mendapatkan kesempatan untuk keluar dari rumah, dan itu berkat salah satu pelayan yang biasa pergi berbelanja bersama Eliza sedang sakit. Yah, meksipun ini hanya perjalanan untuk pergi ke super market saja setidaknya Elle bisa menggunakan kesempatan yang sulit sekali dia dapatkan sebaik mungkin.
" Nona Elle, nanti tolong ingatkan aku kalau ada yang terlewat saat mengambil bahan makanan yang ada di list ya? "
Elle tersenyum dan mengangguk.
" Tenang saja, aku akan berusaha semaksimal mungkin. "
Setelah beberapa saat, Elle dan juga Eliza sudah berada di salah satu pusat belanja dan mereka juga tengah membeli banyak sekali keperluan dapur.
" Eliza, aku ke ujung untuk membeli pembalut ya? Kau tunggu disini sebentar saja ya? "
" Iya. " Ucap Eliza setelah dia mengangguk setuju.
Elle dengan segera menjalankan kakinya cepat karena tidak enak juga kalau Eliza harus menunggu lama. Tapi belum lama dia berjalan langkah kakinya terhenti saat ada suara seorang pria memanggil namanya.
" Elle? "
Elle mengeryit menatap sosok pria yang pernah ia temui saat itu, dan dia adalah Bryant. Pria itu tersenyum, dan entah mengapa wajah hangat dan ramah seperti itu memang cocok untuknya. Hanya saja sangat di sayangkan sekali, wajah itu membuat Elle mengingat saat pertama kali bertemu Jarvis, jadi kesannya terhadap Bryant jadi buruk.
" Seperti jodoh saja, di tempat seperti ini pun kita bisa tidak sengaja bertemu ya? " Ucapnya lalu kembali tersenyum.
Elle memaksakan senyumnya, bagaimanapun dia ingat benar kalau Bryant adalah orang yang sudah membantu merawat lukanya saat Wendy menusuk telapak tangannya menggunakan Putung rokok.
" Bagaimana keadaanmu? "
Bryant membuang nafasnya dengan wajah yang masih terasa ramah dan hangat.
" Aku baru tahu kalau kau adalah istrinya Jarvis. Sebenarnya aku agak terkejut karena Jarvis sama sekali tidak menceritakan itu kepada siapapun. Bahkan aku juga baru tahu kalau dia menikahi Vivian juga. CK! Sayang sekali. "
Elle tadinya malas membahas soal itu, tapi mengingat betapa Wendy menyukai Bryant dan juga betapa tidak sukanya Jarvis saat dia dan Bryant berbincang, maka Elle hanya bisa membuang jauh harga dirinya, membiarkan Bryant merasa iba padanya agar dia bisa menjalankan beberapa rencana yang pasti bisa memberikan pukulan kepada Wendy dan Jarvis.
" Aku dinikahi haha untuk di siksa, mungkin mereka menyukai penyiksaan jadi memilih istri kedua sepertiku. Aku tidak berdaya, itulah kenapa aku dipilih untuk menjadi istrinya. Biarpun aku ingin lari nyatanya aku tidak bisa lari, aku tidak bisa pergi dan hidup bebas begitu saja setelah yang mereka lakukan padaku. " Elle mengangkat kedua kain yang menutup penuh kedua lengannya dan menunjukan kain perban yang masih menempel di sana.
" Beberapa waktu lalu Vivian datang, dia menuduhku menggoda Jarvis, lalu dia menyayat lenganku setelah gagal menyayat wajahku. "
Bryant nampak emosi sekali, tapi dia juga terlihat tenang meski rahangnya mengeras dan matanya menatap tajam seolah dia merasakan benar emosi kekecewaan, kesedihan dan kesakitan begitu melihat lengan Elle, apalagi saat Elle mengatakan Vivian awalnya ingin menyayat wajahnya.
" Gila, kenapa mereka melakukan tindakan tidak manusiawi seperti itu?! Kau apa masih ingin tinggal di sana seperti orang bodoh?! "
Elle tersenyum kelu, tentu saja dia Sengaja menunjukan wajah itu untuk semakin menenggelamkan Bryant dalam emosi dan semakin merasa kasihan padanya.
" Jarvis sudah menentukan banyak bantuan finansial kepada keluargaku. Aku tidak bisa pergi, dan lagi aku tidak ingin pergi begitu saja tanpa membalas apa yang sudah mereka lakukan padaku selama ini. "
Bryant membuang nafasnya, bukan masalah Elle memiliki wajah cantik, hanya saja Bryant merasa Elle yang adalah seorang wanita, terlebih dia adalah seorang istri serta Nyonya di rumah besar Jarvis sehingga tidak pantas di perlakukan seperti itu.
" Katakan padaku, berapa uang yang sudah dia berikan kepada keluargamu? Aku akan membayarnya untukmu, berhentilah berada di lingkungan gila itu, mereka bukan manusia, Elle. "
Elle mengangguk karena dia paham benar manusia normal lainnya akan memilih jalan itu, tapi rasa sakit yang di rasakan Elle begitu besar hingga membuatnya tidak rela kabur begitu saja seperti pengecut dan membiarkan mereka yang menyakiti Elle bebas santai begitu saja.
" Aku tidak rela, setiap kali aku berkaca dan melihat banyaknya bekas luka di tubuhku, aku tidak rela. Aku merasakan bagaimana sakitnya di khianati oleh suami yang aku cintai, laku aku di pukuli, di kurung, di tuduh ini dan itu, di tampar, dan banyak lain, penyiksaan lain secara fisik dan verbal yang tidak akan bisa aku relakan dan menganggap ini hanyalah mimpi buruk saja. "
Bryant membuang nafasnya.
" Katakan padaku, apa yang bisa aku bantu? Aku akan membantumu membalaskan dendam, dan setelah itu kau pasti bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang. "
Elle tersenyum, dia menatap Bryant yang masih menatapnya. Elle, mendekatkan tubuhnya, meraih lengan Bryant dan mengerakkan telapak tangannya agar Bryant menunduk sehingga Elle bisa membisikkan sesuatu kepadanya.
" Kau yakin ingin melakukan itu? " Tanya Bryant dengan pipi yang bersemu merah dan coba dia sembunyikan. Bagaimanapun ini pertama kalinya dia begitu dekat dengan Elle, bahkan Bryant bisa dengan jelas menghirup aroma Elle.
Bersambung.