
Jarvis kembali ke rumah dengan wajah kesal, Vivian yang mengetahui Jarvis sudah kembali ke rumah, dia bergegas keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan Jarvis. Niat awalnya Vivian ingin mengajak Jarvis untuk tidur di kamarnya, dan Vivian akan melakukan apapun termasuk memijat tubuh Jarvis, atau membantu Jarvis untuk mencuci rambut, pokoknya apapun yang bisa dia lakukan agar dapat menyenangkan hati Jarvis. Tapi, baru saja dia ingin melangkah mendekat dengan senyum manis yang terbit dari bibirnya, Jarvis sudah dengan jelas menunjukkan penolakan dari wajahnya, dia melengos seolah tak melihat adanya Vivian di sana.
Tidak ingin menyerah begitu saja, Vivian tetap memaksa untuk menyapa Jarvis dan siapa tahu setelah itu Jarvis bisa sedikit luluh lalu bersedia tidur di kamarnya malam ini. Ada banyak hal yang ingin di bicarakan kepada Jarvis, jadi Vivian benar-benar berharap Jarvis mau tidur sekamar dengannya.
" Sayang, aku bantu menyiapkan air hangat ya? " Ujar Vivian sembari berjalan mendekat, dan begitu dia sudah dekat, Vivian dengan sikap manja memeluk lengan Jarvis dan sebentar bersandar di sana.
Jarvis tak menjawab, dia menarik lengannya dari pelukan Vivan dan membuang nafas kesal dengan mimik yang dingin tak bersahabat.
" Hanya dengan satu tombol shower kamar mandi ku bisa mengeluarkan air hangat, aku bisa mengurus dirimu sendiri jadi pergilah dan jangan mendekatiku dulu. "
Vivian terdiam karena dia bingung harus bagaimana lagi menghadapi Jarvis yang semakin hari semakin memperlakukannya dengan dingin. Padahal dia sudah bersikap agak sabar, anggun juga, pengertian, tapi kenapa Jarvis malah semakin jauh darinya?
" Kembalilah ke kamarmu. " Ucap Jarvis sebelum meninggalkan Vivian di sana dengan perasaan pilu. Hari ini dia sudah benar-benar banyak sekali membuang energi untuk bersabar, mulai dari bersabar menghadapi Elle yang sikapnya sulit untuk di tebak, kemudian mengahadapi Ibu Diana yang marah tida jelas menuduh Vivian tidak bisa bantu menjaga Wendy dengan baik, di tambah juga harus menghadapi Jarvis yang semakin tak jelas dan dingin.
" Sayang, aku boleh tidur bersama denganmu? Aku hanya ingin membicarakan tentang Wendy, dan hal lain, boleh ya? "
Jarvis mengentikan langkah kakinya, dia tidak berbalik, tapi mimiknya menjadi semakin dingin dan berkata,
" Jangan pernah masuk ke kamarku kalau aku tidak meminta mu melakukanya, dan jangan bertanya lagi tentang pertanyaan barusan kalau kau masih ingin hidup dengan nyaman. " Jarvis melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam kamar.
Jarvis membuang nafas kasarnya, mengusap wajahnya dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan perasaan kacau luar biasa. Dari kemarin dia cukup di buat tak karuan karena caption dalam unggahan Bryant, unggahan yang menampilkan wajahnya dan juga wajah Elle. Cemburu, itu sudah jelas, dia kesal, dia marah tapi dia tidak bisa melakukan apapun, apalagi kala harus menyiksa Elle. Tadinya dia ingin berbicara dengan Bryant secara baik-baik, dan setelah itu dia ingin menemui Elle dan memintanya untuk menjauhi Bryant tapi dengan bahasa yang lebih halus. Tapi tiba-tiba saja dia mendapatkan telepon bahwa Wendy masuk ke rumah sakit karena mencoba untuk bunuh diri. Untunglah nyawa Wendy masih bisa di selamatkan, dan beberapa jam setelah menjalani perawatan dan menghabiskan dia kantung darah akhirnya dia telah sadar. Kala itu Jarvis bersama dengan Ibu Diana menjaga Wendy, dengan air mata berlinang Wendy menceritakan bagaimana penolakan Bryant dan lebih memilih Elle ketimbang dirinya.
" Jika saja bukan karena aku...... "
Jarvis mengeraskan rahangnya menahan kekesalan yang luar biasa. Bukan kepada Elle, tapi kepada dirinya sendiri dan juga ucapan Ibunya yang begitu menyakitkan saat Wendy menceritakan segalanya tentu saja dari sudut kandang Wendy yang menempatkan dirinya dalam posisi yang benar.
" Bagaimana keluargaku menjadi seperti sekarang? Aku bahkan, juga melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku ingin melepaskanmu, laku melihatmu bahagia di luar sana, tapi aku tidak rela karena aku mencintaimu meski juga pernah membencimu di saat bersamaan. Aku ingin melindungi mu tapi jika terus berada di rumah ini kau hanya akan menderita. "
Jarvis bangkit dari posisinya, dia berjalan untuk menuju ruang bekerjanya yang terhubung dengan kamarnya. Dia masuk ke dalam sana setelah mendorong tak buku, duduk di kursi dan mengeluarkan sebuah photo yang tersimpan di sana. Photonya bersama dengan Elle saat mereka berpacaran dulu, beberapa bulan setelah mereka mengenal.
Elle benar-benar sangat manis, dia cantik, imut dengan lesung pipi yang menghiasi. Rambutnya yang lurus hitam panjang terurai benar-benar sangat indah sama seperti wajahnya. Jujur saja kala itu Jarvis benar-benar menikmati masa dekat mereka, saling bergandengan tangan, saling memeluk, berciuman, saling mencurahkan isi hati meski nyatanya Jarvis lebih banyak mendengar di banding menceritakan.
" Kau pasti sudah sangat menderita, aku terlalu banyak memberikan kesakitan, tapi maafkan keegoiskanku yang masih menginginkan untuk bisa bersama denganmu, dan semoga kesempatan itu ada. "
Jarvis mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, lalu menghubungi seseorang untuk menyiapkan rumah baru untuknya. Tidak perlu yang terlalu besar, minimalis tidak masalah asalkan dia bisa memisahkan diri dari keluarga yang kurang baik, serta menyelamatkan Elle dari Ibunya, Vivian juga Wendy yang pasti akan menjadikan Elle sebagai sasaran kemarahannya tida perduli salah atau benar faktanya di mata mereka Elle adalah orang yang pantas untuk di perlakukan dengan buruk.
Di luar kamar.
Elle tersenyum miring melihat Vivian yang terlihat amat sangat kecewa dengan perlakuan Jarvis padanya. Tentu saja apa yang akan di lakukan Vivian ketika Jarvis kembali ke rumah adalah membujuknya untuk bisa bersama dalam satu ruangan dan menceritakan semua yang terjadi dari a sampai Z yang pasti sudah di lebih-lebih kan oleh Vivian, tujuan utamanya adalah untuk mencari muka, membuat Jarvis merasa berterima kasih kepadanya, dan bisa sedikit lebih dekat lagi dengan Jarvis.
Begitu Vivian ingin kembali ke kamarnya, Elle dengan sengaja berjalan melintasinya membuat Vivian berbalik untuk melihat ke arah Elle, dan begitu melihat Elle berdiri di depan pintu kamar Jarvis, Vivian benar-benar membulatkan matanya dengan begitu jelas.
" Mau apa kau?! "
Elle tersenyum miring sebelum berbalik dan menatap Vivian.
" Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Jarvis, kenapa kau bertanya? "
Bersambung.