
Jarvis terdiam memandangi dua anak anjing yang berlarian kesana kemari, menggonggong terus menerus dari saat Jarvis datang. Kedua kalinya naik ke atas beberapa kali, dan sepertinya anak anjing itu meminta Jarvis untuk menggendongnya. Sayangnya Jarvis benar-benar tidak ingin melakukan apapun sekarang, tapi begitu satu anak anjing lipat ke pangkuannya, menatapnya dan Menggonggong seolah sedang bertanya membuat Jarvis menyadari sesuatu.
" Kalian merindukan Ibu? Ayah juga merindukan Ibu, tapi apakah Ibu kalian tidak marah kalau Ayah membawa kalian kesana dan mengantarkan kalian untuk tinggal dengannya? "
Jarvis nampak sebentar berpikir, padahal baru saja tiga hari dia berpisah dengan Elle, tapi Jarvis merasa seperti sudah tiga tahun saja tidak melihat Elle. Awalnya ingin benar-benar membuatkan Elle bahagia, dengan sok percaya diri mendoakan Elle menemukan pria yang baik dan cocok untuknya, tapi sekarang Jarvis benar-benar menyesali ucapannya itu. Memang benar dia ingin melihat Elle bahagia, tapi kalau bisa sih jangan melihat Elle dengan pria lain bahagianya, dia benar-benar tidak akan sanggup menyaksikan itu.
" Baiklah, kita temui saja Ibu kalian! " Jarvis tersenyum sembari bangkit dari posisinya. Tapi ketika dia mengingat wajah Elle, dia teringat akan satu hal yaitu, kesedihan yang mungkin akan Elle ingat jika melihat wajah Jarvis.
" Elle pasti mulai membaik dengan tidak melihat wajah ku bukan? Kalau aku datang kesana bukankah aku akan membuat Elle bersedih, menderita karena harus mengingat luka lama? " Jarvis mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal kuat dengan kedua mata yang menahan marah dan sedih. Jadi sebenarnya dia harus apa? Sungguh tersiksa karena perasaan cintanya dan kehilangan begitu mempengaruhi hidupnya, tapi jika dia ingin egois menemui Elle untuk menghilangkan perasaan rindu yang ia miliki, dia juga takut melihat air mata Elle nantinya.
Jarvis menoleh menatap kedua anjing itu yang anehnya juga terus menatap nya seolah sedang mengharapkan sesuatu.
" Kalian kenapa terus menatap ku seperti itu? Kalian ingin aku membawa Ibu kalian datang kesini? "
Guk!
Jarvis tersentak, tidak tahu kebetulan saja atau bagaimana, tapi suara anjing itu seperti sedang mengiyakan pertanyaan Jarvis barusan.
" Kalian pikir mudah? Ibu kalian sangat membenci ku, jadi menahan Ibu kalian di sini hanya akan membuatnya sangat sedih. Kalian main saja di sini. " Jarvis mulai melangkahkan kakinya, tapi kedua anak anjing itu terus menggonggong seolah sedang ingin memprotes sesuatu. Jarvis menghela nafas, dia mengacuhkan saja kedua anak anjing itu dan terus melangkahkan kaki.
" Hei! " Jarvis tersentak tak bisa lagi berjalan karena kedua anak anjing itu menggigit sendal yang di gunakan Jarvis.
" Kalian ini apa-apaan?! Suasana hati ku lebih kacau, lebih menyedihkan di banding kalian, jadi berhentilah mengganggu ku! "
Guk guk guk guk guk guk guk guk guk guk.....
Jarvis terduduk lemas, padahal dia ingin tenang setelah cukup lama mengurung diri di kamar, dia pikir dengan melihat dua anjing yang lucu akan membuat suasana hatinya membaik, tapi malah di buat kesal dengan tingkah dua anak anjing yang seperti balita sedang meminta permen.
" Ah! Jangan mengigit jari ku! Oke oke oke! Kita pergi ke rumah Ibu kalian! "
Jarvis membeku karena dia anjing itu langsung berdiri dengan patuh, terdiam dengan lidah yang menjulur keluar, matanya yang bulat menatap ke arah Jarvis.
" Kalian, kalian benar-benar tidak memahami perasaan ku ya? " Jarvis membuang nafas sebalnya. Entah mengapa sekarang dia malah sudah seperti Ayah dari dua orang anak yang merindukan Ibunya.
" Berhentilah menggonggong, kalian ingin membuat ku seperti sedang menculik anjing orang lain ya? "
Ucapan Jarvis benar-benar tak mempengaruhi kedua anjing itu, mereka benar-benar terus menggonggong semakin kuat membuat Jarvis tidak tahan berlama-lama berada di dalam mobil. Segara Jarvis keluar dari sana, membiarkan dua anak anjing yang tak lain adalah Jason dan Jessi di kursi belakang. Begitu Jarvis sudah berada di luar, Jarvis membuang nafas kasarnya, sungguh tidak masuk akal karena pada akhirnya dia sampai di rumah Elle. Rumah yang beberapa hari lalu ingin dia tandai sebagai satu-satunya rumah yang tidak boleh dia datangi. Bukan benci rumah itu, hanya saja Jarvis tidak ingin menimbulkan kekacauan apapun yang bisa saja dampaknya adalah kepada Elle.
" Aku benar-benar membuat kesalahan. " Ujar Jarvis seraya membalikkan tubuhnya karena dia berniat menyadarkan punggungnya di badan mobil. Tapi begitu dia berbalik, dia terdiam membeku melihat seseorang yang tak lain adalah Elle berada tepat di hadapannya.
Elle bukan tak sengaja bisa berada di sana, dia sebenarnya tahu benar jika mobil yang terparkir di pinggir jalan di depan rumahnya adalah mobil nya Jarvis saat ia tak sengaja ingin menutup tirai jendela kamarnya. Elle sempat memperhatikan dengan seksama, dan begitu dia yakin di tambah mobil itu tetap saja terparkir tak kunjung pergi, Elle memutuskan untuk mendekat kesana dan melihat secara langsung apakah Jarvis ada di dalam atau hanya mobilnya saja yang terparkir sementara Jarvis berada di suatu tempat tak jauh dari sana.
" Kenapa kau ada di sini? " Tanya Elle yang tak mungkin untuknya mengindari Jarvis. Dia bertanya dengan wajah datar seolah tak begitu perduli akan mendapatkan jawaban dari Jarvis atau tidak.
Jarvis terdiam sebentar, dia memaksakan senyum tipis tampil di wajahnya meski kedua tangannya sudah gemetar ingin memeluk Elle yang berdiri di hadapannya.
" Maafkan aku, aku tidak berniat mengganggu mu, tapi Jessi dan Jason terus menggonggong seharian, aku pikir dia pasti ingin bertemu dengan mu. "
Elle menatap ke jendela bagian belakang, dan benar saja ada samar-samar warna putih berbentuk anjing uang terus mencoba untuk berdiri menatap ke jendela kaca yang tertutup.
" Berikan dia pada ku. " Ucap Elle lagi-lagi masih tak menunjukkan ekspresi apapun.
Jarvis mengangguk, dia membuka pintu belakang membiarkan Jesse dan juga Jason berlari keluar dari sana. Mereka berdua kompak Menggonggong menatap Elle dan kedua kaki paling depan mereka terus naik meminta untuk Elle menggendongnya.
Elle tersenyum, lalu berjongkok untuk memeluk Jessi dan Jason.
" Aku takut tidak bisa mengurusnya, jadi mari kita bagi dua saja. " Ucap Elle sembari mengambil Jesse dan Jason dan membawanya ke dalam pelukannya.
Jarvis memaksakan senyumnya.
" Mereka sudah terbiasa bersama sedari mereka lahir, perpisahan akan sulit sekali bagi mereka. "
Bersambung.