
" Minumlah teh hangat ini dulu, kau juga bisa ganti dengan bajuku dulu. Aku tidak memiliki pakaian perempuan karena aku hanya tinggal sendiri saja. "
Penelope tak menjawab, dia masih berwajah dingin karena dia benar-benar tak tahu yang mana boleh dia percaya dan yang mana yang tidak. Sejauh ini dia sudah tertipu oleh kebaikan Jarvis, jadi dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, apa lagi sampai menambah penderitaan kakak nya.
" Jangan terlalu jelas menatap ku begitu, iya aku salah soal yang waktu itu. Tapi tolong jangan mendendam dan biarkan aku membantu. Teh nya nanti dingin, jadi bisa tidak kau minum sekarang? Setelah itu kau bisa ganti baju. Ah, atau mau ganti baju dulu, baru minum teh juga boleh. Nanti aku hangatkan tehnya lagi. "
Penelope menghela nafas, lalu menenggak habis teh hangat itu.
" Ini bajunya. " Bryant menyodorkan pakaian miliknya kepada Penelope, tapi gadis itu justru bangkit dan berniat untuk pergi.
'' Tunggu! " Bryant menahan pergelangan tangan Penelope dan segera melepaskan saat Penelope menatapnya marah.
" Jangan begitu kesal, sedari tadi kita hanya duduk di teras rumah begini. Kau tahu benar sekarang sedang hujan lebat kan? Aku bukan ingin melakukan hal yang macam-macam, aku hanya ingin sedikit saja membantu mu. Setidaknya jagalah tubuh mu baik-baik, karena walaupun benar tubuh mu adalah milik mu, nyatanya saat kau sakit akan banyak yang merasa sedih dan khawatir. "
Penelope teringat ucapan Elle ketika menasehatinya.
Pe, tubuh mu memang adalah tubuh mu, tapi saat kau sakit aku juga akan sakit, aku sedih pula.
Penelope menyeka air matanya dengan cepat karena tidak ingin di lihat oleh Bryant. Dengan segera dia berbalik, meraih baju yang di sodorkan padanya.
" Dimana toiletnya? "
Bryant tersenyum, lalu dia mengajak Penelope untuk masuk ke dalam rumahnya, mengantarkan hingga sampai ke toilet di rumahnya.
" Aku akan tunggu di luar. " Ucap Bryant.
" Tentu saja, kalau menunggu di dalam, kepalamu bisa pecah. " Gumam Penelope seraya memasuki toilet untuk berhati pakaian.
Bryant tersenyum, rasanya perempuan yang seberani itu memang agak jarang sekarang ini. Kebanyakan dari mereka akan bertindak, betingkah malu-malu untuk menggait pria, tidak perduli seberapa rendahnya di mata pria.
" Orang tua kalian pasti bahagia sekali memiliki anak perempuan seperti kalian berdua. " Gumam Bryant seraya berjalan menjauh dan menunggu di ruang tamu saja.
Setelah selesai mengganti pakaian, Penelope dengan segera berjalan keluar yang otomatis melewati ruang tamu dan membuat dia harus bertemu dengan Bryant lagi.
" Sudah selesai? "
" Hem. " Jawab Penelope singkat.
Bryant menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung juga bagiamana caranya berbicara dengan dia Kakak adik yang sikapnya dingin seperti ini.
" Kau berjalan di daerah ini apa kau baru saja datang ke rumah Jarvis? "
Penelope mengalihkan pandangan karena jelas sulit baginya mengingat apa yang dia dapatkan ketika berada di rumah Jarvis tadi.
Melihat Penelope yang diam jelas saja pertanyaannya mendapatkan iya untuk jawaban. Bryant mengangguk paham, sepertinya membawa adiknya Elle akan bisa dia jadikan alasan untuk bertemu dan melihat keadaan Elle.
" Elle dan Jarvis sudah tidak tinggal di rumah itu lagi, kalau kau mau besok pagi kita bisa pergi kesana. "
" Mak maksud ku, bukan mengajak mu menginap di rumah ku, tapi aku akan mengantar mu ke rumah, baru besok pagi aku akan jemput begitu. Sungguh aku tidak berniat begitu, aku- "
" Kakak ku dan kak Jarvis tinggal di satu rumah? "
Bryant mengangguk dengan cepat.
" Sungguh? "
" Iya, mereka tinggal di satu rumah. "
Penelope mengeryit bingung. Kalau tinggal satu rumah bukannya aneh dan tidak sesuai dengan ucapan wanita gila tadi?
" Baiklah, beri tahu aku dimana alamatnya, biarkan aku datang kesana sendiri. "
Bryant menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tentu saja Bryant tidak mengizinkan adiknya Elle pergi sendiri kesana, selain sekarang sedang hujan deras, dia juga tidak bisa menemui Elle nantinya karena tidak ada alasan khusus kan?
" Maafkan aku, Nona cantik adiknya Elle, ini masih hujan deras, di tambah bukannya aneh kalau menemui pasangan suami istri di malam hari di tambah sedang hujan begini? "
Penelope mengeryit dengan tatapan sinis, bagaimanapun dia tidak sekalipun pernah memilki hubungan dengan seorang pria, sama seperti Elle dulu peraturannya, jadi hal semacam itu sungguh dia tidak mudah untuk memahaminya.
Bryant yang bisa mengartikan tatapan itu sontak merasa tak enak karena rupanya lawan bicaranya sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud.
" Pokoknya, akan lebih baik kalau datang pagi nanti. Sekarang kau mau pulang dulu kan? Biar aku ambil mobil mu dulu, kau tunggu di sini. "
Penelope menghela nafasnya, besok adalah hari ulang tahunnya, kalau benar kakaknya akan datang menemuinya sebelum dia menemuinya, dia benar-benar tidak akan melewatkan kesempatan untuk menanyakan semua hal yang ingin dia tanyakan.
***
" Elle, sepertinya kita akan tetap disini sampai hujan reda. Tidak apa-apa kan? " Tanya Jarvis kepada Elle. Mereka kini tengah meneduh di gubuk kecil yang di buat sebagai tempat untuk meneduh ketika ada pengunjung yang datang ke taman itu. Taman buatan yang berada di pinggiran kota, suasana yang agak sepi dan sejuk benar-benar suasana yang bagus untuk Elle. Sayangnya hanya tiba-tiba saja hujan dan mereka jadi tidak bisa lebih banyak berkeliling melihat indahnya taman yang jika malam akan di penuhi lampu-lampu hias.
" Besok kita kesini lagi saya akhir pekan ya? Biasanya akan ada banyak penjual makanan, aksesoris, juga sebagainya. Juga ada yang jual ekstra bunga-bungaan, kau pasti suka aromanya. "
Jarvis tersenyum meski Elle sama sekali tak merespon, sebentar dia terdiam karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa, tapi begitu seekor anjing datang dengan tubuh yang basah kuyup, Elle langsung bereaksi, dia dengan segera meraih anjing itu dan mendekapnya erat-erat.
" Sepertinya anjing itu anjing peliharaan, pemiliknya pasti sibuk mencari. " Ujar Jarvis ikut mengusap buku di kepala anjing kecil itu. Melihat Elle yang begitu erat memeluk anjing kecil yang tubuhnya basah. Senyum yang terbit ketika Elle mengusap anjing itu jelas Jarvis bisa melihatnya.
" Elle, kau menyukai anjing ya? " Jarvis terus menatap betapa indahnya senyum Elle saat itu, dan detik itu juga Jarvis berniat akan membeli sepasang anjing kecil yah lucu berwarna putih seperti anjing yang di peluk Elle.
" Aku akan beli anjing seperti itu, kita beli sepasang saja ya? " Jarvis mengusap kepala Elle perlahan dengan lembut.
" Tuan, Nona, anjing itu anjing saya! Maaf, bisakah anda melepaskannya? " Seorang pria muda mendatangi mereka berdua menggunakan jas hujan.
Elle mengeratkan pelukannya, wajahnya mengisyaratkan untuk jangan mengambil anjing yang ia peluk.
Bersambung.