
Wendy mencengkram kuat selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
" Apa kak Bryant datang kemari karena Elle? "
Bryant tersenyum, bagaimana bisa Wendy baru menyadarinya kalau Bryant sudah sejelas itu menunjukkan semuanya dari awal? Bryant bangkit dari duduknya, dia berjalan dan berdiri dengan tubuh menyender ke dinding menatap ke arah wendy yang terus menatapnya dengan tatapan penuh harap akan pertanyaannya tadi.
" Apakah kau ingin di perjelas melalui jawaban langsung dariku? " Bryant mengakhirinya dengan senyum manis, ah! Kalau saja bukan karena Elle memberikan janji yang begitu menarik, rasanya dia benar-benar tidak ingin melakukan hal bodoh semacam ini.
Wendy memalingkan pandangan karena tidak ingin memperlihatkan kepada Bryant dia tengah menangis. Tentu saja Bryant mengetahui bahwa Wendy sedang menangis, tapi di banding harus melihat Elle yang menangis, maka seperti itu menurutnya adalah pilihan yang tepat. Dia tidak memberikan harapan apapun, Wendy sendiri yang berhalusinasi tidak penting sampai kecewa karena itu.
" Kak Bryant, memang Elle begitu cantik kah? Kakak tahu kan kalau Elle itu adalah istrinya kakak ku? "
Bryant menghela nafasnya, dia tersenyum menatap Wendy yang terlihat pilu.
" Sejauh yang aku tahu, status Elle hanyalah sebuah status. Dia tidak mendapatkan hak layaknya istri, dia juga tidak mendapatkan perlakukan dengan sewajarnya oleh kalian, jadi aku tidak menganggap Elle adalah seorang istri dari pria manapun juga. "
" Tapi- "
" Sttt...... " Bryant meletakkan jari telunjuknya di bibirnya meminta Wendy untuk tidak berbicara lagi.
" Elle mungkin memang pernah mencintai kakakmu, Elle mungkin masih memiliki rasa itu, tapi setelah apa yang kakakmu, serta keluarganya lakukan, aku yakin seratus, ah! bahkan sejuta persen bahwa Elle tidak akan pernah memilih untuk lebih lama menjadi istri kakakmu. "
" Kakakku adalah sahabat sejak kecilnya kak Bryant kan? Kenapa kak Bryant melakukan itu? Seharusnya kak Bryant lebih memihak kakakku ketimbang Elle, dia hanya wanita yang baru beberapa saat kak Bryant temui, bagaimana bisa kak Bryant malah berpihak padanya?! " Protes Wendy dan di akhir kalimat dia mulai menangis tak bisa menerima kenyataan bahwa kemungkinan untuk bersama Bryant bahkan sudah tak tersisa sedikitpun.
" Iya, memang benar, dan itulah sebabnya selama ini aku banyak mengalah dan mencoba mengerti semua tindakan nya, apa lagi semenjak Fredon meninggal, bagian mana dari perlakuan ku yang tidak mengalah? Memahami dan memaklumi orang lain ya tentu saja harus ada batasnya, terlebih aku jatuh cinta kepada Elle. " Bryant menatap Wendy yang masih terlihat menangis.
" Aku tidak mudah tertarik dengan wanita, apalagi jatuh cinta, jadi kali ini aku akan menjadi pria yang egois agar aku bisa mendapatkan wanita yang membuatku jatuh cinta sampai bodoh seperti ini. "
***
Elle tersenyum setelah tatapan matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Johan. Pria itu mengeryit masih menunjukkan wajah kesalnya setiap kali melihat Elle karena melihat Elle sama saja dengan mengingatkannya kepada malam sial yang harus membuatnya pingsan dengan luka robek di kepala, di tambah dia tidak bisa membalas sama sekali karena Jarvis benar-benar melindungi Elle maupun keluarganya dengan ketat.
" Tidak bisa di percaya kalau kita akan bertemu di pusat belanja yang begitu besar ini, Tuan Johan. " Ucap Elle setelah dia berjalan mendekati Johan dan kembali tersenyum manis.
Elle tak kehilangan senyum di wajahnya, dia melihat ke arah dimana sedari tadi Johan menatap dan di sana ada seorang wanita cantik, wajahnya yang tak asing jelas bisa langsung Elle kenali bahwa wanita itu adalah seorang aktris yah cukup sering mondar mandir di layar kaca, televisi.
" Itu pacar anda ya, Tuan Johan? Dia cantik, dia adalah seorang aktris bukan? Aku pernah melihatnya di televisi beberapa waktu lalu. " Elle ikut menatap wanita yang sedari tadi di tatap oleh Johan, dia menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga, bibirnya yang terus tersenyum dan cara menatap yang terkesan kagum juga hangat membuat Johan terdiam membeku. Iya, Elle memang cantik, bisa di bilang Elle lebih cantik dari pada kekasihnya sendiri, dan itu membuat Johan kesal sekali. Kesal karena gagal meniduri wanita secantik Elle, dan sialnya ternyata Elle adalah istrinya Jarvis, pria yang menurut dia adalah pria yang paling sulit untuk di kalahkan.
" Enyahlah, melihatmu benar-benar membuatku ingin bertindak cabul asal kau tahu. " Ucap Johan dengan nada bicara yang pelan, mungkin dia tidak ingin kekasihnya mendengar ucapan Johan.
Elle benar-benar sangat pintar sekali berakting, dia masih bisa terus tersenyum meskipun dia sangat kesal sekali, kedua tangannya juga sampai gemetar saat dia mengepal.
" Wah, anda benar-benar membuat jantung saya berdebar ya, Tuan? "
Johan mengeryit menatap Elle karena dia merasa terkejut bukan main. Bagaimana bisa wanita yang saat pertama kali berurusan dengannya begitu berubah, Johan benar-benar mengingat dengan baik betapa ketakutannya wajah Elle, tubuhnya gemetar, dan saya dia menyentuh kulit Elle sungguh terasa begitu dingin. Sekarang bagiamana bisa Elle terlihat santai dan tak memiliki rasa takut sama sekali? Johan tersenyum miring menatap Elle yang tengah menatap kekasihnya yang tengah sibuk membeli tas bermerek yang sedang banyak di buru oleh sosialita kesal atas belakangan ini.
" Kau pasti kekurangan sentuhan dari Jarvis bukan? Kau sudah mulai bersikap berani dan menggoda seperti ini apakah kau tahu bahwa orang bisa saja salah paham? "
Elle tersenyum, tapi bukan kepada Johan, melainkan seseorang yang yang beberapa saat tadi kehilangan jejaknya, dia adalah orang yang Jarvis minta untuk menjaga Elle, dan juga mengawasi apa saja yang di lakukan Elle setiap harinya. Sudah cukup, sekarang dia tidak bisa menunjukkan sikap murahannya, dia perlu sedikit menarik diri agar semua tujuannya berjalan sesuai rencana.
" Maafkan saya kalau cara bicara saya yang sok ramah ini malah membuat anda salah paham, Tuan Johan. Saya tahu saya pernah membuat anda marah, dan celaka. Saya seharunya lebih tahu diri dan tidak bertindak sok kenal seperti kita tidak memiliki masalah sebelumnya. " Elle menunduk dengan mimik pilu, dia sontak memundurkan satu langkah posisinya untuk menjauh dari Johan.
Melihat wajah pilu penuh rasa bersalah itu, Johan menjadi semakin ingin maju untuk mencari tahu seberapa sulitnya membuat Elle untuk bisa dia lecehkan. Johan menoleh memastikan kekasih nya masih sibuk dengan kegiatannya, lalu kembali fokus kepada Elle yang ada di hadapannya.
" Jangan menunjukkan sekali rasa bersalah mu itu, kalau kau ingin menebusnya, maka jadilah simpanan ku sampai aku merasa puas denganmu, bagaimana? "
Demi Tuhan, aku benar-benar ingin sekali merobek mulutmu.
" Maaf Tuan Johan, saya masu istrinya Jarvis. "
" Tenang saja, aku akan membantumu lepas darinya, bagaimana? "
Bersambung.