Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 74 : Meminta Maaf Lagi



" Bagaimana bisa kau melakukan itu kepada putri ku, Jarvis? Aku sudah meminta pada mu untuk baik-baik menjaganya bukan? Tidak, seharusnya ini adalah kesalahan ku, aku yang salah karena mempercayai mu dengan begitu cepat hanya karena kepura-puraan mu. Aku seharusnya mencari tahu terlebih dulu sebelum menyerahkan putriku kepada seorang pria. Aku yang bersalah, aku yang salah, aku berdosa, aku menyodorkan putri ku kepada pria yang salah. Aku tidak pantas menjadi Ayahnya, aku gagal menjadi Ayah yang baik, aku gagal melindungi senyum putri ku, aku gagal menjalan kan keinginan istriku untuk menjaga baik-baik anak kami. " Ayahnya Penelope dan Elle menangis pilu setelah Jarvis menceritakan semua yang terjadi di antara dia dan juga Elle. Perih, patah hati, kecewa, marah, dendam, semua perasaan itu menjadi satu memenuhi dada seorang pria paruh baya yang selama ini hanya tahu bahwa putrinya bahagia, dan merasa beruntung sekali dan terus bersyukur karena dia pikir dia telah menyerahkan putri pertamanya kepada pria yang tepat.


Jarvis, pria itu tak mampu lagi berkata-kata. Biarlah kali ini dia harus menanggung segala kebencian yang terarah padanya, keinginan untuk balas dendam kepadanya juga akan dia terima. Jarvis menekan kepalan tangannya melihat betapa derasnya air mata yang jatuh ke pipi Ayah mertuanya, tentu pasti dia sangat terluka hingga lemas tak bisa melakukan apapun. Jika saja Jarvis hanya menerima pukulan, mungkin Jarvis sendiri akan merasa agak lega, tapi melihat Ayah dari wanita yang dia cintai tak berdaya seperti itu, Jarvis jadi seperti terhantam bongkahan besi dadanya.


" Ayah, aku tahu Ayah sangat sedih. Tapi Ayah, sekarang kita harus fokus dulu untuk kesembuhan kakak. Masalah kak Jarvis, kita bicarakan setelah kakak sembuh, biarkan kakak yang menentukan sendiri bagiamana inginnya. "


Jarvis tak bicara, dia juga tak menunjukkan ekspresi apapun. Sungguh, apakah memang hanya akan sampai di sana saja rumah tangga yang baru mulai ingin dia bina dan perbaiki?


Setelah kesepakatan yang akhirnya bulat bahwa Ayah Elle dan juga Penelope yang akan mencoba untuk menuntun Elle saat di hipnotis nanti. Yah, keputusan itu akhirnya di sepakati oleh keluarga Elle setelah berdiskusi cukup lama.


Setelah selesai dengan Ayahnya Elle, Jarvis berniat kembali ke mobilnya, sementara Penelope masih di sana untuk menenangkan Ayahnya.


" Kenapa kau ada disini? " Tanya Jarvis saat mendapati Bryant ternyata juga berada di sana.


Bryant tersenyum tapi itu terlihat dia paksakan, lalu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari Jarvis.


" Aku hanya merasa penasaran juga khawatir, aku datang kesini karena takutnya kau babak belur dan tidak ada yang perduli. Yah, siapa yang tahu kalau Ayahnya Elle sangat penyabar dan membiarkan mu keluar dengan aman dan baik-baik saja seperti ini. "


Jarvis mengeraskan rahangnya, andai saja dia memang di pukuli, tentu dia bisa pulang dengan perasaan sedikit lega, tapi yang harus Jarvis rasakan adalah hancurnya perasaan melihat seorang Ayah yang sangat patah hati, begitu tersiksa dengan penderitaan putrinya.


" Bryant, pernahkah kau berpikir seperti ini, andai saja aku mendengarkan ucapan Jarvis sedari awal, mungkin semua tidak akan separah ini. "


Bryant terkekeh, dia menggeleng dengan mimik jengah yang begitu terlihat jelas di mata Jarvis.


Jarvis membuang nafas kasarnya. Iya, sepertinya apapun yang dia lakukan akan salah, bahkan bernafas saja sepertinya akan terus di anggap salah.


" Baiklah, Bryant. Berpikir lah semau mu, simpulkan saja pendapat dan yakini saja seperti yang kau mau. Aku tidak akan mengelak, aku akan menerima semua yang kau ucapkan atau yang kau tuduhkan. Sudah cukup? Kalau sudah maka aku harus segera pergi untuk mempersiapkan segala yang di butuhkan untuk pengobatan Elle. "


" Tunggu! " Cegah Bryant menahan langkah kaki Jarvis yang sudah begitu dekat dengan mobilnya. Jarvis berbalik badan, dia menatap Bryant tanpa bertanya ada apa karena Bryant pasti sudah bisa menebak lewat tatapan matanya.


" Aku, maksud ku, biarkan aku berada di sana. Aku tahu kau kesal dan tidak akan menyukai keberadaan ku, tapi kau bisa menggunakan aku kalau memang di butuhkan bukan? "


Jarvis sejujurnya ingin sekali menolak mentah-mentah kesedian Bryant, tapi mengingat Elle yang cukup dekat dengan Bryant, apalagi saat mereka membicarakan tentang anjing, rasanya Jarvis tak bisa menolaknya meski dia ingin.


" Baiklah. " Ucap Jarvis yang pada akhirnya membuat Bryant tersenyum dengan lega. Setelah itu Jarvis langsung masuk ke dalam mobil, menekan tombol starter, lalu menjalankan mobilnya dengan cepat menuju tempat yang dia tinggali bersama dengan Elle.


Di dalam perjalanan, Jarvis yang memiliki tubuh tinggi besar, wajah tegas begitu juga dengan kedua bola matanya yang tajam menitihkan air mata. Sudah dia tahan cukup lama, dan akhirnya air mata dari bentuk kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan itu jatuh. Dia benar-benar sok berani dan sok tak berperasaan ketika di awal menyetujui permintaan Ibunya untuk membalas dendam, sekarang dia tahu benar betapa besar dampak dari apa yang dia lakukan.


" Elle, aku harus bagiamana setelah ini? " Gumam Jarvis lalu menyeka wajahnya dengan satu tangan.


Begitu sampai di rumah, Jarvis dengan cepat berjalan menuju kamarnya untuk mencari keberadaan Elle. Tidak ada, jadilah Jarvis segera berjalan cepat menuju ke taman belakang berharap Elle berada di sana. Benar saja, Elle tengah bermain dengan sepasang anak anjing yang mereka pelihara, Jessi dan Jason. Jarvis tersenyum lega, dia menjalankan kaki nya santai menuju di mana Elle berada sekarang. Begitu sudah dekat, dan Eliza menyadari kedatangan Jarvis, dia segera mohon undur diri, dan sekarang hanya tinggal Jarvis dan juga Elle saja di sana.


" Elle, Ayah mu, dan juga Penelope setuju untuk melakukan metode penyembuhan dengan cara yang agak sulit, tapi aku benar-benar berharap kau bisa kembali seperti sedia kala, Ayah dan adik mu juga pasti ingin kau sembuh kan? Meskipun aku tidak tahu bagiamana memulai ketika kau sembuh nanti, aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu, Elle. Maafkan aku, tolong maafkan dan jangan terlalu lama membenci ku. Aku tahu kau marah, aku tahu kau merasa sakit, kecewa, aku akan menunggu dengan sabar, aku akan menunggu hari dimana aku bisa melihat senyum di bibir mu lagi.


Bersambung.