
Seperti yang sudah di rencanakan, Elle dan juga Bryant membuat rencana dengan berpura-pura tidak sengaja bertemu di toko roti. Ini juga berkat Vivian, dengan alasan ingin membeli roti langganannya, akhirnya Elle sukses keluar dari rumah.
" Kalau semakin di perhatikan, semakin hari kau semakin cantik saja ya? Pakaian pelayan malah terlihat seperti pakaian gaya baru yang sangat mewah. " Kalimat ini mungkin terdengar seperti kalimat yang biasa pada kaum pria gunakan untuk merayu wanita, tapi sungguh kalimat itu terangkai atas dasar apa yang memang benar Bryant lihat dan juga rasakan. Elle yang terlihat lebih fresh wajahnya, juga tatapan mata yang dingin, juga mimik wajahnya yang selalu tak bisa di tebak itu benar-benar memiliki pesonanya sendiri.
Seperti dugaan Bryant, Elle sama sekali tak terlihat senang dengan pujian yang di ucapkan Bryant. Elle masih terlihat dingin meski dia juga sudah berusaha menunjukan wajah hangatnya. Ah, sepertinya Elle memang bukan orang yang mudah menerima pujian, jadi Bryant hanya bisa mengajak bicara sebisanya walaupun yang harus di bicarakan adalah hal yang serius.
" Ngomong-ngomong, kita tidak mungkin hanya saling diam begini saja kan? Aku sudah mencoba mengatakan kalimat yang hangat untuk mewakili perasaanku ketika melihatmu, tapi kenapa ya kau masih dingin seperti ini? "
Elle membuang nafasnya perlahan.
" Kalimat sanjungan yang kau ucapkan itu, aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Pria pertama yang mampu membuatku berdebar, malu, tersanjung, juga jatuh cinta sangat dalam adalah Jarvis. Aku terlalu mencintainya saat itu, sampai luka yang dia berikan bagiku terasa sangat menyakitkan hingga menerimanya masih sulit sampai dengan sekarang. Aku yang sudah sangat terluka ini, tidak dapat merasakan indahnya sanjungan. Terimakasih karena sudah mau membantuku dan mencoba untuk menyenangkan hatiku, tapi sungguh itu tidak perlu. "
Bryant sedari tadi menatap serta memperhatikan raut wajah Elle, saat itu wajah Elle seolah menggambarkan rasa perih, kecewa, marah, putus asa menjadi satu. Bryant terdiam karena sepertinya luka yang di rasakan Elle memang sangat besar dan begitu dalam serta membekas sehingga Elle sulit menerima kalimat sanjungan untuknya. Kalau boleh menduga, sepertinya dulu Elle adalah gadis yang sangat ceria dan penuh semangat, tapi ketika menikah dengan Jarvis lalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik dia berubah menjadi dingin, dia sulit memahami perasaan orang lain dan mudah mencurigai orang lain. Yah, tidak ada yang salah kalau begitu, hanya saja Bryant merasa kalau akan lebih baik dia bisa membantu Elle untuk keluar dari lorong gelap dan memberikan segenggam cahaya untuk mereka menyusuri jalan di masa depan.
" Baiklah, kalau begitu mari kita bicarakan hal lain saja. Kau tidak mungkin hanya sebentar duduk lalu pergi begitu saja kan? "
Elle memaksakan senyumnya.
" Apa yang ingin kau bicarakan? "
" Bagaimana kalau- " Bryant menghentikan ucapannya karena ponselnya berdering.
" Sebentar ya? " Bryant menggeser tombol di ponselnya untuk menerima telepon.
" Halo? Jangan berikan makanan sembarangan! Tolong berikan dia daging dada ayam yang sudah di cuci bersih, setelah itu tunggu beberapa saat baru berikan dia obat ya? Kalau dia terus menggonggong, berikan saja dia susu dulu dan ajak dia bermain sampai aku kembali ke rumah. " Setelah itu Bryant menghentikan ucapannya dan menutup sambungan teleponnya.
" Kau memelihara anjing? " Tanya Elle yang sepertinya tertarik dengan peliharaan. Melihat adanya peluang yang bisa di gunakan untuk bahan pembicaraan, Bryant langsung mengambil kesempatan itu dengan baik.
" Iya, namanya Bulgo. Dia anjing ras tibetan Mastiff, memang kadang dia sangat manja, tapi dia anjing yang sangat pengertian. "
Elle terlihat semakin tertarik.
" Wah, pasti sangat lucu kan? "
Bryant tersenyum bangga meksipun di dalam hati dia membatin lain.
Untuk ukuranya yang besar, sebenarnya tidak bisa di sebut lucu sih. Bulgo itu lebih besar dan tinggi di banding tibetan Mastiff lainnya. Bobotnya yang delapan puluh dua kilogram di tambah buku tebal jelas Bulgo akan terlihat lebih besar. Hah..... Apa kalau Elle melihat Bulgo secara langsung masih bisa bilang Bulgo itu lucu?
" Yah, nanti kalau ada kesempatan kau boleh lihat Bulgo. Nanti aku akan ajak kau bertemu dengan dia. "
" I ini! " Gila, padahal hanya menunjukan photo Bulgo saja tapi dia sudah berdebar seperti ini. Ah, mungkin yang membuat Bryant berdebar adalah takut kalau Elle sudah tidak tertarik dengan anjingnya lagi dan jadi dingin kembali sikapnya.
" Wah, dia benar-benar lucu sekali ya? "
" Hah? " Bryant yang tadi terlalu takut untuk melihat wajah Elle karena tidak siap dengan perubahan mimiknya akhirnya terkejut bukan main. Elle menatap photo Bulgo dengan tatapan penuh kagum yang membuat Bryant ternganga heran. Memang benar sih kalau Bulgo adalah anjing mahal, tapi Bulgo yang galak dan mudah menggonggong membuat banyak orang takut. Apalagi kan tubuh Bulgo yah besar itu kadang menyeramkan, tapi reaksi Elle benar-benar sangat di luar dugaan.
" Bulgo, apa dia masih terlihat lucu sekarang? " Tanya Bryant.
" Iya, sebenarnya aku benar-benar menyukai anjing. Tapi karena adikku sangat takut dengan anjing, aku hanya bisa memelihara kucing saja. Biarpun begitu aku benar-benar menyayangi kucingku, yah membicarakan dia aku jadi sangat rindu. "
Bryant tersenyum, sekarang dia punya sesuatu yang bisa membuat mereka semakin akrab.
" Mau melihat video Bulgo? "
" Mau! "
Elle terus tersenyum, bahkan sampai tertawa beberapa kali karena gemas dengan tingkah Bulgo yang kuat biasa pintarnya, begitu juga dengan Bryant yang sedari tadi sibuk menjelaskan momen di mana Video itu di buat. Disisi lain, seorang mata-mata yang di utus oleh Jarvis untuk selalu mengikuti kemana Elle pergi sudah mengirimkan banyak sekali gambar dimana Elle dan Bryant bersama dan terlihat sangat akrab.
Setelah kembali dari menemui Bryant, Elle kembali ke rumah dan langsung menuju kamar Vivian untuk menyerahkan roti yang ia beli sebagai alasan. Sayang sekali, karena baru akan berjalan masuk seorang pria yang pernah mencoba untuk melecehkan Elle datang membuat Elle terkejut dan langsung menghentikan langkah kakinya.
" Kau terlihat sangat baik ya, Elle? " Pria itu menatap dengan tatapan yang begitu menakutkan, menyeringai kejam membuat Elle mengeratkan kepalan tangannya.
Beberapa detik kemudian.
" Tuan, apa kepala anda sudah baik-baik saja? " Elle tersenyum dengan begitu hangat seolah tak terlibat takut sama sekali membuat pria itu merasa kesal meski tak ia tunjukan.
" Wah, kau masih bisa tersenyum indah seperti itu, apa karena Jarvis melindungi dengan sangat ketat? "
Elle kembali tersenyum.
" Tuan Johan, anda ingin minum teh dulu? "
Baiklah, kau yang datang sendiri padaku pria bajingan. Mari kita lihat seberapa bergunanya kau untukku.
Bersambung.