
" Kau boleh menganggap ku tidak tahu malu, tidak tahu diri, rendahan, bodoh, brengsek, apapun lagi silahkan saja. Tapi, coba tolong lihat lah bagaimana dirimu, di usiamu yang bukan anak baru gede itu kau sudah bisa memiliki pencapaian apa? Kau hanya sibuk kesana kemari berkumpul bersama Nona kaya lainnya, sampai kau lupa bahwa perempuan yamg terbiasa di manja, akan kesulitan dalam memerankan sosok istri, Kau tahu kenapa? Itu karena wanita sepertimu hanya tahu menerima, di bahagiakan, kau tidak akan paham sebuah hubungan resmi yang harus memiliki satu saja syarat, yaitu memberi dan menerima. Kau mahir menerima, tapi kau tidak akan bisa memerankan sosok pemberi. Bryant adalah seorang pria yang memiliki kualitas hidup tidak di ragukan lagi, kau pikir dirimu yang seperti ini akan mampu mendapatkan hati Bryant? Tidak, sampai matipun kau tidak akan pernah membuat Bryant tertarik sedikitpun saja padamu. "
Kalimat itulah yang di katakan Elle sehingga membuat Wendy kembali bersedih, menangis terus menerus bahkan malah semakin larut pun tak membuatnya ingin berhenti menangis. Padahal sudah hancur sekali perasaannya beberapa saat lalu, kini di buat semakin hancur.
Merasa sudah tak ada lagi kesempatan, Wendy menjadi putus asa dan akhirnya mengeluarkan sebuah gunting yang biasa digunakan untuk kebutuhan kesehariannya di dalam kamar. Tangannya gemetar, tali niatnya yang sudah tida ingin hidup jika Bryant tak menikahinya maka hanyalah kehidupan palsu untuknya. Wendy mengarahkan Guntung itu ke pergelangan tangannya, mengangkat gunting itu tinggi-tinggi dan menghunuskan ke nadinya.
" Ah! " Pekik Wendy sembari menangis pilu, darah sudah mulai mengalir dari pergelangan tangannya, dia bisa melihat derasnya darah itu bercucuran tapi anehnya dia malah teringat masa-masa dimana Bryant sering sekali datang ke rumahnya untuk bertemu kakaknya, Jarvis. Bryant saat kecil saja memang sudah sangat tampan, matanya yang bulat berwarna agak kecoklatan benar-benar bisa Wendy ingat dengan jelas. Bryant bukan anak laki-laki yang mudah dekat dengan anak perempuan, jadi Bryant memang tidak suka bika dekat dengan Wendy kala itu. Tapi meski begitu Bryant memang benar-benar pria yang sangat perhatian kepada orang lain. Pernah suatu hari Wendy terjatuh saat berlari, Bryant yang ada di sana segera membantu untuk membersihkan luka, dan memberikan obat. Memang Bryant sudah memiliki bakat mengobati sedari kecil, karena itu adalah ilmu yang di tinggalkan oleh orang tuanya agar Bryant bisa menjaga dirinya dengan baik nantinya.
" Ulurkan tanganmu, padaku! Biarkan aku membantumu untuk bangkit. Kedepannya jangan asal berlari saja, berjalanlah biasa karena berjala juga akan tetap sampai tujuan. " Kalimat itu adalah kalimat yang paling panjang yang di ucapkan Bryant padanya saat usianya sekitar delapan tahun.
Memang benar, Wendy adalah gadis yang sangat manja karena sedari kecil dia benar-benar di manja kan dalam banyak hal oleh orangtuanya. Tentu saja alasannya karena Wendy adalah anak gadis satu-satunya di keluarga mereka, jadi apapun Wendy bisa mendapatkan dengan muda tanpa mengenal usaha.
Bryant, pemuda itu tetap bekerja keras meskipun Ayah dan Ibunya sudah meninggalkan banyak harta untuknya, bahkan bisnis, properti, juga saham masih tertinggal hingga sekarang ini. Bryant benar-benar menjadi sosok yang hebat dan sempurna di mata Wendy, sebab itulah dari hari ke hari Wendy menjadi tergila-gila oleh semua hal tentang Bryant.
Sayang sekali, hatinya yang selama ini sengaja dia tutup untuk semua pria dengan maksud agar untuk menjadikan Bryant yang pertama dan terakhir malah menjadi hancur tak ada harapan sedikit pun.
Bruk!
" Kak Bryant...... " Panggil Wendy lirih sembari menatap lengannya yang terjatuh bersamanya dengan tubuhnya. Dingin, benar-benar sangat dingin sekali, lantainya basah karena darah, hatinya yang merasakan kecewa luar biasa itu tak ada satupun yang mengerti dan membuatnya lebih tenang.
" Tolong! "
Elle tersentak, dia yang baru saja menarik selimut dan berniat membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang nyaman itu malah jadi harus menghentikan niatnya dan harus lah dia melihat apa yang terjadi di luar kamarnya.
"Cepat hubungi Nyonya dan Tuan Jarvis, aku akan segera berangkat ke rumah sakit! " Ucap seorang pelayan dengan suara lantang. Pelayan itu dengan segera membawa tubuh Wendy untuk di bawa ke depan, atau mungkin ke mobil karena mereka ingin segera membawa Wendy ke rumah sakit.
Semua orang sibuk, sementara Elle yang melihat beberapa adegan itu, melihat Wendy serta tubuhnya terdapat banyak darah dengan tatapan terkejut.
Kaget sekali, ternyata darahnya hanya segitu saja? Hah! Tidak mungkin mati kan?
Elle tersenyum tipis, bukankah sekarang Elle sudah sangat tega? Yah, memang begitu, lantas apakah dia menyesal? Tidak! Jawabannya adalah tidak.
Tangan Wendy, kedua tangan itu telah menyakitinya beberapa kali, mulutnya telah memaki beberapa kali, tapi dia masih tetap menahannya hingga rasa sabar itu menghilang, maka tolong jangan salahkan Elle yang tidak berperasaan itu.
Elle dengan santainya masuk ke dalam kamar lagi. Dia merebahkan tubuhnya dengan santai, dan mulai perlahan menutup mata karena perasaan lelah dan juga ngantuk yang luar biasa dia tahan sedari tadi.
Setelah hari dimana Wendy di bawa ke rumah sakit, suasana rumah memang terasa sangat sepi jauh berbeda dari sebelumya. Jarvis tidak pulang karena tengah menjaga sang adik yaitu, Wendy. Sementara Ibu Diana, pelayan membawa kopernya tadi pagi-pagi sekali, hanya saja dia tidak masuk ke rumah karena ingin segera menemui Wendy di rumah sakit.
Elle benar-benar tidak menyangka kalau keadaan akan sepi sangat terkecuali saat Vivian datang untuk bergabung di meja makan.
" Kau pasti masalah utama nya sampai Wendy masuk ke rumah sakit, bukan? "
Elle tersenyum setelah memasukkan potongan buah ke mulutnya. Elle tidak menjawab sebentar karena dia tengah mengunyah makanan di mulutnya.
Elle menatap Vivian, dia tersenyum sinis dan juga menatap angkuh membuat Vivian mengeryit bingung.
" Bukan aku masalahnya, tapi masalahnya adalah dirinya sendiri. Kau tahu kenapa? Karena dia tidak mampu menjadi wanita idaman pria yang ia sukai, dia menjadi gila hanya karena itu dia menjadi tidak segan-segan menyakiti dirinya sendiri. Kau bisa menyimpulkan maksudnya kan? "
" Masalahnya adalah karena, Wendy bodoh? " Vivian menatap Elle tajam.
" Benar sekali, sama sepertimu. "
" Apa?! "
Elle terkekeh, lalu kembali menatap Vivian.
" Kau juga buta karena perasaan cintamu terhadap Jarvis, kau tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi, tapi sungguh aku menyukai kau yang seperti sekarang ini. "
" Kau, apa kau sedang mempermainkan ku?! "
Iya, sebentar lagi aku akan memberikan pukulan lagi untukmu, bersiaplah Vivian.
Bersambung.