Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 34 : Pengertian Yang Salah



Elle mengernyitkan dahinya seraya perlahan membuka matanya yang terasa begitu berat. Begitu dia bisa melihat perlahan, dia terdiam sebentar memperhatikan sosok yang duduk di dekatnya dengan mata tertutup.


Jarvis......


Pria itu tertidur dengan posisi duduk, sebentar Elle mengedarkan pandangan, dan melihat dekorasi ruangan serta selang infus yang terpasang jelas dia berada di rumah sakit. Ah, dia ingat sekarang, hari itu dia benar-benar menyayat lehernya karena benar-benar takut kalau sampai di lecehkan. Untunglah dia tahu batasan dan tidak sampai melukai urat nadinya meksipun lumayan juga darah yang keluar dari kulitnya.


Elle terdiam tak lagi menatap Jarvis karena dia terlalu emosi setiap kali melihat wajah Jarvis yang mengingatkan dengan apa yang di lakukan Jarvis. Gila memang, menyuruh dua orang pria asing untuk melecehkan istrinya sendiri, apakah benar Jarvis adalah manusia? Entah harus bagaimana menghadapi Jarvis dan terus berpura-pura di saat hatinya membendung kemarahan yang luar biasa. Elle kembali menutup matanya karena dia memang terlalu malas kalau harus berbicara dan berpura-pura saat Jarvis bangun nanti.


Sungguh sangat beruntung, tak lama Elle kembali menutup matanya, Jarvis terdengar mengerakkan tubuh, nafasnya yang berat terhembus beberapa kali membuat Elle paha benar jika Jarvis sudah bangun jadi dia akan terus berpura-pura tidur sampai Jarvis pergi dari sana.


Jarvis, pria itu terus menatap Elle yang masih menutup mata. Padahal Dokter bilang luka yang di dapatkan Elle dari kenekatannya tidaklah berbahaya, dan akan sadar tak lama lagi. Tapi kenapa sampai pagi dia bangun Elle masih belum sadar? Jarvis kembali menatap Elle lebih intens dari pada sebelumnya sembari membatin, apakah sebenarnya Elle sudah bangun dan sekarang dia sedang berpura-pura tidur? Jika memang seperti itu seharunya dia pergi dulu sebentar agar Elle bebas melakukan apapun bukan?


Benar saja, setelah membuang nafas kasarnya Jarvis bangkit dari posisinya dan keluar dari ruangan.


Nikmatilah waktumu, dan semoga kau tidak mengulangi lagi kesalahan itu agar aku juga tidak keterlaluan dengan mu.


Karena dia juga banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, Jarvis segera kembali ke rumahnya dan dia juga sudah meminta orang untuk menjaga di depan pintu ruangan Elle, dan melarang semua orang tidak berkepentingan untuk datang. Adik serta Ayahnya Elle juga tidak tahu kondisi Elle, jadi sudah jelas kalau tidak akan ada yang boleh masuk kecuali Jarvis seorang.


Setelah kepergian Jarvis, Elle bangkit dari posisinya, duduk di atas brankar sembari berpikir segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di luar dugaannya.


" Jarvis, sebenarnya apa yang kau pikirkan? " Gumam Elle laku membuang nafasnya. Sebenarnya memang dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi sehingga semua berjalan Seperti sekarang ini, tapi luka yang di berikan Jarvis sudah sangat dalam hingga memikirkan kembali soal cintanya kepada Jarvis membuatnya merasa takut luar biasa.


Sesampainya di rumah, Jarvis langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan diri untuk segera bekerja. Tadinya dia ingin sekali segera menuju tempat kerja, tapi saat baru beberapa langkah meninggalkan pintu kamar, Vivian datang dan langsung memeluknya erat-erat.


" Sayang, kenapa semalam tidak pulang? Aku menunggumu sampai pagi tadi. Untunglah kau pulang dan baik-baik saja, aku benar-benar khawatir sekali terjadi sesuatu denganmu. " Vivian sebenarnya tahu benar jika semalaman Jarvis menunggu Elle di rumah sakit, tapi bertingkah sok tidak tahu dan menunjukkan lebih banyak perhatian seperti saran Elle patut juga untuk dia coba.


" Sayang bagaimana aku bisa menjauh darimu? Kau tahu benar kalau aku tidak bisa kalau tidak mengkhawatirkan mu kan? Kalau memang aku dan caraku memperhatikanmu mengganggu, maka aku- "


" Tepat sekali, memang mengganggu jadi tolong mengerti dan menjauhlah untuk sementara waktu ini. "


Vivian tersentak dan terdiam karena tidak bisa berkata-kata. Sebenarnya yang Vivian tahu Jarvis memang sangat dingin dalam bersikap, hanya saja saat berada di depan Elle dia akan memperlakukan dirinya dengan begitu lembut seolah Vivian benar-benar wanita yang Jarvis cintai. Tapi beberapa akhir ini Jarvis jadi semakin dingin dan jelas itu membuat Vivian merasa kecewa luar biasa.


" Sayang, beberapa hari terakhir kau semakin menjauh dariku, aku bisa menerimanya dan memahaminya. Tapi aku adalah istrimu yang seharusnya memperhatikanmu, melayani mu dan tidak salah juga kalau aku mengkhawatirkan mu. Tapi kalau kau semakin menjauh seperti ini, bukankah kau sudah terang-terangan ingin melepaskan aku? Aku tidak punya apapun selain dirimu, jadi kalau aku perlu menjauh, aku benar-benar tidak bisa. "


Jarvis terdiam menahan kesal, sebenarnya bagaimana cara membuat Vivian mengeryit jika untuk berpura-pura terus menerus itu sangatlah sulit. Selama ini dia terbebani dengan hutang Budi dan terpaksa menikahi Vivian karena permintaan Vivian yang kala itu dia tengah luntang Lantung tak karuan dan tak memiliki arah tujuan yang jelas.


" Vivian, gunakanlah otakmu baik-baik kalau kau masih ingin berada di sini. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini, hanya karena aku diam saja dan tak memberikan petunjuk yang bisa membuatmu merasa jika aku tahu semua, seharunya kau tidak gegabah dan memberikan banyak masalah untukku. Elle biar menjadi urusanku, kau jangan berani-beraninya ikut campur untuk masalah ini. " Jarvis menggerakkan lengannya agar tangan Vivian terlepas dari sana dan segera meninggalkan Vivian.


Vivian mengepalkan kedua tangannya dengan wajah marah. Bukan kepada Jarvis, tapi kepada Elle. Padahal dia sudah bersikap lebih kalem, pengertian dan perhatian, tapi kenapa Jarvis malah lebih tertarik sama membahas Elle di Bandung membahas kebersamaan mereka? Jika saja saat ini dia tidak sadar terus di awasi, dia pasti akan memilih untuk mendatangi Elle dan melampiaskan kemarahannya.


" Dasar brengsek! Aku benar-benar harus membuatmu cepat keluar dari rumah ini bagaimanapun caranya, aku akan membantumu mendapatkan banyak kesempatan untuk menemui pria yang kau sukai, dengan begitu kau akan cepat pergi kan, Elle? " Gumam Vivian sembari menatap Jarvis yang semakin menjauh darinya.


Jarvis membuang nafas kasarnya begitu dia duduk di dalam mobil. Sebenarnya dia benar-benar lelah sekali, badannya juga sakit karena tidur dengan posisi duduk lumayan lama, tapi tetap saja dia harus bekerja karena banyak sekali jadwal untuk hari ini.


Jarvis mengeluarkan ponselnya saat dia teringat akan sesuatu untuk menghubungi seseorang.


" Bisa kita bertemu nanti, Bryant? "


Bersambung.