Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 86 : Pencuri Yang Sebenarnya



" Apa-apaan ini?! Siapa yang sudah mencuri uang dan juga lainnya?! " Kesal Ibu Diana yang belum lama pulang ke rumah. Awalnya dia hanya ingin meletakkan gelang yang digunakan di tempat biasa, tapi begitu meletakkan gelang itu dan tak sengaja melihat ke arah dimana perhiasan sehari-hari tak ada, tentu saja dia terkejut bukan main. Segera di mengecek seluruh isi kamarnya, dan juga brangkas nya yang banyak sekali benda berharga menghilang dari sana.


" Pelayan! Kumpulkan semua orang di ruang tengah! "


Setelah semua pelayan di kumpulkan di ruang tengah, Ibu Diana datang dengan wajah tegas, dingin, dan garang. Iya, tentu saja dia sangat marah, jumlah barang berharga yang hilang dari kamarnya sangat banyak, bahkan lebih dari tiga miliar. Meskipun surat tanah, kepemilikan vila, apartemen, dan surat-surat lainnya masih utuh, tetap saja dia tidak mungkin merelakan yang sebanyak itu di nikmati oleh pencuri. Padahal uang itu dia dapatkan dengan susah payah.


" Siapa dari kalian yang mengambil uang dan benda berharga lain dari kamarku? " Tanya Ibu Diana menatap satu persatu pelayan yang berdiri di hadapannya berbaris rapih dan menunduk hormat seperti biasanya.


" Jawab! "


Semua pelayan tersentak, mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung. Mereka tentu saja tidak tahu, tapi mereka juga tidak berani mengatakan apapun.


" Kalian masih tidak mau mengaku? Hah! Lihat saja kalau kalian masih tetap diam, aku sendiri yang akan turun tangan saat pelakunya terungkap. " Ibu Diana masih terlihat kesal, tapi dia sengaja mengumpulkan semua pekerja rumahnya berada di sana sembari menunggu satu pekerja yang di percaya untuk melihat rekaman kamera pengawas yang terpasang di kamarnya.


" Ada apa ini, Ibu? " Tanya Vivian yang tadi tak sengaja mendengar suara Ibu mertuanya. Yah, dia sebenarnya sudah tau kalau Ibu mertuanya akan kembali dari luar negeri hari ini. Sebenarnya dia juga sengaja datang belakangan karena sedang mencoba sebaik mungkin mengatur gestur tubuh serta ekspresi wajahnya agar tidak terlihat kaku dan gugup sehingga tidak menimbulkan kecurigaan terhadapnya.


" Salah satu dari mereka sudah mencuri banyak barang dari kamar ku, tapi tidak ingin mengaku, maka aku hanya bisa menunggu saja sekarang. "


Vivian menghela nafas sembari menggeleng keheranan. Dia seolah ingin menunjukkan betapa heran dan terkejutnya dia kalau di rumah itu ada pekerja yang begitu tidak tahu diri sampai megambil barang berharga di kamar majikannya di saat majikannya sedang pergi ke luar negeri.


" Kalian ini tidak punya otak ya? Bagaimana bisa kalian betindak semacam itu? "


" Maafkan kalau saya lancang, Nyonya. Tapi kami tidak mencuri, kami bekerja di sini sudah bertahun-tahun dan kami tidak pernah mendengar keluhan dari Nyonya atau majikan kami yang lain tentang kehilangan. Walaupun kami sering melihat banyak benda berharga milik Nyonya, juga Tuan Jarvis saat membersihkan kamar tidur, tapi kami bersumpah tidak ada dari kami yang mengambil nya. " Ucap salah satu pelayan yang memang sudah cukup lama bekerja di rumah keluarga Jarvis untuk mewakili teman-teman nya.


" Cih! Mana ada maling yang akan mengaku? Oh iya! Ngomong-ngomong setelah Nyonya pergi aku melihat ada pelayan yang masuk ke kamar Ibu. Aku yakin sekali, dan sepertinya aku akan ingat jelas kalau melihat wajahnya lagi. " Vivian berucap lalu setelah itu dia menjalankan kakinya dengan menatap satu persatu pelayan yang ada di sana.


" Ini dia! " Vivian mencengkram kuat pundak seorang pelayan wanita.


" Dia adalah pelayan yang masuk ke dalam kamar Ibu, aku melihat nya dengan jelas! "


Pelayan itu menggeleng dengan cepat, tubuhnya yang gemetar dan dingin terjadi karena dia merasakan takut kepada hukuman para orang kaya yang akan begitu kejam. Selain itu, cengkraman tangan Vivian begitu kuat dan menyakitinya sehingga dia juga takut kalau banyak bicara justru dia lah yang akan di salahkan.


" Sudah lah, Vivian. Kita tunggu saja, sebentar lagi juga kita akan menemukan jawabannya. "


" Pelakunya adalah orang ini, Ibu! Aku melihatnya sendiri dia masuk ke dalam kamar Ibu saat Ibu sudah pergi ke bandara waktu itu. Dia bilang hanya ingin membersihkan kamar saja, jadinya aku percaya. "


Ibu Diana membuang nafasnya. Memang mudah kalau menuduh seperti itu, tapi setelah kejadian Elle dan juga Fredon, dia benar-benar tidak ingin asal tuduh saja dan harus memiliki bukti agar tidak perlu ada salah paham lagi kedepannya.


" Di kamar ku ada kamera pengawas kok, jadi tenang lah saja dulu dan tunggu saja sampai rekaman nya akan di berikan kepada pelayan kepercayaan ku yang sekarang sedang mengecek. "


Vivian terdiam membeku dengan perasaan terkejut luar biasa. Kamera pengawas? Sungguh ada lah? Bukankah kamar pribadi tidak di Padang kemaren pengawas? Vivian melepaskan cengkraman tangannya, dia nampak sebentar berpikir harus bagaimana sekarang ini.


Kabur!


Iya, itu adalah yang bisa di pikirkan oleh Vivian sekarang ini. Vivian memaksakan senyumnya lalu menatap Ibu Diana.


" Bagus lah kalau begitu, Ibu. Aku masuk ke kamar dulu untuk mengambil ponsel ku. " Ucap Vivian dan langsung mendapati anggukan setuju dari Ibu Diana.


Begitu sampai di dalam kamar, Vivian dengan segera mengambil dompetnya karena di sanalah dia menyimpan semua barang yang sudah di uang kan karena niatnya ingin dia kirim kepada Kelie sebagai uang tutup mulut.


" Sialan! Bagaimana bisa aku tidak menyadari kalau ada kamera pengawas? Tidak tidak tidak! Aku harus segera pergi! " Vivian mengambil tas nya, dia sudah tidak ada waktu lagi untuk mengemas pakaian jadi dia harus segera pergi. Tapi begitu dia membuka pintu, Ibu Diana sudah berdiri tepat di hadapannya, berdiri dengan wajah dingin di ambang pintu membuat Vivian ketakutan hingga tak bisa bicara sedikitpun.


" Mau kemana kau Vivian? Kenapa kau buru-buru sekali? " tanya Ibu Diana dan tentunya ekspresinya benar-benar tidak baik dan bisa dengan mudah Vivian artikan jika Ibu Diana sudah mengetahui siapa pencurinya.


" A aku, aku, aku cuma ingin pergi sebentar membeli sesuatu. A aku sedang, sedang datang bulan, iya! aku sedang datang bulan, tali pembalut ku habis, hanya ingin beli itu saja. "


Ibu Diana tersenyum miring, lalu menatap pelayan pria yang tadi mengecek kamera pengawas untuk membawa Vivian keluar dari kamar itu.


" I Ibu, Ibu, ja jangan begini, kenapa dia memegang ku seperti ini? " Protes Vivian berharap Ibu Diana jangan menyuruh pelayan bertindak kurang ajar. Bagiamana pun dia masih ingin di hargai, dan Ibu Diana cukup membicarakan masalah itu berdua saja dengannya tanpa ada yang tahu.


" Tenang saja, Vivian. Aku bukan hanya akan memintanya untuk memegang mu, sebentar lagi kau akan di bebaskan kok. Kau, akan di tendang sejauh mungkin dari rumah ini. "


" Tidak, tidak, jangan! Jangan, Bu! Aku masih ingin di sini, aku masih ingin tinggal di sini, aku masih ingin bersama Jarvis! "


Bersambung.