
Elle tersenyum puas setelah menutup sambungan teleponnya. Barusan dia menghubungi keponakan Ayahnya yang bekerja sebagai polisi lalu lintas yang aktif untuk patroli, tujuannya adalah untuk melewati jalanan di depan gerbang rumah Jarvis, untuk waktu sudah Elle sesuaikan, dan sekarang Elle benar-benar yakin benar jika Kelie bisa selamat sampai tujuannya.
Benar saja, ternyata menurut sepupunya ada mobil yang terus parkir seperti menunggu seseorang, dan begitu Kelie keluar dari pintu gerbang bersamaan dengan banyak sekali barang juga koper besar, hal itu di gunakan untuk membuat alasan agar sepupu Elle membantunya.
Sebuah mobil sedan hitam yang sedari tadi menunggu Kelie keluar hanya bisa diam sebentar memperhatikan sampai polisi yang tiba-tiba keluar dari sana untuk pergi. Tapi sayang sekali, polisi yang adalah sepupu Elle justru membantu Kelie memasukkan batang ke bagasi dan mempersilahkan Kelie masuk begitu saja.
" Sial! Kenapa segala ada patroli di jam segini? Polisi patroli itu juga terllau baik, apa dia tidak ada kerjaan?! " Kesal salah satu orang yang diminta Elle untuk mengambil kembali segala perhiasan dan uang yang di bawa oleh Kelie.
Mereka lantas mengikuti mobil patroli itu berharap memiliki kesempatan nanti ketika Kelie keluar dari mobil. Tapi sungguh sial karena sepertinya mobil patroli itu berjalan bak sedang patroli dan membuat dua orang yang memiliki niat jahat kepada Kelie menjadi semakin kesal.
" Apa-apaan?! Sebenarnya kenapa sih mobil patroli itu malah keliling tidak jelas?! " Makinya lagi karena tak tahan dengan tingkah si polisi yang terus menjalankan mobilnya tiada henti bak tengah patroli saja.
Di dalam mobil patroli, sebenarnya sepupu Elle sudah bukan jamnya lagi untuk patroli, dia seharusnya istirahat, tapi karena Elle jarang sekali meminta bantuan sedangkan keluarganya banyak menerima kebaikan dari keluarga Elle, dia tentu saja akan dengan senang hati membantu Elle tanpa mau bertanya sebabnya karena dia tahu benar Elle sangatlah tertutup tentang masalah pribadinya.
" Pak polisi, kenapa kita terus berputar-putar seperti ini? " Tanya Kelie bingung.
" Mobil di belakang masih terus mengikuti, lebih baik jangan ke tempat tujuan dulu sampai dia kehilangan jejak. "
Kelie menoleh ke belakang dengan tatapan terkejut, sungguh dia tidak menyangka kalau Elle akan banyak membantunya seperti ini. Padahal dia sudah melakukan banyak hal curang kepada Elle, benar-benar membuatnya merasa malu sendiri.
Setelah cukup lama dan bosan berjalan ke sana kemari tidak jelas, sepupu Elle itu mematikan sirine dan mengemudikan mobilnya dengan lebih fokus, melaju cepat dari sebelumnya, berputar mencari jalan, menyalip beberapa mobil sedan juga truk serta bus.
Beberapa saat kemudian, Kelie dan sepupu Elle sudah sampai di kediaman orang tua Kelie, dan sepupu Elle juga sudah akan kembali.
Kelie membuang nafasnya, sekarang boleh saja dia aman, tapi seperti yang di katakan Elle, Vivian tidak akan menyerah maka dia hanya bisa terus melakukan hal sesuai perintah Elle untuk melindungi nyawanya dan juga melindungi keluarga serta uang yang dia dapatkan.
" Nyonya Vivian, ah maksud ku adalah, Vivian. Lihat saja nanti, aku tidak akan berhenti sampai di sini, aku akan melakukan semua yang Nona Elle katakan sampai aku melihat dengan kedua bola mataku sendiri kau jatuh ke dalam lubang yang paling dalam, kotor dan menyesakkan. " Kelie tersenyum miring penuh dendam. Sekarang dia harus segera masuk, bergerak cepat untuk pindah segera ke rumah atau apapun yang dekat dengan kantor polisi. Benar-benar berkat Elle, dia bisa meninggalkan kontrakan yang hampir ambruk itu, lalu tinggal di tempat yang lebih layak bahkan bisa membuka usaha dengan uang yang dia punya sekarang.
***
Vivian mencengkram rambutnya sendiri yang sudah acak-acakan karena kesal luar biasa. Padahal dia menganggap rencananya sudah sangat sempurna dan membayangkan semua perhiasan miliknya kembali padanya, juga sudah bisa mengembalikan uang milik Ibu mertua serta milik adik iparnya.
Suara ketukan pintu juga ogah Vivian menyahut. Dia diam saja saat pelayan mengatakan untuk dia bergabung dan makan malam, dia takut sekali kalau Ibu Diana dan Wendy menanyakan perihal uang mereka, lalu kalau Jarvis bertanya dan mulai curiga dan mencari tahu apa yang terjadi, bukankah semua akan kacau balau?
" Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa mengembalikan uang satu miliar milik Wendy dan Ibu? Kalau aku ambil dari kartu Jarvis, dia pasti akan menyadarinya kan? Bagaimanapun dan sekaya apapun Jarvis kalau yang keluar sudah ratusan apalagi miliar tentu saja dia akan bertanya kan? Ah....! Gila! Sialan! kenapa juga orang itu mengirimkan orang bodoh untuk melakukan apa yang aku minta?! "
Di dapur, Elle benar-benar merasa begitu lega karena beberapa saat lalu mendapatkan kabar bahwa Kelie sampai di rumah dengan selamat, bahkan sampai dengan sekarang mobil yang terus mengikutinya juga tidak muncul di sekita rumah kontrakannya. Besok pagi Kelie dan keluarganya sudah akan pindah di dekat rumah Ayahnya Elle, karena kebetulan sekali di sana ada rumah sewa yang pasti cocok untuk Kelie sekeluarga, kebetulan juga dekat dengan kantor polisi.
" Kenapa sih Vivian tidak keluar juga? Ibu sudah lapar loh. " Gerutu Ibu Diana.
" Sudahlah Bu, kita makan saja duluan. "
Ibu Diana mengangguk setuju dan segera menikmati makan malam yang hampir dingin hanya untuk menunggu Vivian saja. Jarvis juga tak nampak perduli, dia menikmati makan malamnya dengan tenang.
" Hei, nanti buatkan aku jus mangga! Jangan pakai susu, gunakan saja madu dan juga yogurt sedikit. Antar ke kamarku, dan jangan menggunakan es terlalu banyak. " Ucap Wendy setelah selesai makan malam, dia berjalan mendekati Elle dan mengatakan itu.
Malas, Elle mendiamkan saja Wendy tanpa ingin menjawab. Sementara Eliza, dia sedang sibuk merapihkan meja makan karena Jarvis sudah lebih dulu kembali ke kamarnya, sedangkan Ibu Diana sedang berada di ruang tengah untuk menghubungi salah satu keluarganya dan entah juga membicarakan apa.
Merasa tak di hargai karena perintahnya di abaikan, Wendy berjalan cepat lalu menarik rambut Elle cukup kuat membuat Elle berdesis menahan sakit.
" Lepaskan! " Elle mencengkram tangan Wendy dan menepisnya cukup kuat juga.
" Kau ini tuli ya?! Kau tidak dengar aku memerintahkan mu untuk apa?! " Kesal Wendy dengan kedua bola matanya yang membulat tajam.
Wendy, kau adalah target berikutnya.
Ucap Elle tapi kepalanya menunduk berpura-pura merasa takut.
Bersambung.