Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 68 : Berhenti Menggonggong!



Penelope berdiri di depan gerbang utama rumah yang di tinggali oleh keluarga Jarvis. Sudah beberapa hari ini setelah pertemuannya dengan Elle terakhir kali di restauran, dan besok adalah hari ulang tahun Penelope sendiri. Tapi rasa gelisah dan khawatir yang luar biasa bahkan semakin membuat tidurnya tak nyenyak sekalipun. Tujuan Penelope berada di sana tentu saja untuk bertemu kakaknya, meski pernah kakaknya melarang untung datang, dan menghubungi saja jika ingin bertemu kakak nya, tapi belakangan ini kakaknya sama sekali tak menerima panggilan telepon, atau pun membalas pesan darinya.


Penelope membuang nafasnya, dia memberanikan diri untuk bertanya kepada satpam yang berjaga di pos karena tentu saja dia tahu akan percuma saja dia terus berdiri di sana tanpa tindakan lebih agar bisa bertemu dengan kakaknya.


" Pak, boleh izinkan saya masuk dan bertemu kakak saya? "


Satpam itu segera berjalan mendekat.


" Kakak anda siapa? "


" Istrinya kak Jarvis. "


" Istrinya Tuan Jarvis? Sudah sekitar dua jam keluar rumah, Nona. "


Penelope menghela nafasnya.


" Kira-kira pulang jam berapa ya pak? "


" Wah, maaf sekali saya tidak tahu karena saya tidak berani bertanya kepada istri majikan saja kalau dia mau pergi. "


Penelope memaksakan senyumnya, sebenarnya tahu kalau Elle sedang pergi seharunya dia lega karena tidak terjadi sesuatu sama sekali dengan Elle, tapi kenapa dia tidak merasa tenang sama sekali?


" Pak, boleh saya menunggu sampai kakak saya kembali? "


" Eh, itu sudah kembali, Nona. "


Tin Tin


Suara klakson mobil membuat Penelope menepi dan mempersilahkan mobil itu masuk,sementara satpam juga dengan segera membuka pintu gerbangnya.


" Kau siapa? "


Penelope membulatkan matanya saat seorang wanita yang tidak dia kenal bertanya, dan dia berada di dalam mobil yang hanya dia seorang saja. Penelope jelas bisa melihat tidak ada orang lain di sana karena Vivian membuka jendela kacanya sampai full.


" Dia bilang, dia adik anda. " Ujar satpam itu yang kini justru terlihat kebingungan.


" Adik? " Vivian mengeryit lalu memutuskan untuk keluar dari mobil setelah dia memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah, lalu membuatkan satpam yang memasukkan mobilnya ke garasi.


Vivian menatap wajah Penelope yang terlihat sangat mirip seseorang, Vivian terus mengingatnya, ah! Sekarang dia ingat, Elle! Gadis itu sangat mirip dengan Elle.


" Adik ku? Tampilan kumuh begini mana mungkin cocok menjadi adik ku? "


Penelope Yang sedari tadi menatap tak percaya hanya bisa menahan degup jantungnya yang begitu kencang. Istri Jarvis? Mungkinkah satpam itu salah mengenali orang, atau kah dia salah mendatangi rumah dan kebetulan namanya sama dengan nama kakak iparnya?


" Kakak ku, namanya Grizelle. Orang memanggilnya Elle, mungkin aku salah alamat, maaf mengganggu waktu anda. "


Vivian tertawa dengan mimik mengejek membuat Penelope yang tadinya ingin segera beranjak pergi menjadi tertahan karena bingung dengan maksud dari Vivian tersebut.


" Elle? Dia itu hanya pelayan di rumah ini, aku adalah nyonya yang sebenarnya. Aku, adalah istri dari Jarvis yang kau anggap sebagai kakak ipar mu. "


" Dimana kakak ku? Biarkan aku masuk dan bertemu kakak ku, aku mohon. "


Vivian memutar bola matanya jengah.


" Hei gadis kumuh, kakak mu itu sudah tidak tinggal di sini lagi, jadi kau mau mengobrak-abrik seisi rumah ini ya mana mungkin kau akan bertemu dengan kakak mu itu? Dia sudah di tendang dari rumah besar ini karena Jarvis mual setiap kali melihat wajahnya. "


Plak!


Penelope yang sulit mengendalikan emosinya memberikan tamparan di pipi Vivian.


" Ah! " Vivian memekik lalu mendelik menatap Penelope yang melotot marah dengan nafas yang menderu.


" Kakak dan adik sama saja! Dasar kumuh! Rendahan! Tidak tahu malu! "


" Diam! " Penelope berteriak marah hingga satpam tadi bergegas mendekati, ada juga dua pelayan yang tidak sengaja lewat akhirnya mendekat ke arahnya.


" Yang aku tahu adalah, kakak ku di nikahi secara sah! Pernikahannya tercacat dalam catatan sipil, kedua, kakak bahkan jauh lebih cantik di banding dirimu, kalaupun Jarvis itu muak, seharusnya dia muak melihat wajahmu! "


Vivian mendelik marah, tapi melihat tatapan Penelope yang seperti ingin membunuh orang, Vivian yang agak pusing karena alkohol jadi agak takut untuk melawan.


" Kau terus memanggil ku kumuh, tapi orang gila juga cukup pintar untuk membedakan mana yang pantas untuk di lihat dan di katakan cantik. " Penelope mendorong dada Vivian kebelakang dengan tatapan yang semakin memperlihatkan kemarahannya.


" Mulut kotor mu, seharusnya berhati-hati saat mengatakan hal buruk tentang kakak ku, karena kalau tidak, aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu! "


Vivian yang jengah hanya bisa tertawa, ternyata keberanian yang dimiliki adiknya Elle itu benar-benar sama persisi dengan Elle.


" Hei, jangan senang dulu! Kau ingin tahu bagiamana kakak mu di perlakukan di rumah ini? Aku akan memberitahu mu. Pertama, Elle sellau di pukuli, di kurung, di siksa, aku pernah menyayat lengannya dengan pisau karter, adik ipar ku pernah menusuk telapak tangannya dengan rokok yang menyala. Jarvis sendiri, hah! Dia sangat hobi loh menyiksa Elle. Kau mau tahu apa saja yang dilakukan untuk Elle? Aku akan memberitahu juga, Jarvis - "


Bugh!


Penelope meninju hidung Vivian sampai dia jatuh pingsan membuat semua pelayan berlari untuk menolongnya.


" Anjing betina yang tidak tahu diri, menggonggong terus menerus membuat telingaku sakit. Kau, akan tahu rasanya lengan mu perih karena di sayat, tunggu lah waktunya tiba. Dengan tanganku sendiri, aku akan menyayat lengan mu. " Ucap Penelope lalu beranjak pergi dari sana.


Bugh bugh bugh bugh.....


Penelope memukuli dadanya yang terasa sesak dan berdenyut. Air matanya tumpah tak tertahankan mendengar semua kalimat gila yang keluar dari mulut wanita tak dikenal tadi. Padahal dia berharap bisa mengelak apa yang di katakan wanita itu, tapi saat ingat bekas luka di tubuh kakaknya dia benar-benar seperti tertusuk besi panas dadanya.


" Dasar bodoh! Kalau hidup sesulit itu kenapa masih bertahan begitu lama? Apa karena aku dan Ayah? Hah! Pasti itu kan? Lagi-lagi bersikap seolah kau adalah manusia paling hebat yang bisa melakukan segalanya! Aku hanya ingin kau jujur padaku, ceritakan apa yang terjadi padamu. Meski aku akan terkejut, Meksi aku akan sedih, tapi aku bukan orang lemah yang tidak bisa di andalkan. Aku ingin kita saling berbagi beban, aku bukan ingin menjadi beban! Ah......! " Penelope mengabaikan hujan deras yang mengguyur tubuhnya. Sungguh dia tidak perduli karena derasnya air hujan itu benar-benar tak bisa membuatnya merasakan betapa sulitnya hidup sebagai kakaknya.


" Berhentilah menangis di jalanan seperti ini, katakan padaku apa yang terjadi, biarkan aku membantu mu sebisaku. "


Penelope terdiam, perlahan dia mengangkat pandangan dan melihat payung tengah memayunginya. Penelope berbalik badan, dan rupanya orang itu adalah pria yang datang ke restauran bersama kakaknya.


Bersambung.