
Elle menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan tubuhnya yang sangat lelah. Yah, rupanya berpura-pura sepanjang hari memang sangat melelahkan, di tambah dia selalu waspada tiada henti setiap kali masuk ke rumah yang baru saja dia tinggali bersama dengan Eliza. Jujur saja rencananya yang ingin menghancurkan Johan melalui Jarvis, begitu juga sebaliknya mungkin akan memiliki resiko yang sangat besar, tapi Elle yang sudah terbakar emosi dan dendam sama sekali tak merasakan keinginan untuk menyerah.
Suara ketukan pintu terdengar, Elle yang ingat benar selalu mengunci pintu mau tak mau harus bangkit dan melihat siapa yang datang. Cukup malas sebenarnya, tapi tidak mungkin juga kalau membiarkan saja karena takutnya itu adalah Eliza.
" Jarvis? " Elle terdiam membeku saat membuka pintu dan ternyata orang yang berada di sana adalah Jarvis. Sangat mengejutkan memang, selain ini terbilang masih sore, Jarvis datang kesana tentulah ada hal yang ingin dia bicarakan langsung atau ada yang ingin dia lakukan bukan?
" Ada apa? "
Jarvis terdiam dengan mimik wajah yang sama sekali tak bisa di baca oleh Elle. Sekarang Elle benar-benar hanya bisa membatin apakah benar yang ia pikirkan itu seperti yang di pikirkan Jarvis atau bukan. Tapi biarpun sudah berusaha sebaik mungkin, nyatanya Elle bukan lah siapapun hingga bisa mengetahui isi hati atau apa yang sedang di pikirkan orang lain.
" Aku datang kemari karena ingin, apa aku harus memiliki alasan yang kuat? "
Elle terdiam, ingin? Bagaimana bisa Jarvis mengatakan hal seperti itu padahal sudah jelas hubungan mereka tidak sedekat itu.
" Aku ingin masuk ke dalam, apa kau merasa keberatan? "
Elle memaksakan senyumnya, kalaupun dia menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sebenarnya, pasti Jarvis akan marah dan membuat ulah dengan menghukumnya, bukankah pendapatnya memang tidak ada gunanya?
" Iya. "
Elle menggeser posisinya berdiri agar Jarvis bisa masuk ke dalam kamar, lalu setelah itu dia menutup pintu dan duduk di pinggiran tempat tidur sembari memperhatikan Jarvis yang sudah hafal benar dengan kamar itu padahal jelas rumah itu baru di beli beberapa hari yang lalu. Sudah dua malam Elle tinggal di sana, belum terjadi apapun apakah setelah kedatangan Jarvis semua akan mulai tidak tenang?
Jarvis melepaskan jas yang ia kenakan, lalu
Jam tangan, dasi, dan membuka kancing kemejanya sampai batas dada agar dia merasa nyaman, lalu duduk di samping Elle tapi tak menatapnya.
" Apa saja yang kau lakukan hari ini? "
Elle sekarang tahu harus menjawab jujur, maka dia akan menjawab sejujur mungkin di bagian yang di perlukan saja, sesuai dengan apa yang di lihat oleh orang yang diminta Jarvis untuk mengikutinya.
" Sebenarnya tadi aku ingi membeli beberapa pakaian penutup bagian dalam, itu karena yang tersedia di rumah ini tidak sesuai dengan ukuran ku. "
" Kau bertemu seseorang yang tidak ingin kau temui hari ini? "
" Iya, memang ada. Tapi untungnya tidak terjadi apapun dan kami berbicara dengan santai. "
Jarvis menghela nafasnya.
" Kalau kau ingin pergi keluar, bilang dulu padaku supaya kau tidak perlu bertemu dengan orang yang tidak ingin kau temui. Kau juga bisa meminta Eliza untuk membelinya, kau berikan saja dia catatan, aku yakin dia bisa membeli sesuai yang kau butuhkan. "
" Baiklah. " Iya, itu sudah cukup untuk sekarang ini. Elle tentu saja akan membuat Jarvis menarik kembali orang yang dia minta untuk mengawasinya, dan di berikan waktu untuk bebas, tapi dia juga harus sedikit bersabar karena memaksakan keinginanya secepat mungkin hanya akan merusak dan menghancurkan rencana saja.
" Ini sudah mulai malam, kau tidak pulang? "
Jarvis terdiam sebentar, lalu menatap Elle.
" Apakah kau keberatan jika aku tinggal disini? "
Elle nampak bingung meski dia terus memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
" Jangan khawatir, kalau kau tidak nyaman aku akan tidur di sofa itu. " Tunjuk Jarvis menggunakan tatapan matanya.
Elle mengangguk setuju, walau bagaimanapun Jarvis memang adalah suaminya jadi wajar mereka tidur dalam satu ruangan yang sama. Hanya saja Jarvis memang harus agak menjauh darinya saat tidur, kenapa? Karena kalau tidak, Elle takut saat dia bangun tengah malam dan melihat Jarvis tertidur nyenyak dia akan melakukan sesuatu yang gila, seperti menikam atau semacamnya yang dapat membahayakan nyawa Jarvis, laku berujung dia akan mendekam di dalam penjara.
" Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Wendy? Apa dia sudah lebih baik? "
Jarvis menggeleng.
" Dia mencoba melukai pergelangan tangannya lagi dengan pisau buah, untunglah ada perawat yang datang dan menggagalkan rencana nya itu. Wendy benar-benar gila dengan pria itu, dia sulit mengontrol diri, Ibu sudah meminta psikiater untuk menemui Wendy, dan dia menyarankan untuk membawa Wendy ke tempat yang tenang, memiliki udara yang segar, dan juga tempat yang ramai sesekali agar dia mulai yakin akan berartinya nyawa yang ia miliki. Ibuku akan membawa Wendy ke luar negeri, dia akan di rawat oleh nenek dan kakek ku. "
Elle tersenyum tipis, di dalam hati dia membatin, bagaimana rasanya menderita? Tangan terluka, otak mulai tidak waras, tapi sudahlah. Elle sudah merasa cukup menghukum Wendy, asalkan dia tidak melakukan sesuatu padanya lagi, maka Elle masih akan berbalik hati untuk melepaskannya.
" Oh iya, kalau kau tinggal disini apakah Vivian akan baik-baik saja? Dia sangat pencemburu, aku takut kalau sampai dia melakukan hal yang tidak wajar. "
Jarvis membuang nafas kasarnya, dia membuka semua kancing kemejanya karena dia ingin mandi sebelum bersiap untuk tidur.
" Dia biasa tidur sendiri jadi mana mungkin dia akan merasa seperti itu. "
***
Vivian mondar mandir di dalam kamarnya menunggu kedatangan Jarvis dari kantor. Dia sudah mandi, memakai perawatan kulit di seluruh tubuhnya, memakai parfum, bahkan juga sudah membentuk rambutnya menjadi agak bergelombang seperti tren masa kini.
Satu, dua, tiga, empat, bahkan sudah dini hari dan Jarvis masih belum juga kembali. Vivian ingin menghubungi Jarvis, tali sayangnya dia tidak begitu berani karena Jarvis selalu melarang Vivian menghubunginya ketika tidak ada hal yang serius terkait kepada anggota keluarganya.
Vivian yang masih belum bisa tidur akhirnya membuka media sosial untuk melihat-lihat disana. Seperti biasanya, dia selalu mencari akun media sosial milik Jarvis yang hampir tidak pernah aktif, lali melihat miliki Elle. Setelah melihat akun media sosial Elle, Vivian benar-benar di buat meradang dengan unggahan Elle beberapa saat lalu.
Bersambung.