Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 53 : Tersiksa Oleh Ketakutan



Hari ini adalah hari dimana Wendy di bawa pulang kerumah, dan hari ini juga tanpa menunggu nanti atau bosa basi karena Wendy baru keluar dari rumah sakit, Jarvis datang ke kamar Wendy dimana Ibunya juga berada di sana. Jarvis menyerahkan handycam milik Fredon kepada Ibunya dan juga Wendy meminta untuk mereka lihat dengan seksama bagaimana Fredon yang selama ini mereka banggakan dengan segala macam perhatian juga manja yang di suguhkan oleh keluarganya hingga pada akhirnya Fredon terbentuk menjadi pria brengsek yang sangat tidak tertolong.


" Ini tidak mungkin, ini pasti editan! "


Ibu Diana menggeleng tidak percaya, dia benar-benar yakin bahwa Fredon adalah anak laki-laki yang sangat penurut, dia sangat atuh, bahkan Fredon juga sama sekali tidak pernah menunjukkan sifat buruk sama sekali kepada Ibu, juga kepada keluarga besarnya.


" Kalau Ibu masih tidak percaya, maka tanyakan saja kepada ahlinya, video itu palsu atau asli. Satu lagi, aku mendapatkan fakta lain mengenai Fredon yang di temukan di danau. Fredon, dia tidak bunuh diri, dia- " Jarvis mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yah mulai mengeras menahan segala perasaan kecewa dan juga terhina sendiri dengan apa yang di lakukan adiknya itu.


" Jangan bicara sembarangan kau, Jarvis! Adik mu itu sudah jelas-jelas bunuh diri! Dia itu sangat sensitif dan mudah sekali bersedih, dia memang bunuh diri! "


Jarvis membuang nafas kasarnya, sungguh dia tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan kepada Ibunya yang begitu berkeyakinan bahwa Fredon benar-benar sepolos yang ia bayangkan dan yang dia percayai selama ini.


" Kalau begitu terserah Ibu saja, percaya atau tidak Ibu bisa cari tahu sendiri nanti. " Jarvis menyerahkan sebuah amplop coklat yang dia simpan di balik jaketnya.


" Fredon, dia menggunakan obat-obatan terlarang. Hari itu, dia sedang sakau dan membutuhkan obat yang ia simpan di tasnya. Di dalam mobil ada sopir dan dia takut kalau sopir akan memberitahu orang rumah jadi dia beralasan sesak untuk menikmati obat terlarang karena kebetulan juga suasana sepi sekali saat itu. Tapi, karena tubuhnya sedang tidak stabil, obat itu jatuh ke air karena dia berdiri tepat di depan pagar pembatas. Dia yang tidak bisa mengendalikan diri mencoba mengambil kembali obat terlarang itu tanpa perduli dalamnya air di sana. "


" Berhenti! Jangan bicara lagi kau, Jarvis! Adik mu buka orang seperti itu! Jangan mengada-ada! Kau tidak boleh menjelekkan adikmu sendiri! "


" Kala begitu, buka saja email Ibu, aku sudah mengirim kamera dasbor milik truk yang melintas malam itu. Di dalam amplop itu juga terdapat semua bukti yang menguatkan ucapanku tadi, juga ada kaset rekaman dari salah satu wanita yang saat itu menjalin hubungan dengan Fredon. Dia memiliki rekaman saat Fredon menggigil seperti orang demam, padahal nyatanya dia sedang dalam keadaan sekarat membutuhkan obat terlarang. "


" Tidak, tidak mungkin! Anakku Fredon tidak mungkin orang yang seperti itu, dia pasti tidak seperti itu. " Ibu Diana menutup mulutnya sembari menangis, sementara Wendy, dia hanya bisa terdiam dengan wajah terkejutnya.


" Aku juga tidak ingin mengakuinya, aku tidak ingin mengakui jika adik ku melakukan banyak hal di luar nalar saat berada di luar rumah. Tapi, tidak ada manusia yang benar-benar mengenali orang lain jadi berhentilah menolak percaya karena jika di bandingkan dengan kenyataan pada akhirnya hanya akan melukai diri sendiri. "


Ibu Diana masih tidak ingin percaya, di menggeleng terus menerus sembari menangis, sementara Wendy juga jadi bingung sendiri bagaimana cara menenangkan Ibunya.


" Sekarang kalian sudah tahu tentang kenyataan yang sebenarnya, jadi tolong jangan menyakiti Elle lagi, fijslah dengan hidup kalian saja. "


Ibu Diana sontak menatap tajam begitu juga dengan Wendy.


" Kalau dia tidak menyakiti Fredon hingga Fredon mati, lalu bagaimana dengan Wendy? Gara-gara wanita itu adik perempuan mu hampir mati! "


Jarvis mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang mulai naik.


" Jarvis! "


" Berhentilah, Ibu. Aku lelah, aku benar-benar lelah harus bagaimana menghadapi Ibu. Kita bersalah, jadi setidaknya berhentilah membuat kesalahan baru agar penyesalan tak begitu dalam nantinya. "


" Keluar! "


Jarvis mengenal nafas, sepertinya dia benar-benar tidak bisa banyak bicara lagi sekarang. Sudah harus pergi, jadi Jarvis juga hanya bisa memilih untuk pergi dan masuk ke kamarnya untuk merenung sampai dia merasa cukup tenang baru lah nanti dia akan memikirkan bagiamana dia akan menghadapi masa depan.


***


Elle terdiam membaca kalimat tidak menyenangkan yang dikirimkan Johan padanya. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan pesan yang di kirim Bryant padanya.


Kalau nanti bertemu lagi, kau harus coba gunakan pakaian lebih seksi. Aku akan atur waktu supaya kita bisa bertemu.


Seperti itulah pesan yang di kirimkan Johan padanya. Iya, mereka sempat bertukar nomor telepon saat kemarin bertemu di pusat belanja.


Bagaimana keadaanmu hari ini? Kau sudah bertemu Johan? Apa dia kurang ajar dan melakukan sesuatu? Katakan saja padaku, aku janji akan memberikan pelajaran kepada orang brengsek itu.


Dan itulah pesan yang dikirimkan Bryant padanya.


Elle terdiam sebentar sembari memijat pelipisnya berharap rasa pusing yang di rasakan kepalanya mereda barang sedikit saja.


" Ada banyak macam laki-laki dan segala tingkah polah serta sifatnya, laki-laki seperti apa sebenarnya yang tidak brengsek? Kenapa aku jadi ketukan begini? "


Elle menggelengkan kepalanya, ini sudah sangat malam dan dia harus segera tidur. Tapi sayangnya, sudah sampai jam satu malam dia masih tetap tak merasakan kantuk. Pintu sudah jelas dia kunci, tapi kenapa Elle sama sekali tidak bisa tenang? Tinggal di rumah yang hanya ada dia juga Eliza justru membuat Elle tak bisa tenang sama sekali. Dia ketakutan setiap waktu, dia was-was lagi-lagi memikirkan siksaan apalagi yang akan dia terima?


" Jarvis, kalau bukan karena kau, aku benar-benar pasti sedang bahagia bersama kedua orang tersayang ku. Kalau saja kau tidak datang di hidupku, sejenak membuatku terlena dan jatuh cinta. Aku benar-benar menyesal, aku menyesal karena harus mengenal mu dan kehilangan semua kebahagiaan ku. " Elle memukuli dadanya yang terasa sesak, sial sekali meski mulutnya bicara begitu nyatanya dia tidak bisa memungkiri jika Jarvis juga melakukan banyak hal untuk Ayah dan juga adiknya sehingga mereka berdua, ayah dan adik nya bisa hidup dengan baik.


" Andai saja luka ini tidak begitu dalam, aku mungkin masih bisa luluh dan dengan bodohnya akan terus mengharapkan cintamu. Ini terlalu menyakitkan sampai aku ingin berbuat kriminal setiap waktu. "


Bersambung.