
Elle meminta Jarvis untuk tidur di tempat tidur saja, bukan karena dia sendiri menginginkan itu, tapi dia tidak ingin begitu menunjukkan batasan antara dirinya dan juga Jarvis sendiri dengan cara yang begitu jelas. Tahu, benar-benar sangat tahu kalau Elle, maupun Jarvis sendiri pasti akan sulit tidur, karena ini adalah kali pertama mereka tidur di ranjang yang sama. Untuk masalah berpelukan, berciuman, bergandengan tangan tentu saja sudah pernah mereka lakukan sebelum menikah, hanya saja setelah menikah dan banyak hal yang terjadi, keduanya tentu akan merasa canggung satu sama lain.
Jarvis, pria itu hanya bisa menatap punggung Elle yang tertutup selimut tebal dan hanya menyisakan kepalanya saja. Memang hanya berbaring di satu ranjang yang sama, tapi tidak bisa mengingkari bahwa Jarvis tetap merasa canggung dan gugup.
Elle berbalik badan untuk melihat Jarvis, dan saat Elle berbalik Jarvis memejamkan matanya berpura-pura untuk tidur. Meksipun tahu benar Jarvis tengah berpura-pura, Elle tetap manfaatkan momen itu dengan memotret Jarvis dan mengunggahnya di media sosial miliknya dengan keterangan, dia kelelahan, tidur dengan nyenyak, semoga mimpi indah.
Tentu saja Elle tahu kalau Vivian pasti akan melihatnya, jadi anggap saja itu adalah hadiah dari Elle karena sekarang dia merasa cukup senang karena selama beberapa hari setelah pindah dia tak mendapatkan masalah apapun.
Vivian yang masih belum bisa tidur akhirnya membuka media sosial untuk melihat-lihat disana. Seperti biasanya, dia selalu mencari akun media sosial milik Jarvis yang hampir tidak pernah aktif, lali melihat miliki Elle. Setelah melihat akun media sosial Elle, Vivian benar-benar di buat meradang dengan unggahan Elle beberapa saat lalu.
" Elle! "
Vivian menghempaskan Ponselnya ke tempat tidur dengan perasaan kesal, sial! Ini benar-benar sial karena semua seperti ancaman baginya. Kelie, pelayan yang dia anggap hanyalah manusia rendahan dan tidak tahu malu itu malah memerasnya lagi dengan meminta Vivian mengirimkan satu miliar, sekarang dia harus menerima kenyataan bahwa Jarvis dan juga Elle bermalam bersama. Dari keterangan unggahan Elle, sepertinya mereka memiliki aktivitas melelahkan sebelumnya, dan itu benar-benar tidak bisa untuk Vivian terima.
" Kelie pelayan rendahan itu benar-benar harus aku singkirkan! Begitu juga dengan Elle aku tidak akan tinggal diam, aku akan membuatmu menghilang dari pandangan Jarvis, tidak masalah juga kalaupun harus menghilangkan mu dari muka bumi ini! "
Vivian menatap kesal dan marah.
Sejujurnya dia sendiri sadar benar kalau dia memiliki banyak kekurangan, tapi masa lalu yang kelam memaksanya untuk menjadi orang yang begitu egois mengedepankan keinginanya sendiri. Dia menganggap dia lah manusia paling malang yang tidak boleh mendapatkan kekecewaan di masa depan lagi, tapi dia lupa untuk melihat bahwa masih ada banyak manusia yang jauh lebih naas hidupnya di banding dirinya sendiri.
Penelope, gadis cantik yang tak lain adalah adik kandung dari Elle sendiri hanya bisa terdiam dengan batin yang terus menebak tiada henti melihat unggahan kakaknya beberapa saat lalu. Gadis itu kini benar-benar seperti kehilangan senyumnya dan kehilangan semangat karena dia meyakini kakaknya dalam keadaan yang tidak baik. Rasanya ingin membawa kakaknya untuk kembali, tapi dia sendiri sama sekali tidak tahu menahu soal masalah yang sedang kakaknya hadapi jadi dia hanya bisa banyak diam dan menerima saja semua ini hingga batas yang ia mampu untuk menerima.
Pagi Harinya.
Elle dan Jarvis berada di meja makan untuk sarapan pagi, sangat tidak biasa untuk mereka berdua, tapi tetap saja mereka mencoba sebaik mungkin agar tidak terlihat canggung.
" Kemana kau akan pergi hari ini? " Tanya Jarvis seraya menjauhkan piringnya karena dia sudah selesai dengan sarapan paginya.
" Tidak ada, mungkin kalau nanti agak suntuk aku dan Eliza akan pergi ke swalayan untuk membeli buah-buahan dan juga sayuran. "
Jarvis terdiam sebentar.
" Aku sudah meninggalkan kartu ku di laci meja rias mu yang paling atas. Gunakan saja kartuku kalau kau ingin membeli sesuatu, ingat untuk mematuhi nasehatku. " Ujar Jarvis seraya bangkit dari posisinya.
" Iya, kan sudah akan berangkat bekerja? "
" Iya, kenapa? "
Jarvis menggeleng.
" Aku berangkat sekarang. "
" Iya. "
Elle terdiam dengan wajah dingin menatap punggung Jarvis yang semakin menjauh darinya. Kenapa sebenarnya ini? Kenapa Jarvis bersikap selayaknya seorang suami yang begitu perduli terhadap istrinya? Tidak, ini semua benar-benar semakin mencurigakan dan Elle jadi semakin tidak tahan untuk tidak merasakan waspada yang semakin besar.
" Metode penyiksaan apa yang sebenarnya ingin kau berikan padaku, Jarvis? " Gumam Elle hingga Jarvis gak terlihat lagi di matanya.
" Nona? " Sapa Eliza yang merasa khawatir saat Elle terlihat cemas dan jatuh duduk di kursi meja makan.
" Nona, apa anda baik-baik saja? " Tanya Eliza dengan tatapan khawatir yang begitu jelas terlihat.
Elle mengangguk tak ingin membuat Eliza begitu khawatir.
" Aku hanya sedang berpikir, tapi sepertinya aku berlebihan dalam berpikir. " Ujar Elle.
" Aku tahu apa yang Nona pikirkan, meksipun ini aneh tapi aku bisa melihat ketulusan dari mata Tuan Jarvis saat menatap anda. "
Elle tersenyum kelu, sebenarnya dia juga merasakan yang sama seperti yang di katakan Eliza, hanya saja Elle terlalu takut untuk mempercayai ucapan dan juga perasaan itu karena yang ia tahu Jarvis adalah manusia setengah iblis yang mungkin saja semua ini hanyalah akting semata untuk mengelabuhi Elle, lalu pada akhirnya akan memberikan siksaan yang menyakitkan untuknya.
" Nona, bagaimana pun tolong jangan berpikir buruk dulu agar anda tidak terlaku stres. Anda sudah sangat banyak melakukan hal untuk membalas dendam, dan juga untuk melindungi diri anda. Tolong lepaskan semua pemikiran itu sejenak agar anda bisa merasakan kelegaan. Memang mudah untuk mengatakan ini, tapi tolong cobalah sehari saja tidak terus merasa terancam. Kita hanya berdua sekarang, bersantai lah Nona, aku akan berjaga dari semua kemungkinan yang akan menghancurkan mood Nona hari ini. "
Elle membuang nafasnya, lalu tersenyum dengan mimik yang begitu penat.
" Aku ingin sekali melakukanya, tapi setiap kali aku menutup mata atau berada di tempat yang sunyi sendirian tanpa suara, aku akan terus gelisah memikirkan kira-kira apa yang akan di lakukan Jarvis, Vivian, Ibu Diana, juga Wendy padaku nanti. Aku tidak bisa tenang meksipun sudah sekuat tenaga aku mencobanya. "
" Bagaimana kalau anda menemui keluarga anda? "
Elle terdiam sebentar.
" Ide mu itu memang benar-benar bagus, hanya saja aku tidak bisa menemui orang tersayang ku karena setiap kali melihat mereka aku akan ketakutan, aku takut sekali mereka mengetahui keadaanku, lalu ikut sedih dan hancur bersama denganku. Cukup saja aku, tidak mereka berdua, mereka terlalu bahagia untuk merasa sedih. "
Bersambung.