Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 21 : Peringatan Yang Tidak Berarti



Elle menghempaskan tubuh Vivian ke lantai, membuat Vivian terjatuh dengan posisi duduk, pisau karter yang ia pegang tadi juga terpental jauh darinya. Mata Elle begitu tajam bulat menatap Vivian marah, dia meraih pisau karter itu lalu kembali menatap Vivian. Rasanya dia ingin sekali membalaskan apa yang di lakukan Vivian Padanya, bahkan jika boleh dia ingin melakukan lebih. Menyayat kulit Vivian dengan brutal, lalu tersenyum dengan puas setelahnya. Tapi, bahkan luka sayatan tidak akan hilang bekasnya? Meskipun itu memang akan memberikan efek yang sangat jelas, tapi tetap saja Elle tidak begitu tega seperti Vivian meski dia sedang marah luar biasa.


" Aku bisa saja membalas apa yang kau lakukan padaku, tapi masalahnya otakku ini masih waras. "


Vivian masih terlihat ingin menyakiti Elle tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Elle memegang erat pisau karter, di tambah Elle berdiri di tempat dia menyimpan peralatan tajam seperti gunting.


" Aku tidak akan begini kalau saja kau tidak berniat merebut Jarvis dariku! " Rupanya Vivian masih belum ingin mengalah bahkan saat matanya dengan jelas bisa melihat darah yang mengalir dari lengan Elle dia nampak tak perduli apalagi merasa bersalah.


Elle tersenyum tak percaya karena masih harus mendengar kalimat tidak masuk akal dari mulut Vivian. Bagaimanapun dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya di pikirkan Jarvis dan juga Vivian. Jarvis menuduhnya menggoda Bryant, sementara Vivian menuduhnya menggoda Jarvis dan ingin merebut darinya. Hah! Benar-benar hanya bisa membatin keheranan karena kalaupun dia mencoba menjelaskan tidak akan mungkin di percaya oleh Vivian.


" Terserah kau saja, berpikirlah semaumu. Hanya saja biarkan aku memberikan saran ini padamu. Lihatlah dirimu sendiri, kau sangat memuakkan dan juga menjijikan dengan segala tuduhanmu. Kau bukan hanya menuduhku melakukan hal buruk, tapi kau juga sudah meragukan perasaan Jarvis terhadapmu. " Elle menatap Vivian yang mulai terlihat tertekan.


" Aku benar-benar penasaran bagaimana kalau Jarvis tahu apa yang kau lakukan ini, dia pasti akan sangat kecewa padamu, dia akan menganggap mu tidak pantas lagi karena untuk mempercayainya kau sudah tidak memiliki kemapuan itu. "


" Diam! " Kesal Vivian, ucapan Elle barusan memang benar-benar bisa terjadi kalau sampai Jarvis tahu apa yang dia lakukan. Padahal dia hanya perlu mencintai Jarvis dan mendukung segala keputusan Jarvis agar posisinya tetap aman, tapi bukankah adanya Elle juga adalah sebuah ancaman untuk posisinya. Tapi di bandingkan harus kehilangan respect dari Jarvis, dia lebih baik menahan diri dulu sampai dia benar-benar mendapatkan momen yang pas agar bisa menyingkirkan Elle dari rumah itu, bahkan kalau bisa dari dunia juga.


Elle mengepalkan tangannya, tatapan mata Vivian yang begitu tajam dan menunjukan semua kemarahannya benar-benar membuat Elle merasa kalau di kemudian hari dia akan menjadi tumbal kemarahan Vivian, bukan tidak mungkin kalau setiap hari mulai dari sekarang Vivian akan memupuk kebencian terhadap dirinya dan ketika tekad itu semakin bulat di tambah adanya momen yang pas, Vivian pasti akan seperti iblis neraka nantinya.


" Kau gila, kau benar-benar gila. Seharunya kau sadar bahwa apa yang coba kau pertahankan malah akan membuat dirimu menjadi seorang monster nantinya. "


" Pergi kau! " Ucap Vivian semakin terlihat marah.


" Tentu saja, siapa yang mau berlama-lama dengan orang sepertimu? "


Elle segera berbalik badan dan membuka pintu untuk keluar. Tapi begitu dia akan keluar rupanya Jarvis berada di sana entah sejak kapan. Tatapan matanya dingin, dan begitu melihat darah yang keluar dari lengan Elle dia menatap Elle dengan tatapan yang begitu tajam membuat Elle ingin sekali menangis entah apa sebabnya.


" Apa yang kau lakukan kepada Vivian?! "


Apakah begitu melihat lengan Elle berdarah dia berpikir kalau Elle sudah mencelakai Vivian? Oh, jadi sepenting itu yang namanya Vivian ya? Batin Elle menahan sakit dan rasa cemburu yang masih saja di rasakan hatinya.


Jarvis menggeser tubuh Elle, dan melihat bagaimana keadaan Vivian barulah dia menarik tangan Elle untuk segera pergi dari sana dan membawanya masuk ke dalam kamar Elle, tidak perduli bahkan berapa kali Elle meminta untuk di lepaskan karena rasanya benar-benar perih sekali ketika Jarvis menekan bagian yang terluka.


" Apa kau senang sekali membuat ulah, hah?! " Ucap Jarvis begitu mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang sama. Tatapan yang marah itu benar-benar semakin menyakiti Elle, bagaimanapun dia tetap tidak bisa langsung menghilangkan perasaan cintanya untuk Jarvis. Melihat Jarvis menatapnya marah di saat kedua lengannya terluka seperti itu tanpa perduli dan tanpa bertanya apa yang terjadi seolah Elle memang sudah di cap sebagai orang yang suka sekali mencari gara-gara.


Elle menatap Jarvis dengan tatapan kesal, dan juga terasa kecewa yang tersampaikan kepada Jarvis.


" Pergilah, aku tidak membutuhkan ceramah tidak penting darimu. Yang terluka adalah aku, yang merasakan sakit adalah aku, aku yang paham dengan segala terjadi, tapi kau dan dedengkotmu pasti hanya akan perduli dengan yang kalian sangka saja. Tuduh saja sesukamu, hukum saja aku kalau kau juga ingin, jangan membuang waktu untuk berada di tempat yang sama dengan orang tidak berarti sepertiku. "


Jarvis mengeraskan rahangnya, dia berjalan untuk membuka sebuah laci yang ada di kamar Elle, lalu mengeluarkan kotak obat di sana. Tanpa mengatakan apapun dia membersihkan luka di lengan Elle, dia sama sekali tidak menatap ke arah lain selain luka itu dan tak perduli dengan Elle yang menahan perih tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


" Berhentilah membuat orang pusing, masalah Johan saja belum selesai, jadi jangan menambah masalah lagi karena mau tidak mau aku harus ikut campur untuk menyelesaikannya. " Ucap Jarvis setelah selesai merawat luka di lengan Elle, dia pergi setelahnya dengan langkah kaki cepat.


Jarvis menuju kamar pribadinya, segera pergi ke ruang kerja karena ada beberapa dokumen yang tertinggal di sana. Begitu dia melewati kamar Vivian, dia sebentar menatap pintu kamar Vivian yang tertutup, lalu memutuskan untuk sebentar saja bicara kepada Vivian.


" Sayang! " Vivian yang saat Jarvis membuka pintu tengah menangis seketika berlari untuk memeluk Jarvis, bersikap manja dah tertekan, tapi saat dia melihat tatapan mata Jarvis yang begitu dingin dan marah, dia menghentikan langkahnya karena tidak berani melanjutkan keinginanya.


" Vivian, pastikan kedepannya tidak akan kau ulangi lagi, atau kau akan tahu benar apa akibatnya."


Vivian terdiam sebentar, dia benar-benar kecewa sekali dengan Jarvis yang hanya terlihat mencintainya saat berada di depan orang lain, terutama di depan Elle.


" Kenapa? Aku adalah istri pertamamu meski pernikahan kita tidak tercatat di catatan negara. Seharusnya aku yang kau utamakan, seharusnya aku yang kau bela tidak perduli aku salah atau benar. "


Bersambung.