Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 79 : Ciuman Terakhir



" Aku tidak mampu menyimpannya lagi, juga tidak sanggup untuk membuangnya. Tolong, bantu aku menyingkirkan cincin pernikahan kita. " Jarvis menaikkan tatapannya menatap Elle yang masih diam tak berkata apapun.


" Berbahagialah Elle, temukan pria yang dapat memperlakukan mu dengan lembut, biarkan aku melihat mu bahagia. "


Elle terdiam memandangi sepasang cincin yang dengan jelas dia ingat adalah cincin pernikahan miliknya. Dua hari setelah menikah dengan Jarvis Elle melepas cincin itu dengan kemarahan dan kebencian, membuangnya ke sembarang arah, bahkan dia sudah tidak mengingat tentang cincin pernikahan itu. Jadi, kapan Jarvis mencari cincin itu, dan sejak kapan Jarvis menyimpannya, serta untuk apa harus dia simpan?


" Elle, aku memang tidak bisa menggantikan kesakitan yang sudah aku berikan pada mu, tapi jika kau menginginkan sesuatu dari ku dan bisa membuat diri mu sedikit lega, maka katakan saja pada ku, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi apa yang kau inginkan. "


Elle mengeratkan tangannya, menggenggam rantai kalung yang juga terdapat sepasang cincin di sana. Dia tak menatap Jarvis sama sekali, tapi dia tetap berbicara dengan penuh keyakinan.


" Kalau begitu, kau hanya perlu menderita saja. Jangan jatuh cinta kepada wanita, hidup lah sendiri dan terus lah menderita, aku hanya ingin kau menderita. "


Jarvis terdiam sebentar, lalu dia tersenyum dan mengangguk. Jatuh cinta lagi? Jika bukan dengan Elle, maka Jarvis cukup memahami dirinya sendiri yang tidak mudah jatuh cinta. Mungkin terdengar sok baik dengan menyetujui syarat yang di berikan Elle, tapi sungguh tidak akan pernah ada ruang bagi wanita lain di hatinya yang sudah di penuhi dengan Elle.


" Kau akan melihatnya, Elle. "


Elle semakin mengeratkan genggaman tangannya.


" Menderita sekali, aku ingin kau menderita sekali. "


Jarvis kembali mengangguk.


" Akan aku jauhi semua hal yang membuat ku merasa bahagia agar aku tidak akan merasakannya. "


Elle menahan nyeri dadanya hingga tanpa sadar dia menitihkan air mata. Kenapa? Kenapa air mata itu jatuh padahal dia seharusnya merasa bahagia bukan? Jarvis sudah terpedaya dengan cintanya, menjadi bodoh bahkan sampai menurut saja sebab semua permintaan yang tak berotak dari mulut Elle barusan. Wajah Jarvis yang begitu penuh. cinta dan terlihat putus cinta seolah menjalankan betapa besar arti Elle untuknya, hanya saja luka yang pernah di dapatkan dari Jarvis itu membuatnya enggan mengartikan tatapan yang seharunya tak bermakna itu.


" Mau tahu betapa bajingannya kau di mata ku, Jarvis? " Elle menatap Jarvis dengan mata yang memerah, bahkan masih ada sisa air mata di sana.


Jarvis menunduk Kelu, tentu saja jauh lebih dari yang Jarvis bayangkan. Sungguh dia tidak bisa menjelaskan banyak hal yang tidak ada hubungannya dengan Elle, hanya saja semua yang terjadi belakangan ini cukup membuat Jarvis sendiri terguncang. Tidak, memang akan lebih baik kalau Elle hanya tahu bahwa Jarvis adalah pria brengsek, bajingan, tidak tahu malu, tidak tahu diri, bodoh, apapun itu asalkan Elle yang menyebutnya dia akan baik-baik saja tentunya.


" Tidak, aku tidak tahu karena aku sungguh tidak tahu bagaimana rasanya menjadi diri mu. "


" Jarvis, ketika aku merasakan kesakitan, kemarahan, kekecewaan, aku pernah mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku akan benar-benar hidup panjang umur agar bisa melihat mu menderita. Aku bahkan pernah mendoakan anak yang ada di dalam perut Vivian mati karena merasa jika orang sepertimu tidak lah pantas menjadi seorang Ayah. Aku membencimu sampai pagi, siang, sore, malam, waktu ku akan aku gunakan untuk mengutuk mu, menyumpahi untuk penderitaan tiada akhir! "


" Iya, aku mengerti. Aku sudah benar-benar paham. " Jarvis menegakkan tatapannya tersenyum menatap Elle yang masih menatapnya dengan tatapan tajam dan matanya yang masih merah justru semakin terlihat begitu jelas.


Elle terdiam, sepertinya ucapannya sudah sangat menyakitkan tapi kenapa Jarvis masih bisa tersenyum seperti itu? Mungkinkah Jarvis merasa bahagia karena dia akan meninggalkan rumah itu dan kembali kepada Ayah juga adiknya? Lalu ekspresi putus asa yang terlihat dari wajah Jarvis itu karena apa? Kenapa saat dia berada di dalam pengaruh hipnotis suara Jarvis sampai terdengar bergetar menahan tangis? Dia juga merasakan benar tangan Jarvis yang gemetar hebat, apa? Apa maksud dari semua itu? Kenapa semuanya malah justru membuatnya bingung?


" Ini sudah cukup lama, kalian sudah selesai bicara kan? " Ucap Penelope yang kembali masuk karena waktu yang di gunakan untuk Elle dan Jarvis bicara sudah lumayan lama.


Jarvis bangkit dari posisinya dengan segera, lalu Jarvis kembali memaksakan senyum tipis yang dia arahkan untuk Elle. Tentu saja tidak mendapatkan respon apapun, tapi sungguh kala itu Jarvis mengharap jika Elle juga akan meninggalkan senyum padanya.


" Kita pulang sekarang ya kak? "


Jarvis dan Elle sama-sama tersentak. Pulang? Jadi pulang ya? Rumah yang sesungguhnya untuk Elle? Rumah yang biasanya akan menjadi tempat di mana Elle bisa tersenyum dengan bahagia dan menemani Elle tumbuh menjadi gadis kuat, pemberani dan ceria. Jarvis mengangguk menahan lagi air matanya yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Sebentar Jarvis menatap Elle yang sudah mulai bangkit, mereka sebentar saling menatap hingga membuat Jarvis tidak tahan dan berakhir mencium bibir Elle.


Penelope terkejut, dia reflek memutar tubuhnya karena tidak ingin melihat adegan itu lebih lama lagi.


Jarvis yang memejamkan mata rupanya membuat air matanya terjatuh, begitu juga dengan Elle yang menitihkan air mata tapi tidak tahu apa alasannya meski dengan munafiknya mengatakan kepada diri sendiri jika air mata itu adalah air mata kebahagiaan karena pada akhirnya dia akan terlepas dari Jarvis yang selama ini terus menyiksa lahir dan batinnya.


Setelah ciuman itu berakhir, Jarvis sebentar menatap kedua bola mata Elle dari dekat, lalu tersenyum mengabaikan saja air matanya di sana.


" Jaga diri baik-baik, Elle. "


Setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jarvis, dengan segera Penelope kembali ke posisi semula, dia berjalan mendekati kakaknya, membawanya dengan memegang pergelangan tangannya. Elle terus menoleh kebelakang untuk melihat Jarvis, sementara Jarvis memilih untuk memberikan punggungnya saat melepaskan kepergian Elle.


Aku ingin mengatakan banyak hal untuk memaki mu, aku ingin memukul mu dengan kedua tangan ku, tapi kenapa sekarang aku merasa ada yang tidak beres dengan ku?


Elle berhenti menoleh menatap Jarvis karena Jarvis memang sudah tidak terlihat lagi.


Meskipun mengingat masa itu sangat menyakitkan, tapi aku benar-benar tidak akan merelakan kau hidup bahagia bersama wanita baru mu nanti. Aku merasa aku akan baik-baik saja saat kau terus sendirian, sampai mati pun juga sepertinya tidak buruk.


Bersambung.