Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 10 : Gudang Belakang Rumah



Jarvis menyeret Elle untuk mengikuti langkah kakinya yang cepat, tentu saja Elle kesulitan melakukan itu karena jelas tidak bisa mengimbangi langkah kaki Jarvis hingga dia hampir jatuh beberapa kali.


Bruk!


" Ah! " Pekik Elle saat tubuhnya jatuh membentur lantai, alasannya tentu sama karena Jarvis yang melakukanya. Pria itu benar-benar menatapnya dingin tak perduli seberapa sakitnya dia, jadi Elle juga tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menahan saja amarah, kesedihan dan kekecewaan yang selalu saja dia rasakan meski sudah terbiasa di sakiti oleh Jarvis.


" Padahal sudah di peringati untuk jangan melawan, tapi kau masih saja bersikap angkuh dan tidak tahu diri! " Jarvis berjalan mendekat, meraih lengan Elle dan dengan kasar dan tidak sabaran dia membuat Elle bangkit dari posisinya jatuh tadi.


" Jangan melawan apapun yang mereka lakukan, hiduplah benar-benar seperti sampah yang kotor dan harus terus tahu diri. Dengan begitu kau akan tenang, keluargamu juga akan senang, kau mengerti?! "


Elle tersenyum perlahan dan tertawa terbahak-bahak, tapi matanya meneteskan air mata karena begitu sedih juga merasa lucu dengan bagaimana kehidupan ini berjalan.


" Lihatlah dirimu, Jarvis! Kau ini sedang mencari apa? Kau ini sedang melakukan apa? Kau ini gila atau apa? Keluargamu terkontaminasi dengan kegilaanmu atau bagaimana? Bisa-bisanya menikahiku, membohongiku dengan perlahan penuh cinta dan perhatian, lalu setelah menikah memaksaku untuk menjadi pelayan di rumahmu? Kau apakah bodoh sekali hah? untuk Pelayan sepertiku tentu saja kau sudah rugi banyak kan? "


Jarvis menghempaskan tubuh Elle kembali ke lantai dengan tatapan serta mimik marahnya. Masa bodoh lagi-lagi dengan Elle yang terlihat kesakitan, toh melihat air mata Elle benar-benar membuat hatinya merasa puas dan senang.


" Di dunia ini, sesuatu yang paling aku benci adalah kau seorang. Aku membenci caraku menatap, aku benci saat kau tersenyum atau tertawa seperti barusan, aku benci kau bersikap manja, aku muak denganmu! Tanganku sebenarnya gatal ingin mencekikmu, menginjak kepalamu sampai remuk, tapi sayangnya mati adalah hal yang pasti akan kau syukuri. Jadi biarkan aku menyiksamu sampai puas, biarkan aku melihat derasnya air matamu, biarkan aku melihatmu memohon untuk di bunuh dengan tatapan yang begitu lelah dan sengsara. "


Elle terus menatap dengan kedua bola mata yang membulat sepanjang Jarvis berucap. Sungguh dia baru tahu kalau Jarvis memiliki pemikiran sejahat itu padanya, menginjak kepala sampai remuk, mencekik, dan banyak sekali keinginan mengerikan yang terucap dari bibir Jarvis dengan sorot mata penuh keyakinan dan terlihat sangat marah, padahal Elle sama sekali tidak tahu dimana letak kesalahannya.


" Iblis, kau benar-benar iblis! " Elle semakin menatap tajam, dia bangkit lalu berjalan cepat dan meraih leher Jarvis untuk dia cengkram dan tekan sekuat tenaga.


" Kau begitu ingin menyiksaku, demi Tuhan aku akan membuatmu merasakan semua fantasi kejam yamg kau miliki padaku, walaupun aku harus kehilangan nyawa pada akhirnya, tapi percayalah aku akan membuatmu menangis memohon maaf dan ampunan karena penyesalan yang tidak akan menggoyahkan ku! "


Jarvis tersenyum miring, dia mencengkram tangan Elle yang mencengkram lehernya, lalu menjauhkan dari lehernya dan menampar Elle cukup kuat hingga sisi bibir Elle mengeluarkan sedikit darah.


" Kau punya kemampuan apa memangnya, hah? Kau tidak memiliki uang untuk melawanku, kau tidak memiliki koneksi yang bisa kau gunakan untuk membantumu menyerangku. Kau hanya punya tubuh tak berguna ini, dan keberanian serta kebodohan mu saja jadi jangan harap kau bisa melakukan apa yang kau katakan tadi. "


Elle menyeka air matanya yang jatuh begitu saja tanpa izin darinya. Sialan, dan brengsek! bagaimana bisa air mata itu jatuh begitu saja? Batin Elle di dalam hati. Yah, padahal memang dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Jarvis, apalagi menangis seperti ini, pastilah Jarvis akan merasa senang bukan?


" Jarvis, suatu hari nanti kau akan menyesal dan tidak akan segan-segan memohon maaf padaku. Hah! Satu lagi, pria sepertimu sangat tidak pantas menjadi seorang Ayah, jadi aku yakin di banding lahir dan harus melihatmu menjadi Ayahnya, apalagi Ibunya adalah wanita yang melakukan, bayimu pasti akan sangat sedih atau kalau tidak dia pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan saja. "


" Diam! Diam dan jangan begitu lancang! Bayi yang akan lahir adalah penerus dari keluarga Bhurgenz, kau pikir siapa yang tidak akan mengidamkan lahir dari keturunan keluarga Bhurgenz hah?! "


Elle tersenyum sinis.


" Aku bersumpah, aku hanya akan mendoakan yang buruk dan paling buruk untukmu, aku bersumpah akan sangat bahagia melihatmu menderita dan bertepuk tangan dengan semangat. Kau boleh menyiksaku sesukamu, tapi Tuhan juga tidak akan ragu memberikan hukuman untukmu. "


" Siapa yang mengizinkanmu bicara panjang lebar?! " Jarvis membuka pengait ikat pinggangnya, lalu melepasnya untuk mencambuk Elle.


" Ah! " Pekik Elle saat pecutan itu dirasakan oleh tubuhnya, terus seperti itu hingga suara Elle serak meski dia terus menahan diri untuk tidak menangis.


Elle terdiam menahan segala perih seperti tersayat dan panas di tubuhnya. Punggung, itu adalah tempat dimana ikat pinggang tebal Jarvis memecut beberapa kali. Sekarang dia sedang di sekap di gudang belakang, jadi jangankan meminta tolong untuk di keluarkan dari sana, bahkan bernafas saja sulit hingga membuatnya susah untuk bangkit.


Diluar gudang belakang.


" Tuan, ini salep yang anda minta. " Ucap salah satu pelayan yang mengikuti perintah Jarvis untuk mengambil salep untuk luka.


" Oleskan di punggungnya, dan berikan dia saran agar mematuhi semua aturan kalau tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. "


Pelayan wanita itu mengangguk paham.


" Kau bisa masuk setelah aku pergi. "


" Baik. "


" Nanti suruh saja dia kembali ke kamarnya, dan ingat untuk baik-baik merawat lukanya jangan sampai dia infeksi, kau mengerti? "


" Baik, Tuan. "


Setelah mengatakan itu Jarvis segera meninggalkan tempat dan pelayan tersebut masuk ke dalam gudang untuk membawa Elle keluar dulu baru dia bisa leluasa mengurus lukanya.


Di ruang keluarga.


Semua orang kini tengah tertawa bahagia setelah mengetahui jika Jarvis tengah menghukum Elle lumayan kejam. Terutama Vivian, wanita itu benar-benar sangat puas sekali rasanya, dan dia juga merasa bahagia karena ternyata wajah cantik Elle sama sekali tidak mempengaruhi Jarvis.


" Bu, besok kita jadi menginap di luar? " Tanya Wendy yang tiba-tiba teringat kalau besok adalah hari ulang tahun Jarvis.


" Iya mau bagiamana lagi? Malam ulang tahun Jarvis pasti akan pesta minuman seperti biasanya. Memang kau mau berada disini dengan situasi berisik? "


Wendy membuang nafasnya.


" Pesta seperti itu kan hobinya kak Vivian dan kak Jarvis, aku tidak terlalu suka. " Ujar Wendy.


" Duh, kau jangan minum alkohol dulu ya, Vivian? Sekarang kau kau kan sedang hamil jadi baik-baik jaga kehamilan. "


" Ah, baik Ibu. "


Bersambung.