Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 81 : Merindukan Ibu



" Dia sudah mengecewakan mu, sudah mengkhianati, sudah menyiksa, sudah banyak lagi perbuatan yang aku bahkan tidak tahu bagiamana cara menyebutnya. Sekarang kau pasti bisa merasakan dengan lega berkisah dengan Jarvis bukan? Ini memang jalan yang terbaik untuk mu. Meskipun kau maupun Jarvis memaksakan hubungan kalian, yang akan tejadi hanyalah saling menyakiti satu sama lain tiada akhir. " Seperti itu lah ucapan yang keluar dari bibir Bryant. Jujur saja tidak sepantasnya memang dia mengatakan kalimat semacam itu kepada Elle, hanya saja dia merasa takut jika Elle goyah dan kembali ke Jarvis. Benar, dia tahu dengan jelas bagiamana perasaan Jarvis kepada Elle, keraguan yang terlihat di wajah Elle juga nampak jelas sehingga Bryant yang memilki perasaan tidak biasa itu menjadi tak pikir panjang dan mencoba untuk mempengaruhi dengan mengingatkan Elle kepada masa lalu.


" Benar kak, laki-laki seperti kak Jarvis itu sama sekali tidak pantas untuk di pertahankan. Sudah berkhianat, melakukan kekerasan fisik, verbal juga. Kak, pikirkan lah baik-baik jika ingin bersama dengan pria seperti itu. "


Elle terdiam tak bicara, entah mengapa dia malah menjadi bimbang padahal seharusnya bercerai dengan Jarvis adalah hal yang tentunya melegakan untuknya.


" Kak, bagaimana kalau kakak coba untuk kencan buta saja? "


" Kencan buta apa? Jangan sembarangan memilih pria, kau tahu benar itu sangat berbahaya bukan? " Ujar Bryant dengan cepat menyergah.


" Itu hanya rencana agar kakak ku tidak merasa sedih saja! "


" Tidak juga dengan kencan buta! Kan ada aku! "


" Cih! Kau tidak masuk kriteria! "


" Sok tahu!


Elle menghela nafas, sungguh dia muak dengan pembahasan ini.


" Apakah kalian pikir aku akan mati jika tidak dengan pria? " Elle mantap dingin Bryant dan juga Penelope. Sekarang ini pikirannya sedang tidak tenang, ada banyak hal yang membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri. Jika memang pada akhirnya bercerai, maka jelas lah itu adalah jalan yang Tuhan berikan agar dia dapat menemukan sebuah kebahagiaan. Tapi apakah dia terlihat begitu kesulitan tanpa pria sehingga adik serta Bryant justru sibuk membicarakan tentang pasangan hidup selanjutnya padahal urusan dengan Jarvis saja masih belum jelas.


" Kak, ma maksud kamu bukan begitu, kami hanya- "


" Kami hanya ingin kau semangat saja kok. " Ujar Bryant.


" Iya, semangat maksud nya. " Ucap Penelope.


" Kalau kalian benar-benar ingin membantu ku, tolong biarkan aku sendiri. Jangan mengatakan apapun yang berhubungan dengan pria karena aku sama sekali tidak tertarik. Setelah apa yang aku lalui jelas aku memiliki alasan untuk tidak menerima pria lain yang belum tentu akan lebih baik dari pada Jarvis. Sibuk lah dengan urusan kalian, kau harus fokus kuliah kan, Penelope? Dan kau juga harus bekerja kan Bryant? "


" Bryant, aku paham sekali kau sudah banyak membantu ku, tapi jika kau mengharapkan. sesuatu dari ku, aku benar-benar minta karena sepertinya aku tidak memiliki minat seperti yang sedang kau harapkan. "


Bryant terdiam tak bisa mengatakan apapun. Sebenarnya harus bagaimana caranya agar dapat membuat Elle memiliki perasaan yang sama sepertinya? Atau boleh lah sedikit saja rasa tertarik terhadapnya agar Bryant bisa semakin masuk ke dalam hati Elle dan memperbesar perasaan itu hingga ruang di hati Elle hanya ada namanya seorang saja. Tapi tatapan serta ucapan Elle barusa benar-benar membuatnya sadar kalau kemungkinan untuk mendapatkan Elle memang kecil, di tambah lagi dia juga harus ekstra sabar dalam menungggu perasaan Elle sedikit terarah padanya.


***


Vivian membuang nafas kasarnya setelah beberapa kali mencoba menghubungi Kelie, lalu menyerahkan uangnya. Aneh, benar-benar sangat aneh karena tiba-tiba saja Kelie seperti menghilang begitu saja karena nomor teleponnya tak bisa di hubungi. Vivian bahkan sudah meminta orang untuk mencari di mana Kelie tinggal, tapi di ternyata Kelie juga sudah meninggalkan kediamannya kemarin.


" Orang ini gila atau apa sih?! Kesal Vivian karena sampai detik ini juga masih belum mendapatkan respon apapun dari Kelie. Semua barang yang dia curi sudah dia uang kan, dan ternyata masih banyak juga sisa uang yang dia miliki kalau jadi memberikan uang kepada Kelie.


Vivian meletakkan ponselnya karena lelah juga memegang ponsel hanya untuk menghubungi Kelie. Dia bangkit dari posisinya, menuju kamar mandi karena sudah ingin mandi. Setelah selesai mandi, Vivian merawat dulu tubuhnya, lalu menggunakan pakaian sederhana, dress polos hanya saja membentuk dengan jelas lekuk tubuhnya.


" Ngomong-ngomong Jarvis sudah lama tidak pulang ke rumah, apa wanita itu masih memanfaatkan Jarvis? Hah! Jangan-jangan wanita itu sedang bertindak besar-besaran, memaksa Jarvis menyerahkan semua harta kepada wanita itu. " Vivian mengigit kuku Ibu jarinya sembari berpikir dan merasakan benar kekhawatiran itu. Kalau memang benar Elle merencanakan semua itu, bukankah ini sangat bahaya? Setelah dia mencari tahu tentang harta keluarga, sebenarnya sekarang ini Jarvis adalah pemilik harta terbanyak. Perusahaan sudah di wariskan kepada Jarvis karena Jarvis adalah anak laki-laki satu-satunya, dia juga memiliki kemampuan yang dapat menjalankan perusahaan. Belum lagi Jarvis memang sudah aktif sedari remaja dan Jarvis juga sudah menghasilkan uang sendiri. Menggambar desain rumah, apartemen, pusat belanja, pusat bermain, bahkan sampai taman kota. Jarvis yang sangat berbakat dalam bidang desain arsitektur itu sudah menjadi langganan para perusahaan besar, bahkan pemimpin negara juga pernah menggunakan jasa Jarvis saat sekolah menengah atas untuk mendesain taman kota. Sudah puluhan desain yang Jarvis jual, dan harga desain buatan Jarvis benar-benar tak main-main harganya, dan itu hanya Jarvis lakoni saat masih sekolah dulu.


Orang tua Jarvis adalah orang tua yang memiliki banyak uang, terutama Ibu Diana. Mereka tak menginginkan uang Jarvis tentunya, dan menurut cerita Ibu Diana, Jarvis menginvestasikan uang itu kepada sebuah perusahaan besar yang bekerja di bidang arsitektur. Sekitar setahun yang lalu saja Jarvis sudah menjadi dua puluh persen pemilik saham dari perusahaan arsitektur tersebut, belum lainnya yang tidak di ketahui.


" Hah! Gila! Aku mana bisa diam saja, uang sebanyak itu tidak boleh di habiskan oleh Elle. Kalaupun nantinya aku dan Jarvis malas bekerja, sampai kami punya cucu pastinya tidak akan melarat bukan? "


Vivian berjalan cepat mendekati lemari pakaiannya, mengganti pakaian karena dia berniat mendatangi rumah yang di tinggali oleh Jarvis dan juga Elle.


***


Jarvis terdiam memandangi dua anak anjing yang berlarian kesana kemari, menggonggong terus menerus dari saat Jarvis datang. Kedua kalinya naik ke atas beberapa kali, dan sepertinya anak anjing itu meminta Jarvis untuk menggendongnya. Sayangnya Jarvis benar-benar tidak ingin melakukan apapun sekarang, tapi begitu satu anak anjing lipat ke pangkuannya, menatapnya dan Menggonggong seolah sedang bertanya membuat Jarvis menyadari sesuatu.


" Kalian merindukan Ibu? Ayah juga merindukan Ibu, tapi apakah Ibu kalian tidak marah kalau Ayah membawa kalian kesana dan mengantarkan kalian untuk tinggal dengannya? "


Bersambung.