
" Memang apa? Selama ini aku tidak di anggap anak mu hanya karena wajah ku yang begitu mirip Ayah ku bukan? Kau tersiksa melihat wajah ku yang begitu mirip dengan dia bukan? Kau tidak pernah menganggap ku anak mu, tidak sekalipun, tidak perduli juga seberapa banyak perjuangan ku hanya untuk bisa merasakan hangatnya pelukan seorang Ibu. "
Ibu Diana mengepalkan tangannya menahan diri agar tak berlebihan dalam mengekspresikan kekesalannya.
" Aku sudah lama sekali ingin mengatakan ini kepada Ibu. Sebenarnya, semua tindakan Fredon, kebejatan Fredon Ibu lah yang memaksanya. Ibu yang menciptakan Fredon si bajingan pengguna narkoba. Ibu lah yang juga telah membuat dia mati menyedihkan hanya demi obat terlarang yang jatuh ke air. "
" Jangan bicara sembarangan, kau Jarvis! "
Jarvis tersenyum Kelu.
" Lihatlah rekam yang dia buat, Ibu. Lihat dan rasakan bagiamana Freedom menderita karena tertekan dengan tuntutan yang mengharuskan dia menjadi seperti yang Ibu mau. Wajar ramah dan hangat, sikap lembut dan sopan, pintar dalam bermusik, etika, juga berprestasi dalam sekolah. Lihat lah betapa dia menderita sekali hingga menangis sesegukan, di rekaman itu dia mengatakan jika rasanya sesak harus jadi orang yang begitu baik, sempurna, dia merasa dia harus berpura-pura setiap waktu, dan dia lelah sekali. Dia memilih mengunakan obat terlarang karena depresi, dia menjadi bajingan yang suka mempermainkan wanita karena merasa begitu tertekan harus terlihat sempurna. Dia ingin menjadi seperti ku, dia ingin bebas seperti ku, dia ingin merasakan bagaimana memiliki banyak teman tanpa harus berteman dengan orang yang ibu tentukan. Dia, Fredon kesayangan Ibu menderita karena Ibu, dia menderita hingga menjadi bajingan di luar sana, dia memiliki dua wajah karena tuntutan Ibu, juga tuntutan dari perasaan tertekan. "
" Diam, diam, diam kau Jarvis! Fredon bukan orang seperti itu! Dia adalah anak yang baik, tidak mungkin dia seperti itu! "
Jarvis menghela nafasnya.
" Terserah, aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. "
" Lebih baik jangan bicara kalau kau tahu itu tidak Ibu sukai! "
" Begitu ya? " Jarvis mengangguk paham dengan senyum miris untuk mewakili perasaannya yang semakin hancur itu.
" Aku pun sudah lelah, aku lelah berjuang untuk mendapatkan cinta dari Ibu. Aku lelah karena cinta kepada Ibu nyatanya membuat ku terasa sakit. Aku sudah tidak sanggup lagi, jadi aku akan mundur, aku akan menjauh. "
Ibu Diana menatap Jarvis dengan tatapan terkejut. Entah menatap tubuhnya gemetar melihat wajah Jarvis yang terlihat putus asa itu.
" Aku akan pergi, perusahaan akan ku serahkan kepada Ibu. Menurut Ibu aku juga tidak sebaik yang Ibu inginkan bukan? Ibu selalu mengatakan, jika saja Fredon yang memegang kendali atas perusahaan, pasti akan jauh lebih baik dari pencapaian yang aku dapat selama aku menjabat sebagai Presdir. Silahkan Ibu kelola, jika Ibu bisa menilai seperti itu, maka Ibu pasti bisa melakukan jauh lebih baik dari pada kami berdua kan? "
Ibu Diana terdiam dengan tatapan tidak percaya. Sungguh dia ingat benar pernah mengatakan itu kepada Jarvis ketika perusahaan dalam masalah besar beberapa tahun lalu.
" Aku sudah berusaha menjadi anak yang baik, aku sudah berusaha melakukan yang aku bisa. Sekarang, tolong bebaskan aku, Ibu. Bebaskan aku dari perasaan tersisihkan, bebaskan aku dari siksaan batin yang tidak berkesudahan ini. Aku juga ingin minta maaf karena memiliki wajah yang mirip sekali dengan Ayah ku, aku minta maaf karena sedari kecil aku selalu berwajah dingin dan tidak banyak bicara, sehingga Ibu yang menginginkan anak seperti cara Ibu membentuk Fredon tak bisa aku lakukan. Tapi yang harus Ibu tahu adalah, di balik wajah ku yang dingin, aku yang jarang sekali bicara dan tersenyum, aku menyimpan cinta yang begitu besar untuk Ibu. "
Ibu Diana terdiam, air matanya jatuh tak tertahankan setelah kalimat menyesakkan dada itu keluar dari bibir Jarvis. Awalnya Ibu Diana tidak masalah dengan wajah Jarvis yang begitu mirip dengan suaminya, tidak masalah juga dengan Jarvis yang tidak suka berada di tempat keramaian, tersenyum, juga tidak banyak bicara. Tapi setelah Wendy lahir dia mulai sibuk dengan Wendy, dan kurang memperhatikan Jarvis. Setelah Wendy agak besar, Fredon lahir dengan tubuh yang sangat lemah karena semasa hamil Fredon Ibu Diana mendapati banyak sekali bukti perselingkuhan suaminya dengan wanita-wanita muda. Dia yang tidak stabil emosinya kemudian harus melahirkan Fredon di usia kehamilan delapan bulan kurang dua Minggu. Fredon jelas lahir dengan berat badan yang rendah, di tambah Fredon memiliki kesehatan yang tidak baik sejak dilahirkan. Kejang-kejang saat suhu badannya panas, mimisan, tiba-tiba lumpuh kakinya, belum terserang beberapa penyakit serius sehingga seluruh perhatian dia curahkan hanya untuk Fredon seorang. Sementara Jarvis, dia selalu bersama Ayahnya.
Suatu hari ketika Fredon masuk ke rumah sakit karena kejang, Jarvis dan Ayahnya datang belakangan dengan alasan macet parah, padahal Ibu Diana tahu benar kalau Ayahnya Jarvis baru bertemu dengan seorang wanita. Dan dari sana lah kebencian mulai di rasakan oleh Ibu Diana muncul setelah Jarvis mengiyakan ucapan Ayahnya yang mengatakan jika macet adalah alasan mereka telat datang kesana. Ibu Diana mengira Jarvis mendukung Ayahnya berselingkuh sehingga membuat hati seorang Ibu sekaligus istri merasa begitu tersakiti. Di dalam hati Ibu Diana mulai bertekad untuk hanya mencurahkan cinta dan sayangnya kepada Wendy juga Fredon saja, lalu membiarkan Jarvis hanya melihat agar Jarvis merasakan betapa ruginya dia telah bersekongkol dengan Ayahnya.
" Kau jangan jadi bajingan, Jarvis! Kau harus menyelesaikan semua hingga akhir! Perusahaan itu sudah di alih nama menjadi nama mu, kau tidak bisa mengabaikannya. "
" Maaf, lagi-lagi aku masih harus mengecewakan karena tidak bisa memenuhi keinginan Ibu. " Jarvis sebentar menatap Ibunya, laku berjalan meninggalkannya di sana untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ibu Diana menjatuhkan diri di atas tempat duduk sembari memegangi dadanya dan mulai sesegukan, sementara Jarvis terdiam tanpa kata dan duduk di pinggiran tempat tidur.
Jarvis melihat ke arah koper besar yang ada di atas lemari, lalu bangkit dan mengambil satu untuknya.
Bukan hanya karena sedang marah saja, tapi Jarvis sudah memikirkan ini dari beberapa hari lalu. Elle, Bryant, keluarganya, bukankah semua kesedihan ini terjadi karena dirinya? Apakah jika dia tidak ada di sekitar mereka akan banyak kebahagian yang ada? Elle dan Bryant, bukankah jika bersama mereka adalah pasangan yang serasi? Ibunya, bukankah selama ini melihat dirinya membuat Ibunya sesak?
" Lihat lah, bahkan sampai detik ini pun Tuhan masih ingin menguji ku. " Jarvis tersenyum setelah mengusap wajahnya.
Bersambung.