Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 85 : Sakit Karena Sebab Yang Samar



Tak jauh dari sana, tepatnya di balik dinding. Elle menutup mulutnya dengan air mata yang begitu banyak berjatuhan. Tadinya dia hanya ingin mengembalikan ponsel Jarvis yang terjatuh, tapi karena saat di luar tadi satpam sedang tidak ada dan gerbangnya juga tidak di kunci, jadilah Elle masuk ke dalam sana. Tapi siapa sangka kalau dia akan mendengarkan banyak hal di luar dugaannya selama ini.


" Sebenarnya kenapa kau tidak bisa mencoba denganku, Jarvis? "


" Aku tidak memiliki minat, aku tidak memiliki keinginan terhadap mu. Kau, tidak memiliki sesuatu yang bisa membuat ku sedikit saja merasa tertarik. Paling parahnya dan fatal, kau bukan Elle yang bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. "


Elle semakin kuat menekan bibirnya tak ingin kalau sampai dia kelepasan dan mengeluarkan suara tangis dari sana.


Mungkin untuk sebagian wanita, dia akan merasa tersentuh di saat mengetahui jika suaminya begitu setia padanya. Tapi, yang di rasakan oleh Elle bukan hanya tentang hal itu, hanya saja tentang menakutkannya kebencian dan juga keinginan Jarvis untuk membalas dendam. Elle jadi berpikir, apakah ketika dia melakukan kesalahan dia benar-benar akan di hukum dengan cara sesadis itu?


Tidak, dia tidak tahan lagi memikirkannya, dia meletakkan ponsel Jarvis di meja pajangan dan dengan cepat berlari keluar tak memiliki niat sama sekali untuk menoleh. Tapi sungguh sial sekali karena ketika dia keluar dari gerbang utama dia malah bertemu dengan Vivian yang juga terlihat hancur dengan matanya yang memerah. Sebentar mereka saling menatap dengan tatapan penuh arti, sementara Jarvis pria itu tak mengetahui adanya Elle bahkan sampai Elle keluar dari rumahnya.


" Kenapa kau ada disini? " Tanya Vivian dengan tatapan dingin, dia juga dengan jelas menunjukkan betapa tidak menyenangkan nya melihat Elle di sana.


Elle terdiam sebentar, rasanya dia sungguh muak dengan masalah yang tidak ada ujungnya tentang Jarvis, Vivian. Dia sudah cukup lelah bersabar dan berpura-pura sepanjang waktu, jadi mulai hari ini dia benar-benar hanya akan memikirkan dirinya sendiri, masa bodoh dengan perasaan orang lain.


" Seharusnya aku yang beratnya pada mu bukan? Kenapa kau ada di rumah Jarvis yang adalah suami ku. Aku sudah mendengar banyak, dan ternyata kau bahkan bukan siapa-siapa. Kenapa kau masih bisa menatap ku seberani itu? Apa kau tidak punya rasa malu? " Elle tersenyum dingin, rasanya dia ingin sekali mencekik Vivian sampai dia mati dan tertawa dengan begitu bahagia setelahnya. Yah, tapi sayang sekali menghabisi nyawa orang bukanlah tindakan yang bisa di maklumi, dan jeruji besi tentu akan menjadi kurungan bagi si pembunuh.


Vivian mengepal tangannya cukup kuat, sial! Dia benar-benar kesal sekali karena ucapan Elle barusan. Memang iya dia bukanlah siapa-siapa seperti yang selama ini di ketahui banyak orang dekat mereka, tapi tetap saja dia tidak bisa menerima karena jauh di dalam lubuk hatinya dia begitu menginginkan posisi yang selama ini di lakoni.


" Jangan membicarakan rada malu, kau bukan siapa-siapa juga bukan? Kau hanya di nikahi untuk di sakiti, apa yang ingin kau banggakan dari itu? Jarvis hanya memliki kebencian sehingga dia menikahi mu. Membicarakan rasa malu dengan ku tentu saja tidak akan membuat ku merasakan apapun, karena aku bahkan sudah melewati banyak masa yang kau tidak bisa membayangkannya. "


Elle tersenyum dengan tatapan meremehkan.


" Aku tidak perduli dengan hidup mu, tapi satu hal yang ingin aku beri tahu padamu yaitu, hidup mu tidak akan berakhir dengan baik. Bukan karen aku ingin melakukan sebagai pada mu, tapi feeling ku merasakan hal itu. "


***


Setelah hari itu, bak Jarvis mau pun Elle benar-benar mengalami gejolak perasaan pilu yang begitu besar. Jarvis, dia tersiksa dengan perasaan rindu dan cinta yang tak bisa dia miliki hingga seperti tercekik, tak bisa bernafas tapi harus tetap bertahan hidup dengan baik agar keinginannya menyaksikan Elle bahagia tercapai.


Sementara Elle, dia juga menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Sungguh dia tidak tahu bagaimana mengahadapi sebuah kenyataan yang begitu berbeda dengan apa yang dia pikirkan, dia sangka juga. Seberapa sering pun dia coba untuk memikirkannya dengan baik, yang ada Elle justru semakin terisak dengan alasan yang tidak jelas.


" Tidak, ini sudah cukup, sungguh. Aku tidak ingin tersiksa lagi karena perasaan semacam ini. Jarvis yang sama bodohnya, Vivian yang bodoh tapi arogan, aku yang semakin lama semakin kehilangan kendali hingga membuat ku menjadi seperti orang lain, aku sudah tidak sanggup lagi. "


Elle membalikkan tubuhnya, berjalan cepat menuju sebuah lemari dan membuka salah satu laci yang ada di sana. Selembar surat cerai yang form nya dia dapatkan dari Kenalan pengacara yang di kenalkan Jarvis beberapa hari lalu. Awalnya Elle masih merasa ragu dan bimbang mengenai sebuah perceraian, sekarang dia sudah benar-benar yakin dengan keputusan itu. Mungkin awalnya akan terasa begitu sulit, tapi Elle sudah menguatkan diri untuk bisa selalu kuat dan siap menghadapi masa nanti.


Elle sebentar membuang nafasnya perlahan, mengeluarkan sebuah pena dan perlahan mengerakkan tangannya untuk membuat coretan yang biasa di sebut tanda tangan. Selesai, dia sudah menandatangani surat permohonan untuk bercerai itu di barengi dengan air mata yang terjatuh. Elle mengingat jelas jari pertama dia bertemu dengan Jarvis di restauran milik Ayahnya, saat itu Jarvis datang untuk makan malam dan kebetulan sekali Elle yang melayani nya. Dari itu mereka terus mengobrol hingga bertukar kontak ponsel, dan semakin dekat setiap hari. Senyum indah di wajah Jarvis begitu sulit untuk dia lupakan, tapi tatapan tajam dan marah yang menakutkan seorang Jarvis juga tidak bisa hilang dari ingatannya.


" Selamat tinggal, Jarvis. Aku memang memiliki kemarahan dan kebencian terhadap mu. Tapi tidak tahu kenapa aku juga ingin kau bahagia, jadi bahagia lah Jarvis. Aku juga akan mencoba sebaik mungkin untuk bahagia. " Elle meletakkan pena itu dan terdiam sembari menatap selembaran itu.


***


" Apa-apaan ini?! Siapa yang sudah mencuri uang dan juga lainnya?! " Kesal Ibu Diana yang belum lama pulang ke rumah. Awalnya dia hanya ingin meletakkan gelang yang digunakan di tempat biasa, tapi begitu meletakkan gelang itu dan tak sengaja melihat ke arah dimana perhiasan sehari-hari tak ada, tentu saja dia terkejut bukan main. Segera di mengecek seluruh isi kamarnya, dan juga brangkas nya yang banyak sekali menghilang dari sana.


" Pelayan! Kumpulkan semua orang di ruang tengah! "


Bersambung.