Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 6 : Kesabaran Yang Terbatas



Elle terdiam dengan lelehan air mata yang deras membasahi pipinya. Entah sekarang ini masih malam atau sudah pagi dia benar-benar tidak tahu karena gudang di belakang rumah adalah tempat yang begitu tertutup, sesak seperti tak ada oksigen sama sekali. Benar-benar tidak ada penerangan sama sekali hingga Elle hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan apapun.


Suara tikus benar-benar jelas bisa dia dengar, bahkan beberapa saat lalu seekor tikus melintasi kedua kakinya hingga Elle berteriak karena terkejut. Tidak perlu meminta untuk di keluarkan, atau menghabiskan waktu untuk memukul pintu mengharapkan batuan karena itu tidak akan mungkin terjadi.


Elle masih duduk sembari memeluk kedua lututnya berharap selain tikus itu tidak mendekatinya, atau bahkan juga binatang yang paling dia takuti yaitu, kecoa. Menyedihkan sekali bukan? Dulu saat pertama kali mengenal Jarvis dia benar-benar tidak tertarik dengan Jarvis meskipun Jarvis memang sangat tampan dan kaya, pendapatnya tentang pria tampan dan kaya selalu saja tidak baik. Tapi, Jarvis seperti menunjukan keterkaitannya akan Elle melebihi dugaannya sendiri. Dia benar-benar seperti malaikat yang sangat sempurna, tampan, kaya, tampilannya yang gagah, serta perhatian dan sikapnya selama mendekati Elle amatlah meyakinkan membuat Elle membatin bahagia penuh syukur setiap hari karena ternyata Jarvis yang sangat tampan dan kaya itu justru memiliki hati yang sangat baik.


Tapi, coba lihatlah keadaannya sekarang! Elle bahkan di perlakukan lebih buruk dari pada Jarvis memperlakukan pelayan di rumahnya. Sebenarnya di mana kesalahan yang dia lakukan? Bagaimanapun Elle adalah istrinya, lalu bagaimana dia menjadi seperti sekarang ini? Padahal dia seharusnya berada di posisi Vivian kan? Bagaimana sebenarnya roda kehidupannya berjalan?


Suara pintu terbuka, sinar matahari yang ikut masuk saya pintu terbuka langsung saja membuat Elle mengeryit karena merasa begitu silau.


" Tuan bilang, kau sudah bisa keluar dan harus segera mengerjakan pekerjaanmu. " Ucap orang itu, membuat Elle menatap orang yang telah mengatakan kalimat tidak enak itu. Ah, rupanya dia adalah seorang pelayan yang bekerja di rumah Jarvis. Elle tidak mengatakan apapun, dia memilih diam dan perlahan bangkit untuk meninggalkan tempat yang begitu menyesakkan itu.


Rupanya ini sudah pagi, jadi dia benar-benar menghabiskan waktu makamnya di gudang sialan itu? Elle berbalik menatap gudang itu dengan tatapan marah, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Di dalam hati Elle hanya bisa membatin sedih dengan semua yang terjadi ini, padahal kalau dia tidak terikat hutang dengan Jarvis, dia pasti sudah bisa lari dari sana dan hidup dengan jalan lain yang jelas akan lebih membuatnya bahagia.


Elle menghentikan langkanya menatap betapa menyebalkan apa yang dia lihat sekarang ini. Jarvis dengan begitu mesra menyuapi makanan ke mulut Vivian, setelah itu dia mengusap perut Vivian dengan wajah yang begitu bahagia. Ibu Diana dan Wendy juga ikut terlibat bahagia. Elle mengepalkan tangannya dengan tatapan marah, tentu saja dia sudah bisa menebak kalau Vivian pasti sedang mengandung sekarang.


" Kenapa kau diam di sana, hah?! Iri ya? " Wendy terkekeh setelahnya seolah begitu bahagia melihat bagiamana Elle yang tengah bersedih itu. Vivian juga menatap ke arahnya terkecuali Jarvis yang nampak malas untuk melihat kearahnya. Vivian tersenyum lalu mengusap perutnya, tentulah maksudnya adalah untuk menunjukan kepada Elle bahwa dia tengah mengandung anak Jarvis dan ingin menunjukkan dengan jelas dimana posisinya.


Elle membuang pandangan, dia melanjutkan langkah kakinya menuju dapur untuk mengerjakan apa yang harus dia kerjakan. Rupanya tumpukan barang kotor sudah menggunung padahal Jarvis dan lainnya belum selesai sarapan, yah mungkin para pelayan di sana sengaja membuat banyak pekerjaan untuk Elle.


Dengan air mata yang jatuh lagi-lagi Elle hanya bisa diam dan mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya bukan miliknya. Benar-benar dia hanya bisa menangis tanpa suara, membatin sedih dan menyalahkan semua karena kemalangan ini. Dia benar-benar kesulitan menerima semua yang terjadi sekarang meski berkali-kali sudah mendapatkan luka dari Jarvis dan keluarganya. Yang menjijikkannya adalah, di dalam lubuk hati paling dalam Elle terus memohon kepada Tuhan agar suaminya kembali seperti sebelumnya. Yah, harapan itulah yang sebenarnya membuatnya semakin merasa sakit karena harapan indah yang dia inginkan terus mendapatkan kekecewaan yang begitu jelas.


Setelah selesai sarapan, Vivian rupanya pergi ke dapur dengan alasan ingin membuat jus sendiri agar sesuai seleranya. Tapi lagi-lagi tujuannya adalah untuk mencari gara-gara dengan Elle yang sebenarnya tidak ingin di ganggu sama sekali sekarang.


" Hei, sendalku kotor karena terkena noda makanan, cepat bersihkan sekalian! " Ucap Vivian kepada Elle lalu memperlihatkan wajah menghinanya.


Elle membuang nafasnya, dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya yang tidak terkena air ketika mencuci piring. Dia menatap Vivian sebentar dengan tatapan kesal tapi dia juga tetap menahannya karena sedang tidak ingin bertengkar dan menambah sedih di hatinya.


" Aku sedang sibuk, minta pelayan saja untuk melakukanya. "


Elle menggigit bibir bawahnya menahan diri terus untuk tidak terpancing emosi.


" Kau kan makan dnegan tangan, kenapa juga sendal yang terkena noda makanan? Apa kau juga memiliki hobi menggunakan kaki untuk makan? "


" Kenapa aku harus repot-repot seperti itu? Kau lihat sendiri bagaimana Jarvis memperlakukanku kan? Aku tidak punya tangan dan kaki pun tidak masalah karena Jarvis akan menyuapiku. " Ucap Vivian dengan mimik bangganya.


" Kalau begitu, minta saja Jarvis yang mengelap sendalmu. "


Vivian terdiam sebentar karena dia benar-benar sangat kesal hingga tidak bisa berkata-kata.


" Kau adalah pelayan bagi kami, kau harus menuruti semua yang aku katakan! Kalau aku memintamu untuk membersihkan sendalku maka kau harus menurut, kalau aku minta kau menjilat sendalku kau juga harus mematuhinya, kau paham?! "


Sudah, Elle benar-benar tidak tahan lagi. Padahal sudah sedari tadi dia menahan diri dengan hanya berkata-kata yang menurutnya masuk akal saja. Tapi sepertinya Vivian memang suka membuat gara-gara jadi dia tidak bisa lagi menahan lebih lama karena memenuhi hobi Vivian akan lebih memuaskan dia kan?


Elle menatap Vivian yang menatapnya dengan angkuh. Elle tersenyum membuat Vivian merasa terganggu dan waspada.


" Aku hanya boleh mengikuti perintahmu bukan? Baiklah, aku ini tidak punya pilihan lain rupanya, karena aku sangat totalitas dalam menjalankan tugasku, maka aku akan memenuhi perintahmu dengan semangat dan sepenuh hati. "


Elle mengambil air di wadah besar, lalu mengguyur air itu ke kepala Vivian membuat wanita itu memekik kaget dan marah.


" Ada apa, Vivian?! " Tanya Jarvis yang buru-buru berlari untuk melihat apa yang terjadi kepada Vivian.


" Elle! Dia melakukan ini padaku! "


Bersambung.