Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 95 : Milik Jarvis Seorang!



Sejenak Elle berpikir, lalu dia mengepalkan kedua tangannya dengan mimik yakin. Dia bangkit dari tempa dia duduk, membuang nafas sembari membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah itu, dia berjalan menuju kamar mandi dengan debaran jantung yang lagi-lagi begitu kuat. Elle meraih handle kamar mandi, perlahan menggerakkannya untuk membuka pintu, lalu menjalankan kakinya menghampiri Jarvis yang berdiri di bawah shower yang menyala dengan derasnya air berjatuhan.


Deg!


Tidak, Elle kehilangan keberanian dan dia benar-benar tidak sanggup lagi melanjutkan langkah kakinya. Ini sudah cukup, dia tidak berani, apalagi dia sama sekali tak menggunakan sehelai benangpun di tubuhnya. Elle menelan salivanya sendiri saat kembali menatap Jarvis yang nampak dari belakang. Gila, tubuh tinggi besar yang nampak tegap dan kokoh itu membuat jantungnya semakin berdetak kencang. Dengan Segera Elle membalikkan tubuhnya berniat untuk kabur dari sana. Tapi, lengan Jarvis sudah lebih cepat menahan langkah kakinya, dia menarik tubuh Elle agar menempel dengan tubuhnya dan membawanya ke bawah shower.


" Kau, kau kenapa cepat sekali menyadari kedatangan ku?! Tutup, tutup mata mu! Aku kan tidak pakai apapun! " Protes Elle mencoba menyingkirkan lengan Jarvis yang memeluk erat perutnya.


Jarvis tersenyum, tentu saja dia menyadari kedatangan Elle, tapi karena dia tidak ingin membuat Elle malu, makanya Jarvis berpura-pura saja tidak lihat dan menunggu saja kira-kira apa yang ingin di lakukan Elle dengan tubuh polos itu. Dari mana Jarvis tahu Elle tidak menggunakan pakaian? Maka jawabannya adalah, tak jauh dari Jarvis terdapat kaca yang tepat memantulkan gambar Elle di sana, jadi kalau dia menoleh dan menghadap Elle, tentu dia tidak akan melihat bagaimana menggemaskan Elle saat itu.


" Hanya mandi saja, tidak akan terjadi apa-apa kok. " Jarvis mengecup pundak Elle, mengambil sabun dan mulai membatu meratakannya di tubuh Elle.


" Aku bisa sendiri. "


" Jangan gugup begitu, aku kan pernah menjadikan mu beberapa kali sebelumnya, kalau kau lupa, aku bahkan pernah membersihkan kotoranmu."


Elle terdiam, iya waktu itu dia seperti sadar dan tidak sadar dengan apa yang terjadi. Tapi setelah di ingat kembali, masa itu adalah masa Jarvis menunjukkan segala perhatian dan cintanya untuk Elle. Dia yang begitu sabar, mana mungkin Elle akan mengelak akan perasaan yang di miliki Jarvis?


Elle berbalik, dia mengambil spons mandi dari tangan Jarvis, lalu menggosokkan di tubuh Jarvis.


" Sekarang biarkan aku yang membantu mu. "


" Jangan memaksakan diri, pipi mu merah sekali loh. "


" Tidak apa-apa! "


Jarvis membalikkan tubuh Elle agar membelakanginya. Lalu memeluknya dari belakang.


" Kenapa begini? Kita harus mandi kan? "


" Lihat saja ke arah sana, jangan melihat ku. "


" Kenapa? "


" Tidak ada apa-apa. "


Jarvis tentu saja tak berani mengatakan yah sebenernya kalau bagian bawahnya benar-benar sudah dalam mode siap hantam, tapi karena Elle bilang dia lelah tadi, sepertinya Jarvis memang harus menahan diri lebih lama lagi sampai Elle benar-benar siap.


Setelah Elle selesai mandi, Jarvis bertahan di kamar mandi alasannya karena dia ingin buang air besar dulu. Sementara Elle yang sudah rapih dan sudah pula berpakaian, dia segera memesan makanan untuk mereka melalui servis room.


" Sudah selesai? " Tanya Elle yang kala itu tengah menata makanan di meja untuknya dan juga Jarvis.


Jarvis memaksakan senyumnya, lalu mengangguk. Gila, sudah cukup lama dia di dalam kamar mandi untuk mengurus bagian yang sulit dijinakkan tapi sampai tangannya pegal pun tak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.


" Aku pakai ini saja, lebih nyaman sepertinya. " Ucap Jarvis memegang jubah mandi yang ia kenakan membuat Elle mengeryit bingung.


" Kenapa? Bukannya kain lembab tidak baik untuk kulit mu? "


Jarvis membuang nafasnya.


" Elle, ada bagian yang tidak nyaman untuk ku menggunakan celana. Mohon di mengerti oke? "


Elle bertambah bingung saja di buatnya. Apa? Apa sih?! Dia benar-benar tidak tahu yang mana dan apa yah di maksud Jarvis.


" Sebenarnya apa sih? Jangan bilang kau tidak nyaman karena aku yang menyiapkan pakaian mu, kau tidak suka? "


Jarvis lagi-lagi menghela nafas, dia memilih berjalan mendekati Elle, begitu dia dekat, di raihlah tangan Elle, lalu membiarkan tangan Elle menyentuh bagian bawah Jarvis yang masih dalam situasi tegang.


" Kau mengerti? Kalau aku pakai celana dengan situasi seperti ini, aku akan tersiksa sekali. "


Elle menelan salivanya, dia menjauhkan tangannya dari sana. Lalu membawa Jarvis untuk pergi sarapan dulu. Sepanjang sarapan Jarvis benar-benar terlihat tidak konsentrasi. Wajahnya terus memerah, juga keringat dingin terus keluar dari pori-pori wajahnya.


" Aku sudah kenyang, aku ke kamar mandi dulu ya? " Jarvis sudah akan bangkit, niatnya dia ingin berjalan cepat menuju kamar mandi dan membuang sesuatu yang harus segera dia buang agar tidak membuat sakit kepala atas bawah. Tapi tangan Elle menahan lengannya sehingga Jarvis hanya bisa terdiam sebentar menatap Elle dengan tatapan penuh tanya.


" Ada apa? " Tanya Jarvis.


Elle tak mengatakan apapun, dia memberanikan diri untuk bangkit dan berdiri di hadapan Jarvis lalu menatap kedua bola matanya.


" Kenapa? Ada yang sakit? " Tanya lagi Jarvis yang kebingungan karena Elle justru terdiam tanpa kata.


Elle menggeleng dengan cepat.


" Kalau begitu, aku sebentar ke kamar mandi ya? " Ucap Jarvis yang semakin tidak tahan merasai bagian bawahnya yang lama kelamaan membuatnya semakin tak nyaman.


" Jangan! "


Jarvis terkejut dan menatap ke arah Elle masih dengan mimik wajah yang bingung. Tapi tak seberapa lama Elle mulai mendekatkan tubuhnya, dan langsung mengecup bibir Jarvis. Tentu saja Jarvis terkejut, dia terus menatap Elle mencari tahu apakah yang dia pikirkan sama dengan yang di pikirkan Elle?


" Elle? " Jarvis menatap Elle semakin dalam, dan begitu Elle mengangguk, Jarvis benar-benar semakin tak bisa menahan diri lagi. Kedua tangannya dengan cepat meraih tengkuk Elle, membuat ciuman yang baru saja dia mulai semakin serat menyatu.


Jarvis mengangkat tubuh Elle, membuat kedua kaki Elle melingkar di pinggangnya, dia juga masih tak melepas ciumannya hingga Jarvis membawa tubuh Elle ke atas tempat tidur.


" Kau tidak boleh menyesal, kau mengerti kan kalau sudah terjadi tidak akan mungkin bisa kembali seperti semula? " Tanya Jarvis yang benar-benar ingin memastikan kebenaran tentang hal itu. Elle mengangguk, dan itu membuat Jarvis tak memiliki batasan apapun lagi. Elle, hatinya, miliknya, semuanya adalah milik Jarvis seorang saja sekarang.


Bersambung.