Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 62 : Makan Malam



Elle bersiap-siap untuk memenuhi janjinya kepada Bryant yaitu, makan malam bersama kalau Bryant bersedia membantunya. Memang sih hanya makan bersama saja, tapi bagi Bryant hal itu benar-benar sangat menyenangkan. Jika ada yang bertanya bagiamana perasaan Elle setelah semua ini terungkap maka jawabannya adalah, dia mati rasa untuk semua hal. Entah itu kebahagiaan, atau pula kesedihan tak bisa lagi dia rasakan seolah semuanya semu dan palsu.


" Kau mau pergi kemana? " Tanya Jarvis yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka dan mendapati Elle sudah menggunakan pakaian yang rapih juga mengunakan sedikit make up yang membuatnya terlihat sangat cantik.


" Menemui Bryant untuk memenuhi janjiku, aku hanya menjanjikan makan malam berdua saja, tapi dia begitu royal tidak segan-segan membantuku. Dia lumayan juga bukan? " Elle tersenyum tipis bertanya sembari menatap menatap wajah Jarvis yang terlihat kaget, ah! Dia juga terlihat kecewa karena nyatanya semua berjalan begitu cepat. Elle membatin di dalam hati, Jarvis pasti akan marah, dan jika Elle menunjukan sikap murahan setiap hari, maka Elle yakin benar Jarvis pasti akan merasa muak dan lelah mempertahankan kekukuhannya.


" Baiklah, jam berapa kau akan pulang ke rumah? Aku akan menjemput mu nanti. "


Elle terdiam, sungguh bukan reaksi seperti ini yang Elle inginkan.


" Tidak tahu, mungkin saja aku akan menginap. "


Jarvis menahan nafasnya beberapa detik sebelum dia menghela, ucapan Elle barusan jelas hanyalah untuk menggoyahkan dia saja, meksipun benar ia merasa sakit, kecewa, dan juga cemburu, tapi dia juga tidak perlu menunjukannya secara langsung kan? Makan malam, menginap, entah maksud Elle menginap bersama dengan Bryant atau bukan, tapi Jarvis akan menelan saja ucapan itu dan mencoba yang terbaik yang bisa dia lakukan.


" Biarkan aku yang mengantar mu. "


" Tidak perlu, Bryant tipe pria yang bertanggung jawab jadi dia pasti akan datang kemari untuk menjemput ku. "


Jarvis memaksakan senyumnya, dia mengangguk seolah begitu paham dengan semua yang di katakan Elle barusan.


" Bryant sudah ada di depan, aku keluar dulu. " Ucap Elle seraya berjalan untuk keluar dari kamarnya.


" Tunggu! "


Elle mengentikan langkah kakinya, berbalik badan untuk menatap ke arah Jarvis yang bertanya untuk apa lagi Jarvis menahan langkah kakinya?


" Di luar sedang banyak angin, pakai ini dan jangan biarkan tubuhmu sakit. " Jarvis memasang kan sebuah jaket ke bahu Elle.


Elle terdiam sebentar menahan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan bagiamana sebenarnya. Dia marah dan kecewa, dia tidak menginginkan Jarvis yang seperti itu, bukan reaksi semacam itu yang dia harapkan. Bukankah akan lebih baik jika Jarvis memakinya? Memukul juga akan lebih baik di bandingkan sikap aneh semacam itu.


" Terimakasih, tapi tubuh ku sudah terbiasa menerima rasa sakit, akan aneh kalau orang yang sering melukai tubuh ini menjadi sangat perhatian, jadi akan lebih baik tidak memperdulikan tubuh ini sama seperti sebelumnya. " Elle membalikkan tubuhnya, berjalan untuk keluar dari kamar meninggalkan Jarvis yang terdiam tak berani mengikuti langkah kaki Elle dan mengantarnya sampai ke depan. Jarvis berjalan menuju ke arah jendela, melibat bagaimana Elle di sambut hangat oleh Bryant dan masuk ke dalam mobil lalu pergi ke tempat tujuan mereka untuk makan malam.


***


Penelope terdiam memandangi photonya bersama Ayah dan juga Elle. Semenjak kejadian Ayahnya di rumah sakit beberapa waktu lalu Penelope benar-benar tak bisa tidur nyenyak, belajar pun dia sama sekali gak bisa konsentrasi karena terus memikirkan bagaimana keadaan kakaknya, dan bagiamana sebenarnya luka di tubuh kakaknya itu bisa terjadi?


" Lope, kau memandangi terus ponsel mu apa kau tidak lapar? " Penelope tersentak saat satu temannya menegur dengan lembut.


" Ah, maaf! Aku akan makan. " Penelope memaksakan senyumnya, lalu sebentar menatap makanan yang dia dapatkan secara gratis karena hari ini adalah hari ulang tahun sahabatnya yang di adakan di sebuah restauran milik orang tua sahabatnya Penelope, dan restauran itu cukup mewah dan terkenal.


Penelope kembali memaksakan senyumnya, jika saja masalahnya adalah untuk dirinya sendiri maka tentu saja dia akan dengan gamblang menceritakannya, tapi ini adalah masalah kakaknya, sudah begitu Penelope merasa kejadian ini sangat sulit untuk dian pahami, dia takut salah bicara dan nantinya akan merugikan kakaknya sendiri.


" Aku hanya sedang banyak berpikir karena hari ulang tahun ku kan tinggal dua Minggu lagi. Kau tahu kan kakak ku sudah menikah? Aku yang terbiasa mengabiskan seluruh waktu ku saat malam ulah tahun bersama Ayah dan kakak ku, aku jadi merasa kalau nanti pasti tidak akan seseru saat ada kakak ku. "


Dia sahabat Penelope menghela nafasnya, mereka tahu benar bagaimana Penelope menyayangi kakak bahkan menganggapnya sebagai pengganti ibu juga.


" Kakak mu pasti akan datang saat kau ulang tahun, jangan khawatir, aku kan juga tahu kalau kakak mu itu sangat sayang padamu. Aku juga pernah bilang kan kalau aku iri dengan mu? Kau ini sangat beruntung memiliki kakak seperti dia. "


Penelope tersenyum dan mengangguk.


" Eh, **** itu bukannya kakak mu ya? " Tanya satu sahabat Penelope yang sedari tadi hanya mengangguk saja ketika Penelope dan satu temannya lagi terus bicara.


Penelope menoleh mengikuti jati telunjuk temannya itu menunjuk. Penelope terdiam, tersentak tak percaya kalau akan melihat kakaknya di sana, dan yang membuat Penelope sangat amat terkejut adalah pria yang terlihat bahagia sekali karena terus tersenyum mempersilahkan Elle duduk setelah menarik kursi bukanlah Kakak iparnya.


" ****, bukanya kakak ipar mu bukan dia? Apa mungkin pria itu saudara kalian? "


Penelope masih tak bicara dengan kedua mata yang masih terus mengarah kepada kakaknya juga pria asing yang tidak di ketahui siapa.


Penelope bangkit dari sana, lalu segera menuju di mana meja kakaknya berada.


" Kak? "


" ****? " Elle yang kala itu tengah memegang buku menu makanan tersentak dan segera menjauhkan buku menu itu, bangkit dan menatap adiknya yang entah mengapa ada di sana juga.


" Kenapa kau ada di sini? " Tanya Elle.


" Bukan kakak yang seharusnya bertanya seperti itu, tapi aku. Kenapa kakak ada di sini, dan kenapa kakak pergi dengan pria yang bukan suami kakak? "


Elle terdiam, Bryant yang juga terkejut segera bangkit lalu mencoba untuk tersenyum dan menyapa agar suasananya tidak menjadi kaku.


" Dik, duduk lah dulu baru kita bicara ya? "


Penelope menatap Bryant dengan tatapan marah.


" Anda terlihat seperti orang yang berpendidikan. " Ujar Penelope yang jelas ingin menyampaikan kepada Bryant dengan maksud yang menyakitkan.


Bersambung.