Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 22 : Keteguhan Terbesar



Elle mengadakan wajahnya menatap langit malam yang begitu gelap karena mendung menutupi sinar bulan. Hari ini adalah hari dimana dia bertemu dengan Jarvis untuk pertama kalinya, ingat benar hari itu Jarvis tersenyum sangat ramah, dia menunjukan dirinya yang lembut dan perhatian, membuatnya lama kelamaan jatuh cinta begitu dalam.


Sayang sekali cinta yang di miliki Elle sudah hampir habis, dia bahkan tidak ingat lagi bagiamana indahnya hari dimana dia dan Jarvis saat dulu setelah semua yang terjadi ini. Luka fisik yang meninggalkan bekas di tubuhnya mungkin sebagian akan menghilang, tapi yakin seribu persen kalau luka di hatinya tidak akan bisa dia lupakan untuk seumur hidup.


Kenangan menyakitkan ini biarlah menjadi cerita yang akan dijadikan sebuah kekuatan untuk menjalani masa depan yang lebih baik, dan mematikan benar apa yang terjadi sekarang ini tidak akan terjadi di masa depan.


" Nona? "


Elle membenahi posisinya, dia membalikkan tubuhnya dan tersenyum saat yang ia lihat adalah Eliza. Dia membawa sekantung kecil plastik kecil lalu berjalan mendekati Elle dan menyerahkan kantung kecil itu.


" Ini apa? " Tanya Elle bingung.


" Ini dari Tuan Bryant, tadi sebelum kesini Nyonya Vivian memintaku untuk membelikan salad buah di restauran segar yang tidak jauh dari rumah. Saat akan masuk aku melihat Tuan Bryant, lalu dia menghampiriku, lalu bertanya banyak tentangmu. "


Elle mengangguk saja, awalnya dia sama sekali tidak tertarik untuk menceritakan masalah itu, apalagi ada pria asing yang tidak dia ketahui siapa dengan jelas.


" Dia mengatakan padaku untuk menyampaikan ini padamu, dan dia mengatakan jika kau harus hidup dengan baik. Dunia ini akan kejam saat kau tidak tahu cara dunia bekerja, jadi amati situasinya, dan pilihlah pilihan yang menguntungkan dan aman. "


Elle terdiam, dia jelas kurang memahami benar ucapan barusan, tapi sepertinya ucapan itu perlu dia pikirkan dan artikan dnegan benar apa maknanya.


" Kalau begitu, terimakasih. " Ucap Elle lalu menerima kantung obat itu dari tangan Eliza.


" Tuan Bryant bilang, luka bakar di tanganmu harus baik-baik merawatnya agar tidak meninggalkan bekas, dan kantung itu juga berisi obat dan cara bagaimana merawat luka. "


Elle mengangguk paham.


" Ngomong-ngomong, apa orang itu memang sangat baik? "


Eliza mengangkat kedua bahunya karena memang dia tidak bisa mengenali orang beserta karakternya secara tepat.


" Setahuku dia itu bukan Dokter sungguhan, kedua orang tuanya yang profesinya sebagai Dokter, tapi kabarnya kedua orang tua Tuan Bryant meninggal saat menjadi Dokter relawan di salah satu perbatasan negara yang tengah perang besar. "


" Oh, tapi ngomong-ngomong, hubungan orang itu dengan Wendy bagaimana? "


Eliza nampak berpikir, sebentar dia mengingat semua yang dia ketahui.


" Dulu Tuan Bryant memang sering datang kesini, kalau masalah hubungan, sepertinya Nona Wendy saja deh yang menyukai Tuan Bryant, soalnya hampir tidak pernah Tuan Bryant memperhatikan Nona Wendy. "


Elle tersenyum tipis.


" Pergi? Kemana? "


" Kalau tidak salah, Tuan Jarvis dan yang lainnya akan menghadiri acara besar dari keluarga Nyonya besar. Sepertinya di luar kota, itu sih kalau aku tidak salah dengar. "


Bagus, kalua mereka pergi aku jadi punya kesempatan untuk mecari tahu atau bukti kenapa mereka menyiksaku seperti ini.


" Nona Elle, kalau nanti mereka mengajak Nona pergi, tolong jangan ikut ya? Mereka pasti akan banyak menyiksa Nona, mereka pasti akan bertindak keterlaluan. Luka di tubuh Nona belum juga kering, jadi jangan berurusan dengan mereka dulu supaya tidak mendapatkan luka baru. "


Elle menunduk melihat lengan serta telapak tangannya yang masih menggunakan perban hingga kini. Miris, benar-benar miris sekali hidup setelah dinikahi Jarvis yang dulu menjanjikan miliaran cinta untuknya. Tidak, sudah cukup dan luka ini akan di bayar oleh mereka semua tanpa terkecuali.


" Eliza, aku akan bergerak dengan caraku sendiri. Aku percaya kepada kekuatanku sendiri. Memang benar aku mencinta Jarvis walau tak sebesar dulu, memang benar aku masih merasa cemburu dan kesal setiap kali Jarvis memperlakukanku dengan buruk, tapi memperlakukan Vivian dengan lembut. Aku tidak bisa kabur begitu saja sebelum semuanya jelas, aku tidak ingin lari seperti pengecut dan membiarkan mereka semua tidak mendapatkan hukuman. "


" Tapi, Tuan Jarvis terlalu bahaya, Nona. "Eliza benar-benar membuat Elle tersentuh dengan wajah khawatirnya. Gadis itu seusia dengannya, bekerja di rumah Jarvis juga untuk menghidupi Ayah yang pemabuk saja sehingga Eliza harus hidup dengan ketakutan dan kebimbangan setiap waktu.


" Maka dari itu, aku hanya perlu membuat dia tidak bisa berpikir dengan benar. " Elle tersenyum miring, rencananya memang benar sangat beresiko, lalu kenapa dia menceritakan kepada Eliza, apakah dia tidak takut Eliza mengkhianatinya dan mengadukan semua kepada Jarvis dan keluarganya? Oh, tidak! Elle sudah mempersiapkan itu dengan baik jika sampai benar terjadi.


Setelah beberapa saat, jam dimana makan malam sudah harus di siapkan. Elle tida banyak membantu karena Eliza terus memohon agar Elle tidak banyak beraktifitas agar lukanya cepat keting dan sembuh. Rupanya hal itu di sadari oleh Ibu Diana yang belum lama kembali ke rumah bersama dengan Wendy.


" Kalau mau mendapatkan makan malam ya harus bekerja, jangan cuma berdiam diri seperti itu sedari tadi. " Sindir Wendy.


" Diamlah, Wendy. Kau tidak lihat tangan dan lengannya di perban? Kalau sampai tangan dan lengannya busuk, itu juga bisa membuat kita repot. Jadi biarkan saja dan nikmati saja makan malam mu. " Ucap Jarvis yang langsung membuat Wendy tidak bisa berkata lagi. Vivian yang juga ada di sana juga terlihat kesal, karena bagaimanapun juga cara bicara Jarvis, tetap saja rasanya Jarvis begitu perhatian dengan Elle.


" Memang ulah apa sih yang dia buat? Sudah sering di hukum tapi masih saja tidak punya jera. " Ujar Ibu Diana.


Mengoceh lah kalian, katakan apa yang ingin kalian katakan tentangku. Tidak masalah, aku akan lihat seberapa jauh dan seberapa hebatnya kalian dalam berucap. Ingat saja, dari asal aku bahkan menggigit saat kalian berulah, jadi ketika aku sudah benar-benar bertekad nanti, satu centimeter pun kalian tidak akan bisa lepas dari genggaman ku.


Elle tak bicara, bukan karena dia takut pastinya, tapi dia memilih untuk tenang dan mundur selangkah membiarkan semua orang di sana merasa hebat dengan kata-kata bodoh mereka sendiri.


" Dia hanya kekurangan untuk tahu diri, makanya dia bisa di hukum seperti itu. " Ujar Vivian yah gak mau kalah.


" Memang wanita tidak tahu diri pantas menderita, bagaimanapun pria harus pintar-pintar memilih wanita, jangan sampai bertemu dengan wanita seperti itu. " Ucapan Wendy barusan mendapatkan senyum tipis dari Elle.


Jadi, aku akan menunjukan padamu seperti apa sebenarnya wanita yang tidak tahu diri. Tolong jangan terkejut, dan cobalah untuk makan lebih banyak, adik ipar!


Bersambung.