
Jarvis melihat ke arah koper besar yang ada di atas lemari, lalu bangkit dan mengambil satu untuknya.
Bukan hanya karena sedang marah saja, tapi Jarvis sudah memikirkan ini dari beberapa hari lalu. Elle, Bryant, keluarganya, bukankah semua kesedihan ini terjadi karena dirinya? Apakah jika dia tidak ada di sekitar mereka akan banyak kebahagian yang ada? Elle dan Bryant, bukankah jika bersama mereka adalah pasangan yang serasi? Ibunya, bukankah selama ini melihat dirinya membuat Ibunya sesak?
" Lihat lah, bahkan sampai detik ini pun Tuhan masih ingin menguji ku. " Jarvis tersenyum setelah mengusap wajahnya.
Akhirnya dia benar-benar memilih pergi, pada akhirnya dia benar-benar kehilangan kesabarannya untuk tetap bertahan. Mungkin ini adalah akhir yang paling baik, atau ini adalah tindakan bodoh yang pernah dia ambil. Entahlah, yang pasti tujuan dia pergi bukan hanya untuk menghilang saja, tapi dia ingin kembali menata hatinya, mencoba untuk menjauhkan segala hal yang membuat pikirannya kacau, dan jika nanti kembali semua akan baik-baik saja seperti harapannya.
Di ruang tamu. Ibu Diana masih terdiam dengan linangan air mata yang terus membahasi pipinya. Sebenarnya dia cukup sadar untuk mengingat dengan jelas di mana letak kesalahan yang dia lakukan, tapi saat marah dia terlalu egois dan kadang sampai lupa menjaga lisan yang pada akhirnya melukai perasaan Jarvis. Sekarang dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana, dia ingin menahan Jarvis untuk pergi dan tetap di sana, tapi dia juga cukup sadar benar bahwa yang bisa dia lakukan sebagai seorang Ibu hanya lah melukai perasaan putra pertamanya itu.
Ibu Diana bangkit dari duduknya, dia sebentar menoleh ke belakang di mana kamar Jarvis berada. Sekarang dia benar-benar tidak memiliki keberanian untuk mengganggu Jarvis, jadi dia memilih untuk pergi dari rumah yang di tinggali Jarvis dan menuju tempat tinggalnya yang selama ini dia tinggali.
Begitu dia sampai di rumah, yang di lakukan Ibu Diana adalah langsung masuk ke kamar mendiang Fredon, mencari handycam yang di letakkan Jarvis di meja yang ada di sana. Satu persatu Ibu Diana melihat Video yang di tinggalkan Fredon.
Setelah melihat semua video itu, Ibu Diana menangis sejadi-jadinya karena tak sanggup menahan segala kesedihannya. Padahal selama ini Fredon sudah memenuhi kriterianya sebagai anak yang dia inginkan. Ternyata, keinginannya yang berlebihan telah membentuk putranya untuk menjadi pria bajingan, sialnya saat Fredon tersenyum mengatakan banyak hal tidak baik saat sedang melakukan hubungan dengan wanita, entah mengapa Ibu Diana merasa kalau selama ini Fredon lah yang sangat mirip dengan Ayahnya meski wajah Fredon cenderung mirip dengan Ibunya.
" Bagaimana semua bisa seperti ini? Apa yang sudah aku lakukan selama ini? " Tangis Ibu Diana menyesali semua yang terjadi kepada semua orang yang dia sayangi. Jarvis mulai membencinya, Wendy dalam keadaan yang tidak baik, Fredon pergi untuk selama-lamanya. Ibu Diana jadi merasa kalau semua yang terjadi ini adalah hukuman sekaligus buah dari perbuatannya. Jika saja dia terus memberikan pengertian kepada Wendy untuk tidak memaksakan perasaan, kalau saja dia tidak begitu menuntut kepada Fredon, andai saja dia bisa lebih adil lagi dalam memperlakukan Jarvis.
***
Vivian merintih kesakitan memegangi tangannya yang terkena air panas beberapa saat lalu. Dia kini tengah duduk di kursi yang kotor karena hanya itu yang tersisa. Sudah tidak ada lagi Vivian yang dengan angkuh menunjuk orang dan meminta untuk melakukan ini dan itu, karena dia sekarang hanyalah seorang pekerja di sebuah tempat berkuda. Bagiamana bisa begitu? Tentu saja karena Ibu Diana yang memaksanya untuk bekerja dia sana, tujuannya adalah untuk melunasi uang yang sebelumnya di ambil oleh Vivian.
" Sialan! " Ucap Vivian kesal, memaki dengan marah untuk apa yang terjadi padanya sekarang ini. Sudah uangnya di ambil lagi oleh Ibu Diana, dia pun harus di paksa berada di sana dengan alasan untuk membayar uang yah di curi Vivian sebelumnya. Ah, mau kesal dan protes tapi protes dengan siapa? Kuda?
" Aku harus membalas, kalau tidak bisa memliki Jarvis dan menjadi Nyonya untuk hidup dengan nyaman, kalian juga tidak boleh hidup nyaman. Terutama kau Elle, kalau bukan karena mu, aku tidak akan hidup seperti ini. " Gumam Vivian dengan wajah penuh keyakinan.
" Kau masih ingin bersantai di sini? Dari pagi membersihkan kotoran kuda saja bum selesai! Kau ini manusia atau siput? Ini sudah pukul empat sore asal kau tahu! " Ucap pemilik penangkaran kuda yang sudah sedari tadi mencari keberadaan Vivian, tapi begitu mendapati Vivian yang malah duduk santai tentu lah dia menjadi kesal sekali.
" Aku ini kelelahan, istirahat sebentar apa salahnya? Lagian tangan ku juga terkenal air panas kemarin, jadi sulit untuk ku mengerakkan tangan ku dengan leluasa. "
" Jangan banyak alasan! Cepat pergi, lanjutkan membuang kotoran kuda! "
Vivian menatap sinis pemilik penangkaran kuda tersebut.
" Diam lah, dasar cerewet! "
***
Jarvis menghela nafas begitu dia duduk di kursi pesawat. Dia melihat ke arah kaca dan terdiam memikirkan kira-kira apa yang akan terjadi, bagaimana suasana saat dia kembali nanti? Sekarang dia pergi membawa hatinya yang begitu pilu, mungkinkah saat kembali keadaan hatinya akan membaik?
Entah lah, bagaimanapun hidup memang harus terus berjalan. Tidak apa-apa tidak memiliki pasangan hidup, kebahagiaan, juga kepuasan. Begitu juga sudah cukup bukan? Walaupun tidak bahagia asalkan hatinya lega juga sudah jauh lebih dari cukup.
Jarvis mengeluarkan ponselnya, lalu tersenyum melihat pesan yang tak mendapatkan balasan dari Elle. Iya, tadi pagi sebelum berangkat ke bandara Jarvis mengirimkan pesan kepada Elle, dia mengatakan jika ada sesuatu yang di butuhkan selama proses perceraian berlangsung, maka Elle bisa menghubunginya, atau menghubungi pengacara. Jarvis tersenyum bukan karena dia merasa bahagia tak mendapatkan balasan, dia hanya menertawakan kebodohannya yang tidak ada habisnya.
" Kenapa juga aku harus mengirim pesan seperti sedang berpamitan? Tentu saja dia tidak akan perduli bukan? "
Jarvis mengernyitkan dahi karena wanita yang tiba-tiba duduk di sampingnya mengibaskan rambut panjangnya dan membuat wajah Jarvis terkena kibasan rambut itu.
" Anda mau pergi kemana, Tuan? " Ucap wanita itu lalu membuka kacamata hitamnya, topi yang ia kenakan, juga masker penutup wajah.
Bersambung.