
" Aku mengirimkan surat permohonan cerai pagi tadi, dan kau langsung mengembalikan ini beserta tanda tangan mu, kau benar-benar orang yang sangat serius dan cepat ya?. " Pertanyaan itu akhirnya lolos begitu saja dari bibir Elle padahal dia benar-benar sudah sekuat tenaga menahan diri sedari tadi. Sungguh dia tidak tahan dengan perasaan kecewanya, padahal dia juga lah yang lebih dulu menandatangani surat permohonan cerai itu.
Jarvis terdiam mencoba tak menyalah pahami ucapan Elle yang seperti tidak rela untuk bercerai. Sejenak dia menatap Elle yang justru mengalihkan pandangan membuat dia bingung dan tak tahu harus bagiamana menanggapi ucapan Elle barusan. Jarvis membuang nafasnya sebelum ia menjawab.
" Jika kau sudah mengambil keputusan, tentu saja aku hanya bisa menurutinya. Asalkan kau menginginkannya, maka aku akan menuruti apa yang kau inginkan. "
Elle membuang nafasnya.
" Kalau begitu, berikan semua harta yang kau punya tanpa terkecuali. "
Jarvis terdiam.
" Yah, aku sudah bisa menebaknya. " Ucap Elle.
" Berikan kertas itu padaku, atau berikan saja kertas kosong, aku akan menulisnya dengan tangan ku sendiri, kau bisa mengambil gambarnya sebagai bukti. "
Elle terdiam dengan wajah terkejutnya.
" Apa? "
" Berikan aku kertas kosong untuk menulisnya. Proses selanjutnya akan di lanjutkan oleh sekretaris ku, jadi hanya surat perjanjian saja yang sekarang ini. "
Elle mengalihkan pandangan tak ingin terus menatap Jarvis yang terlihat begitu serius menanggapi ucapannya. Padahal Elle hanya menggertak saja, dia hanya ingin membuktikan kepada dirinya sendiri juga kepada Jarvis bahwa Jarvis bukanlah pria yang begitu mudah menyetujui permintaan darinya.
" Kau gila, Jarvis. " Ujar Elle yang sudah tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Jujur saja kesedian Jarvis benar-benar menggoyahkan hatinya yang sudah merasakan tekad besar sebelum menandatangani surat cerai itu.
Jarvis memaksakan senyumnya, gila? Tidak, lebih tepatnya dia sudah putus asa dan tidak memiliki alasan untuk mejalani hidup Selian melihat Elle bahagia. Entah akankah ada cerita di mana dia menemukan cinta baru lalu bahagia seperti kebanyakan cerita kehidupan biasanya. Hanya saja Jarvis benar-benar sudah kehilangan minat, dan tidak menginginkan cinta dari wanita lagi. Cukup, sudah cukup mencintai Elle saja, dia tidak ingin jatuh cinta lagi, membangun perasaan lagi yang belum tentu juga akan bermanfaat untuknya.
" Aku sudah lama gila, kau juga tahu kan? hanya saja kau baru berani mengatakannya sekarang. "
" Tinggalkan saja surat permohonan cerai, yang lainnya kau bawa saja. Kau tidak membutuhkannya, aku tidak ingin menerima apapun. "
Jarvis menatap Elle dengan dahi mengeryit karena memang lah dia merasa bingung dengan ucapan Elle yang berbeda atau berbaring terbalik dari sebelumnya.
" Aku tidak akan menerima perceraian ini kalau kau tidak menandatangani kertas itu. Kau bisa mengajukan perceraian, tapi aku juga bisa membuat perceraian kita di tolak. Jadi kalau kau ingin bercerai, tanda tangani dan terima lah saja apa yang aku berikan. Aku tahu kau tidak menginginkannya, tapi aku benar-benar ingin memberikannya untuk mu. "
" Aku akan mengabari mu nanti. " Ucap Elle yang sudah tak ingin berdebat lagi. Dia benar-benar di buat kacau oleh Jarvis, jadi dia harus tenang dulu memikirkan baik-baik sebelum dia melangkah ke depannya nanti.
" Baiklah. "
" Elle? "
" Kau masih juga datang kesini? Kau sedang mempengaruhi Elle? " Ujar Bryant yang terlihat kesal.
Jarvis membuang nafas kasarnya, sebenarnya Jarvis paling tidak ingin berurusan dengan Bryant karena dia tahu benar Bryant adalah orang yang malang, di tambah dia juga adalah sahabat yang tumbuh bersama dengan Jarvis sedari kecil. Bryant adalah satu-satunya teman yang ada di saat Jarvis berada di titik terendah, yaitu di saat Ibunya melahirkan Fredon dan membuat Jarvis kehilangan kasih sayang yang hanya sedikit setelah habis di berikan kepada Wendy. Di tambah lagi Jarvis harus menghadapi perceraian orang tuanya yang pada akhirnya membuat sang Ayah memilih untuk menitipkan Jarvis bersama adik-adiknya bersama sang Ibu yang memang berasal dari keluarga berada berharap Jarvis dan adik-adiknya tak merasakan yang namanya kelaparan atau kekurangan uang.
Tapi, semakin hari Bryant benar-benar seperti berubah menjadi orang lain, yang pada akhirnya membuat Jarvis terluka oleh perubahan sikap Bryant. Memang dia bersalah, jelas dia bisa menerima penghakiman yang di tujukan padanya, tapi Bryant? Pria itu adalah pria yang tidak akan pernah Jarvis jadikan musuh sesuai janjinya saat mereka remaja dulu.
" Aku hanya mengantarkan sesuatu, aku sudah selesai, aku akan pergi. "
" Kalau begitu, cepat lah pergi, Elle pasti sudah muak berada di dekat mu. "
Jarvis terdiam, lalu menatap Elle sebentar sementara Elle seperti menghindari kontak mata dengan Jarvis membuat Jarvis merasa kalau yang di katakan Bryant tadi adalah benar.
" Baiklah. " Jarvis melangkahkan kakinya keluar, menahan diri untuk tidak menoleh karena dia tidak ingin menatap kembali Elle yang pada akhirnya hanya akan membuat dirinya semakin tak tenang.
Elle mencengkram kepalan tangannya semakin kuat melihat punggung Jarvis yang semakin menjauh darinya.
" Elle, apa yang dia katakan? Apa dia mengatakan hal yang membuat mu terguncang? " Tanya Bryant sembari memegang kedua pundak Elle dan menatapnya dengan tatapan khawatir.
Elle menghela nafas, menatap Bryant dan menjauhkan kedua tangan Bryant dari pundaknya.
" Kau datang malam begini apa Lope yang meminta mu datang kemari? "
Bryant terdiam sebentar, lalu mengangguk.
Elle menggeleng tak percaya kalau pada akhirnya adiknya akan membuat satu pria mendekatinya.
" Bryant, tolong biarkan aku menyelesaikan masalah ku dengan Jarvis. Jangan membuat masalah di antara kami berlarut, meskipun pada akhirnya kami akan saling bersitegang, kami tetap harus menyelesaikan masalah ini. "
" Elle, masalah di antara kalian hanya cukup dengan perpisahan. Untuk apa membahas masalah yang jelas ujungnya adalah bercerai? Kau hanya perlu fokus memikirkan masa depan mu, jangan biarkan Jarvis dan segala kenangan buruknya menghantui mu. "
Elle terdiam sebentar, lalu dia menatap Bryant dengan tatapan tegas.
" Aku tahu apa yang aku inginkan, aku tahu mana yang perlu aku lakukan dan tidak. Tapi setiap tindakan , setiap hari memiliki kebimbangannya sendiri. Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini dengan baik, aku perlu memikirkan benar tindakan ku yang jelas akan mempengaruhi masa depan ku. Ini bukan soal Jarvis dan kenangan buruknya, ini soal hati ku yang harus bisa menerima segala yang terjadi dan merelakan saja sebagai bagia dari masa lalu ku. "
Bryant terdiam dengan tatapan yang tidak biasa.
" Elle, yang aku lihat adalah, kau begitu ragu-ragu karena kau memiliki perasaan yang sulit untuk kau lawan. Benar bukan? "
Bersambung.