
Vivian menangis pilu merasakan sakit di sekujur tubuhnya sesaat setelah tubuhnya di melepaskan ke lantai dengan begitu kasar. Sungguh dia sudah sangat lelah dan tidak tahan dengan tinggal di penangkaran kuda. Bagaimanapun jahatnya dia, bagaimanapun sadisnya pemikiran dia untuk menyakiti Elle, dia sendiri juga hanyalah manusia biasa yang akan tetap merasakan sakit saat tubuhnya tersakiti, juga merasakan sakit saah hatinya tersakiti.
Di dalam hati Vivian bertanya dengan begitu pilu, kenapa hidupnya tak pernah bahagia seperti yang dia inginkan? Dia tentu ingin merasakan bagaimana hidup bersama dengan sosok pria yang di sebut suami, dia ingin menjalani rumah tangga yang rukun dan bahagia, dia juga butuh sosok teman yang akan menemani dia hingga menua. Tapi, yang tidak bisa dia kontrol adalah seleranya, keinginanya yang begitu tinggi, dia tidak bisa memposisikan dirinya dengan lantas, dia menyalah gunakan apa yang seharunya dia gunakan dengan bijak. Jarvis, dia adalah pria yang sudah membuatkan mata Vivian, dari awal melihat Jarvis yang begitu di idamkan banyak wanita, dia juga diam-diam mendekati Jarvis. Dia mengikuti terus kemana Jarvis pergi secara diam-diam, kebetulan ada di saat Jarvis mengalami kecelakaan dan dia sukses menjadi orang yang berharga di mata Jarvis. Kala itu Jarvis sudah memberikan banyak bantuan finansial sebagai ucapan terimakasih, tapi sudah menerima itu semua Vivian juga masih merasa kurang karena dia menginginkan lebih.
Suatu hari dia tahu kalau Jarvis datang ke bar, lalu saat dia melihat Jarvis setengah mabuk dia mencoba mendekati Jarvis dan mengajaknya bicara perlahan. Merasa jika yang mengajaknya bicara adalah wanita yang pernah menolongnya, Jarvis dengan sopan menyambut hangat kedatangan Vivian. Tapi Vivian yang tidak tahu diri itu justru memasukkan obat tidur ke minuman Jarvis saat Jarvis tahu begitu memperhatikan. Setelah itu Vivian membawa Jarvis pergi, dan cerita selanjutnya adalah sama seperti yang kala itu di ceritakan oleh Jarvis sendiri.
" Kenapa aku di perlakukan seperti ini? Meskipun aku memang memiliki banyak hutang, tapi bukan berarti aku pantas di perlakukan begini kan? Padahal aku hanya ingin keluar dari sini, lalu hidup dengan tenang semauku. " Gumam Vivian lalu menyeka air matanya.
" Hidup tenang seperti mau mu? Vivian, kalau saja kau tidak menyinggung seseorang, kau pasti bisa keluar dari sini dan hidup dengan nyaman. " Ucap pemilik penangkaran kuda yang entah sejak kapan berada di ambang pintu menatapnya tanpa ekspresi.
Vivian mereka air matanya. Entah mengapa tatapan datar itu mengingatkan Vivian dengan Ayah kandungnya saat melihatnya menangis dulu. Rasanya kehidupan ini memang tak berpihak sama sekali kepadanya meski dia sudah mengalami kepahitan sedari dia kecil. Lihat, kemana orang tuanya ketika dia seperti sekarang, Ayahnya pasti sedang sibuk dengan istri dan anak-anaknya dari istri barunya. Ibunya, dia juga pasti sibuk mengurus suami dan anak dari suami barunya sekarang hingga sedetik pun tidak pernah mengingat dan mencari keberadaan Vivian. Seandainya saja mereka berdua memberikan perhatian yang lebih untuk Vivian dan tidak membiarkan dia lontang lantung selama beberapa tahun ini apakah hidupnya akan berakhir seperti ini? Jika sedikit saja mereka menunjukkan wajah khawatir dan penuh kasih apakah dia akan sedikit memiliki kelayakan dalam kehidupan ini?
" Kau juga tahu benar kalau tindakan ini adalah tindakan kriminal bukan? Kau mengurung ku selama ini, kau membatasi semua pergerakan ku, bahkan kau juga mengikuti ku! Aku tidak akan tinggal diam, aku akan membalas perbuatan mu! " Ucap Vivian dengan mimik marahnya, sungguh dia marah sekali tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun hingga kemarahan itu membuatnya kesal, lalu menitihkan lagi air matanya.
" Tahu, tapi aku juga tidak bisa melakukan hal lain karena ini adalah keharusan bagi ku. Vivian, jalani saja hidup mu di sini dengan nyaman, kau akan di perlakukan lebih baik jika kau menurut dan jangan banyak bertingkah. "
Vivian menatap semakin penuh kemarahan, dia mengepalkan tangannya, dengan segera bangkit dari posisinya, berlari menghampiri pemilik penangkaran dan mendorongnya hingga terjatuh.
Setelah itu Vivian berlari keluar, dan si pemilik penangkaran kuda segera berlari mengejarnya. Yah, meskipun kunci gerbang utama ada bersamanya, tapi dia takut kalau Vivian akan menyakiti kuda-kuda yang berada di sana untuk melampiaskan kemarahannya.
Kekhawatiran penangkaran kuda rupanya terjadi, tapi melihat Vivian berlari ke arah kamarnya, tentu itu justru adalah hal yang jauh lebih buruk sehingga dia dengan segera berlari untuk mencegah Vivian mendapatkan apa yang dia cari.
Brak!
Dengan segera Vivian mencari kunci yang bisa membawanya keluar, mengacak laci dengan cepat tapi tak menemukan apapun hingga pemilik peternakan sampai disana.
Merasa terpojok tapi juga tidak ingin menyerah, Vivian akhirnya mengambil senapan yang tergantung di dinding milik si peternakan kuda yang biasa di gunakan untuk menembak burung. Setelah itu dia mengarahkan senapan ke arah pemilik penangkaran kuda yang sontak tak lagi melanjutkan langkahnya. Yah, tentu saja dia juga sayang dengan nyawanya yang hanya satu.
" Berikan kuncinya pada ku, atau aku akan menembak mu! "
" Dengar, Vivian. Jangan melakukan hal yang akan merugikan dirimu sendiri, kau tahu benar jika Ibu Diana bertindak kau akan dalam masalah besar. "
Vivian mencengkram senapan yang berada di kedua tangannya itu. Benar, Ibu Diana memang benar-benar sangat menyebalkan dan juga seenaknya sendiri. Padahal uangnya banyak, tapi kehilangan sedikit saja sudah repot begini, bahkan sampai mengurungnya untuk bekerja merawat kuda sampai cukup uang untuk menggantikan uang yang dia ambil itu.
" Benar bukan? Sekarang letakkan senapan itu. "
Vivian kembali menatap pemilik peternakan kuda dengan tatapan sinis.
" Kalau begitu, aku akan berbalik hati menyingkirkan wanita yang sok berkuasa itu, berikan saja kuncinya pada ku! "
Melihat tatapan Vivian yang tegas dan tidak main-main, pemilik peternakan kuda sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
" Kalau kau tidak ingin memberikan kuncinya pada ku, bukakan saja pintunya untuk ku! "
" Vivian, dengarkan aku- "
" Buka! "
Pemilik peternakan kuda memilih untuk menyerah, bagaimanapun nyawanya jelas lebih penting dari pada apapun. Sial! Benar-benar sial karena dia ingat benar di dalam senapan itu masih tersisa tiga peluru jadi dia tidak bisa mengelak lagi.
" Baiklah. "
Vivian berjalan mengikuti langkah kaki pemilik peternakan kuda dengan terus mengarahkan senapan ke arahnya. Hingga akhirnya dia bebas dari sana, dan sudah berhasil berjalan cukup jauh meninggalkan tempat itu. Vivian tertawa terbahak-bahak saat dia bisa merasakan bagaimana udara bebas saat itu.
" Kalian, tidak akan aku biarkan hidup bahagia. " Gumam Vivian dengan tatapan tajamnya.
Bersambung.