Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 7 : Terikat Materi



Elle memandangi kedua lengannya yang merah sembari menangis pilu. Bukan bekas merah itu yang ia tangisi, tapi mengingat bagaimana tatapan marah luar biasa yang di tunjukan Jarvis saat mencambuk lengannya dengan gesper benar-benar membuat hatinya sakit dan perih. Sebenarnya seberapa banyak lagi kesakitan yang akan dia terima?


Cukup, Elle sudah tidak mau menangis lagi karena besok dia harus menemui Ayah dan juga adiknya Lope yang akan mulai kuliah. Dia tidak boleh memperlihatkan apapun yang membuat Ayah serta adiknya menjadi khawatir, jadi dia tidak boleh membuat matanya bengkak agar besok pagi dia benar-benar mulus dalam berakting bahagia.


Bekas di tangannya yang merah dan perih itu tentu saja akan membaik, meksipun luka di hatinya tidak akan hilang, setidaknya untuk saat ini dia harus terus menahan diri sampai kapan juga masih belum tahu. Elle bangkit dari duduknya, dia berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya sembari membawa handuk kecil untuk dia basahi dan mengompres lengannya, siapa tahu dengan begitu lengannya akan cepat membaik.


Sudah cukup lama dia terus mengompres lengannya, tapi yang ada malah hanya tampan perih jadi Elle memutuskan untuk menyudahinya saja dan mencoba untuk segera tidur agar besok dia bisa terlihat segar. Masih agak kesakitan tidur karena pikirannya terus membayangkan dan menebak apa yang sedang dilakukan Jarvis dengan Vivian? Apakah mereka sedang bercinta? Apakah mereka sedang bermesraan sembari tetap mengusap purut Vivian? Entah, rasanya Elle semakin tidak tahan hingga akhirnya Elle membayangkan saja keindahan dunia agar dia bisa cepat untuk tidur.


Besok paginya.


Setelah mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, Elle segera kembali ke kamarnya untuk bersiap karena dia harus segera menemui Ayah dan juga adiknya. Tidak perlu sarapan, toh yang akan dia makan juga sisa lauk yang dimakan Jarvis dan keluarganya, jadi tentulah dia akan makan di rumah Ayahnya hari ini. Meskipun tidak seenak dan bukan hidangan mahal seperti dirumah Jarvis, tentulah makanan Ayahnya adalah makanan yang paling layak untuk dia makan.


Elle terdiam sebentar memandangi wajahnya yang kusam karena terlalu banyak bersedih beberapa hari ini dan membuatnya jadi tidak memikirkan lagi bagiamana seharusnya dia merawat kulit wajahnya. Tapi tenang saja, dia sudah akan menggunakan make up untuk menutupi kulit wajahnya yang kusam dan memberikan tambahan perona natural ahar dia lebih terlihat segar. Sudah selesai menggunakan make up, sekarang Elle tengah menggunakan dress polos berwarna nude kesukaannya.


Sekarang Elle bisa tersenyum melihat tampilannya yang terlihat lebih baik dan lebih segar. Dia bangkit dari meja riasnya, meraih mini bag miliknya dan bergegas untuk keluar dari kamar.


" Mau kemana kau? " Tanya Jarvis dnegan nada suara yang dingin, begitu juga dengan tatapannya.


Elle terdiam sebentar, ini memang salahnya karena harus melewati ruang tengah dan membuat Jarvis jadi melihatnya.


" Pergi menemui Ayah dan adikku. "


Jarvis terdiam, matanya masih saja terlihat dingin seperti malas untuknya berbicara lagi.


" Aku permisi dulu. "


" Kau tahu harus menutup rapat mulutmu kan? "


Elle memejamkan matanya sebentar mencoba untuk menahan diri agar jangan mengucapkan kata-kata kasar yang memprovokasi Jarvis dan pada akhirnya dia tidak di izinkan untuk pergi.


" Tahu, tentu saja aku tahu sekali. "


Jarvis membuang wajahnya seolah dia malas untuk menatap Elle lebih lama. Lagi, hati sialan milik Elle benar-benar seperti di gores di tempat yang sedang terluka. Kenapa sampai seperti itu perubahan Jarvis? Ingin bertanya kemana tatapan penuh cinta yang dulu selalu terarah padanya, tentu sekarang pasti hanya akan membuatnya terlihat bodoh bukan?


" Aku pergi. "


Elle menjalankan kakinya meninggalkan Jarvis yang menatapnya dengan segala pemikirannya.


" Sejak kapan wanita ini berani menggunakan riasan wajah sejelas itu? "


Jarvis mengeraskan rahangnya karena dia merasa kesal. Kesal? Iya tapi dia tidak tahu apa yang membuatnya kesal. Mungkinkah karena dia harus melihat wajah Elle yang baik-baik saja? Padahal dia hanya ingin melihat Elle dengan tatapan sedih dan mimik tak berdaya.


Beberapa saat kemudian.


" Kak, kenapa kakak agak kurang? " Tanya Penelope, adik dari Elle.


" Iya, sepertinya kau agak kurang ya? Apa kau tidak makan dengan baik? " Ayah menimpali dan menatap wajah Elle dengan tatapan khawatir.


Tentu saja Elle tidak suka melihat tatapan khawatir mereka, dan untuk menutupinya secara totalitas, Elle tertawa terbahak-bahak membuat Ayah dan Penelope merasa bingung.


" Kalian berdua ini sok tahu deh, berat badanku naik delapan ratus gram loh. Kalian ini malah mengatakan aku kurus apa tidak takut suamiku kesal karena di tuduh tidak bisa merawat istrinya? "


Ayah dan Penelope akhirnya berhenti menatap khawatir, mereka tersenyum dengan mimik lega yang juga membuat Elle merasa lebih baik.


" Iya, tentu saja itu tidak akan mungkin. Kak Jarvis sangat baik, dia perhatian dan sangat mencintai kakak, tidak akan mungkin dia menyakiti kakak. "


" Iya, dia memang orang yang baik, Ayah benar-benar bersyukur kau menikah dengan pria yang tepat. "


" Iya benar, aku benar-benar berharap bisa menikahi pria sebaik kak Jarvis. Bukan hanya mencintai kakak saja, dia juga sayang kami berdua, uang kuliahku juga sudah di bayarkan sampai aku sarjana nanti loh. "


Mendengar kalimat pujian dari Ayah dan juga adiknya terhadap suami yang terus memberikan luka membuat Elle benar-benar tidak bisa berkata-kata. Tadinya Elle ingin mengatakan sedikit saja keluhan bahwa Jarvis tidaklah sebaik yang mereka pikirkan, tapi begitu adiknya mengatakan jika Jarvis membayarkan uang kuliah untuk Penelope bahkan sampai dia sarjana, Elle benar-benar di buat semakin tak bisa berkata-kata.


" Iya, dia juga sudah mengirimkan keperluan restauran dan bahan untuk menu baru yang akan mulai di adalah lusa. Ayah benar-benar bersyukur sekali, di saat usaha keluarga kita sedang sangat kritis ini ternyata Tuhan mengirimkan Jarvis sebagai dewa penolong. "


Elle lemas seketika mendengar semua itu, dia mundur satu langkah dan berpegangan dengan dinding agar tak jatuh ke lantai.


" Kak! "


" Elle! "


" Kau baik-baik saja? " Tanya Ayah yang terlihat khawatir sembari menahan tubuh Elle.


" Ti tidak, aku tidak apa-apa. A aku kan pengantin baru, mungkin aku lelah karena itu. "


Ayah bernafas lega sementara Penelope hanya bisa mengeryit kebingungan.


" Ayah, betapa kira-kira jumlah uang dari harga barang yang di kirimkan Jarvis? "


" Mungkin sekitar dua ratus juta lebih. Karena yang dikirim Jarvis kualitas yang bagus, sudah begitu Jarvis juga mengirimkan beberapa properti pelengkap yang jelas itu mahal. "


Elle memegangi mini bag yang ia gunakan dan mencengkramnya kuat, dia mencoba menahan dirinya agar tidak memperlihatkan emosi apapun.


Jarvis, sebenarnya apa tujuanmu?


Bersambung.