Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 11 : Manusia Sehat Akal



Suasana ramai setelah beberapa sahabat Jarvis datang kerumah, ada yang datang seorang diri, ada yang datang bersama pasangan, ada juga yang datang bergerombol, semua nampak begitu antusias dan semangat dengan pesta yang di adalah Jarvis di sana. Hari ini adalah hari ulang tahun Jarvis yang ke tiga puluh tahun, pria itu benar-benar nampak lebih muda dari pada usianya, hanya saja kharismanya memang sulit untuk di tolak dan membuat orang akan meragukan antara usia dan kharismanya yang begitu kuat.


" Basa ini kesana, lap dulu gelasnya, antar kue ini ke depan, perbaiki tatanan bunganya, bersihkan lantainya, bawa buah ini ke meja depan, bawa kemari beberapa piring bersih! " Sepanjang hari hanya itu ucapan dan perintah yang di dengar Elle dan harus pula dia kerjakan dengan punggung yah masih sangat letih dan sakit.


" Hei, siapkan susu hangat untukku dan antar kan kedalam kamar. Ingat, jangan sampai kau berani mencampuri racun untukku, sebelum aku selesai mandi susunya harus ada di meja, kau mengerti?! " Vivian memerintah Elle ya g sedang membersihkan meja sembari mengigit bibir bawahnya karena rasa letih di punggungnya benar-benar tidak bisa dia tahan atau pura-pura tidak sakit. Tentu sajalah Vivian bisa melihat kalau Elle sedang kesulitan, maka dari itu dia sengaja terus memerintah agar Elle semakin sakit, dan matilah dengan cepat bila bisa.


Elle tidak mengangguk, tak juga mengatakan iya, tapi jelaslah Vivian sudah tahu bagaimana Elle, dia pasti akan membuat susu hangat untuk ibu hamil karena dia pasti kapok dengan siksaan yang dia dapatkan semalam.


" Anjing betina ini, apakah dia barusan sedang menggonggong padaku? "


" Jangan bicara begitu, lukamu belum sembuh jadi jangan membuat gara-gara lagi. Walaupun kau memilki keberanian, tali setidaknya simpan saja itu semua keselamatan. " Ucap pelayan rumah Jarvis yang kemarin juga sempat menasehati Elle untuk jangan berbuat macam-macam yang akan membuatnya celaka. Elle tersenyum, sepertinya masih ada orang yang perduli meski wajahnya yang takut-takut itu coba dia tahan sebisanya.


" Siapa namamu? "


" Eh? " Pelayan itu menatap Elle dengan dahi mengeryit, dia sebenarnya takut kalau dia menyebutkan namanya dia akan di ingat oleh Elle, nanti di luar Elle akan membalas dendam padanya karena rata-rata pelayan di sana memang memperlakukan Elle dengan buruk. Tapi seingat dia, dia bahkan jarang sekali mengajak Elle bicara sebelumya, hanya dua kali ini dia menasehati karena dia kasihan melihat Elle selalu di siksa oleh Tuan rumahnya.


" Kau tidak mau memberitahu namamu? "


" Eliza, namaku Eliza. "


Elle tersenyum.


" Baiklah, Eliza. Terimakasih sudah memperingatkan aku, tapi aku lebih suka mati dengan terhormat demi melindungi harga dirimu, ketimbang selamat hanya untuk menjadi seorang pengecut. "


Setelah mengatakan itu, Elle menuju ke dapur untuk menyiapkan susu hangat khusus untuk Ibu hamil, lalu membawanya ke kamar Vivian. Seperti yang Vivian katakan tadi, rupanya dia benar-benar sedang mandi jadi Elle menaruhnya saja di meja dan tadinya dia berniat akan langsung pergi dari sana. Tapi karena kakinya tidak sengaja menyimpan kertas yang di remas menjadi bentuk bola, Elle tergerak untuk memungutnya dan ingin memasukkan kedalam tepat sampah tak jauh dari kertas itu ditemukan.


" Kak Vivian? " Wendy terkejut karena yang dia lihat malah Elle begitu dia membuka pintu, Elle juga sama terkejutnya hingga Batak membuang kertas berbentuk bola itu dan menahan di tangannya.


" Kenapa kau ada di sini? Mau mencuri ya?! "


Elle membuang nafas kasarnya.


" Mencuri? Aku malah merasa orang yang berada di kamar ini yang sudah mencuri sesuatu dariku. "


Wendy menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan tak suka, tak ingin juga merespon ucapan Wendy, Elle memilih untuk keluar dari kamar itu agar pikirannya tenang dan tidak perlu lagi-lagi berdebat.


Elle teringat dengan gumpalan kecil kertas dari kamar Vivian yang ingin dia buang tadi, sial kenapa juga dia masih menggenggamnya? Apakah jiwa pelayan sudah benar-benar menyatu dalam dirinya? Batin Elle kesak. Elle berjalan mendekati tempat untuk membuang sampah, tapi belum juga sampai dia sudah di panggil oleh Eliza dan mengatakan jika Jarvis memintanya datang berdua untuk membawakan minuman ke depan. Jadilah Elle mengantungi kertas itu, karena kalau dia membuang sampah sembarangan yang ada dia akan di hukum lagi, sudahlah lebih baik sekarang patuh dulu karena punggungnya masih saja sangat letih jadi setidaknya kalau punggungnya sudah sembuh dia bisa mulai lagi memberontak.


" Ah! " Pekik Eliza saat nampak yang berisi banyak gelas minuman itu tumpah mengenai bau seorang pria.


" Matamu buta ya?! Sudah tahu bahwa minuman sebanyak ini apa tidak bisa berhati-hati?! " Ucap Pria itu dengan mimik angkuh dan kesal.


" Maaf.... "


" Maaf kepalamu?! Kau tahu tidak berapa harga bajuku? Delapan ratus dolar lebih! Kau bisa menggantinya, hah?! "


Elle terdiam meski dia kesal sekali dengan kesombongan pria itu. Sekarang ini dia benar-benar tidak akan sanggup kalau sampai mendapatkan hukuman lagi.


" Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar minta maaf. " Pinta Eliza, dia tertunduk tak berani menatap pria itu yang menunjukan benar kemarahannya.


" Maaf lagi, maaf lagi, aku bosan mendengarnya! " Pria itu mendorong kepala Eliza dengan kasar sehingga membuat Eliza terjatuh, tangannya yang mencoba untuk menopang tubuhnya malah terkena pecahan gelas dan membuat tangannya berdarah cukup banyak.


" Cukup! " Elle benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi, tentu saja dia adalah manusia sehat akal yang tidak akan bisa melihat sesamanya tersakiti sampai harus berdarah-darah padahal sudah berkali-kali meminta maaf untuk kesalahan yang tidak di sengaja.


" Wah, berani sekali pelayan rendahan sepertimu membentak ku, hah? " Pria itu menatap dengan tatapan mengancam, senyumnya terbit menyeringai membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa takut. Tapi, tidak untuk Elle, biarpun dia harus mati asalkan mati dalam keadaan mempertahankan harga diri, maka dia menganggap kematian itu adalah kematian yang terindah.


" Pelayan rendahan? Memang kau hanya pelayan rendahan, tapi attitude kami berkelas jauh di banding Tuan yang mengaku kaya dengan memakai baju delapan ratus dolar. "


" Kau bilang apa?! Kau ini sok pintar sekali ya?! "


" Lebih tepatnya aku jauh lebih pintar dari pada anda, Tuan. "


Pria itu semakin kesal, tapi dia malah pergi berbalik badan untuk kembali, jadi Elle meletakkan sebentar nampannya untuk membantu Eliza berdiri.


" James, aku ingin memberikan pelajaran kepada pelayan rumahmu yang lumayan cantik dan tidak bisa menjaga mulutnya, boleh? "


" Silahkan saja, tapi gunakan kamar yang belakang. "


Elle dan Eliza membelalak kaget karena mendengar obrolan itu meski tak melihat secara langsung ke ruang utama.


Bersambung.