Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 33 : Hukuman Dan Tekad



" Tuan Johan, aku benar-benar minta maaf sekali untuk yang waktu itu. Aku tahu aku salah dan terllau tidak tahu malu dengan apa yang aku lakukan. Tapi cobalah untuk mengerti keadaanku meski kau sangat tidak perduli denganku, anda pasti sudah mencari tahu sendiri siapa aku sebenarnya di rumah ini bukan? Seperti yang anda tahu juga dan anda duga, di rumah ini saya tidak di perlakukan dengan hormat, saya tidak di manusiakan jadi saya bertindak buas dengan menyerang dan melukai anda. "


Johan sebenarnya datang kesini ingin mengancam Elle dan membuatnya malu dengan cara yang sudah dia pikirkan. Tapi melihat keadaan Elle, bahkan lengan Elle juga memiliki bekas sayatan yang cukup parah jadi mana mungkin dia tidak mempercayai ucapan Elle? Dia sadar benar jika sedari tadi Elle berbicara seperti ingin menunjukan beberapa luka dengan berbagi gestur tubuh, tapi yang aneh adalah Johan seperti tersihir dan merasa iba. Apalagi saat Elle menyeka ujung matanya, rasanya Johan tak mampu hanya untuk membatin remeh ucapan Elle.


" Kau ingin membuatku merasa melas padamu ya? " Ucap Johan yang masih merasa enggan mengikuti perasaannya.


" Tidak, aku sudah terbiasa dengan kesedihan dan keraguan dari orang lain. "


Johan membuang nafasnya.


" Aku akan memaafkanmu, tapi aku butuh melihat ketulusanmu dulu. Bagaimanapun aku bukan pria penyabar dan baik hati. Tidak perduli Jarvis akan menyerangku gila-gilaan seperti tempo hari, aku akan tetap maju tanpa memperdulikan seberapa banyak aku akan merasa rugi. "


Elle tersenyum miring.


" Aku akan menunjukkan ketulusanku, dengan caraku sendiri, Tuan Johan. "


" Oke, kau juga bilang lah kepada si Jarvis untuk berhenti mengancam ku dengan semua kasus di masa lalu. Kalau dia berhenti aku juga akan berhenti menyerangnya, ingat itu baik-baik. "


Elle mengepalkan tangannya sembari memaksakan senyumnya menatap kepergian Johan. Setelah itu dia membiarkan saja roti yang ia beli di ruang tamu lalu pergi menuju kamarnya.


Bruk!


Elle menjatuhkan tubuhnya yang gemetaran dengan perasaan takut. Sebenarnya melihat Johan mengingatkan dia dengan betapa menakutkannya Johan saat menatapnya dengan tatapan yang sangat gila. Pria yang liar dan juga haus akan tubuh wanita, hawa dingin dari tatapannya namun memiliki keinginan yang kuat jelas membuat wanita yang sekalipun belum pernah melakukan itu merasa ketakutan.


Memukul Johan hingga pingsan dan berdarah-darah tentulah bukan hal yang dia sesalkan, hanya saja ada kalimat yang keluar dari mulut Johan membuat Elle merasa begitu menyesal mendengarnya. Jarvis, pria itu rupanya membela Elle sampai segitunya tanpa diketahui oleh Elle. Sial, karena itu membuat Elle merasa goyah meski keinginanya untuk balas dendam masihlah membara.


" Tidak, aku harus tetap pada rencana ku. Ini bukan hanya untukku, tapi juga untuk keluargaku. Kau tidak boleh mundur, Elle. "


Elle bangkit dari posisinya, perlahan berdiri dan menegakkan tubuhnya semakin kokoh. Entah ini akan lebih sulit di banding perkiraannya atau tidak, yang pasti tekad seorang Elle sudah menyumbangkan banyak energi untuk bertahan sampai akhir tidak perduli seberapa banyak kali dia jatuh, karena dia akan terus bangkit dan berjalan meski terus mendapatkan luka baru.


***


Jarvis menatap dingin semua photo yang dikirimkan padanya. Photo Elle dan juga Bryant yang terlihat sangat dekat dan juga sanga akrab. Jujur saja dia memang merasa sangat kesal, tapi dia juga sudah berjanji kepada adiknya untuk tidak terbawa perasaan dan terus menjalankan aksi balas dendamnya.


Setelah pekerjaan di kantor selesai, Jarvis segera menuju kerumah untuk menyelesaikan apa yang memang harus di selesaikan. Dengan langkah lebar dan cepat, Jarvis berjalan menuju kamar Elle, mengetuknya dengan kasar saat handle pintu yang ia gerakkan tak membuat pintu itu terbuka.


" Sebentar! " Suara Elle yang terdengar dari dalam kamar, lalu tak lama pintu itu terbuka. Kalau melihat rambut Elle yang masih basah, pastilah dia baru saja selesai mandi jadi wajar saja kalau dia butuh waktu agak lama untuk membuka pintu kamarnya.


" Ada apa? " Tanya Elle dengan suara rendah meski hatinya lagi-lagi tak Sudi melakukannya.


" Bagaimana harimu? Kau sangat senang bukan karena banyak hal yang indah hari ini? "


Elle menunduk, dia biarkan saja rambut basah nya menutupi wajah dan tersenyum miring. Kemarahan itu, marah orang yang sedang mencoba mengendalikan sisi lain benar-benar membuat Elle merasa senang. Cinta, dia menginginkan cinta Jarvis yang tanpa ragu-ragu. Bukan untuk di cintai lalu hidup bahagia bersamanya, tapi dia menginginkan cinta Jarvis yang sangat dalam, lebih besar dan dalam dari perasaan yang dulu dia miliki untuk Jarvis agar dia bisa memberikan luka yang besar juga untuk Jarvis. Tarik lawanmu untuk mendekat, kenali dia dengan baik, karena hanya dengan begitu pukulan yang akan di berikan padanya akan memiliki sensasi sakit yang luar biasa.


Tak mendapatkan jawaban, Jarvis merasa kesal dan segera meraih dagu Elle untuk dia cengkram dan dia tegakkan agar dia bisa melihat wajah Elle serta ekspresinya. Dia berharap Elle benar-benar tidak sedang tersenyum atau ketakutan karena ternyata Jarvis sudah mengetahui segalanya jadi dia bisa pergi. Entah ekspresi yang mana yang paling Jarvis inginkan, tapi begitu melihat wajah Elle secara langsung, Jarvis tak bisa berkata-kata untuk sebentar. Elle tak menunjukan ekspresi apapun.


" Kau tidak menyesal sudah melanggar perintahku, hah?! Bukan hanya Bryant saja, tali kau juga meyambut hangat kedatangan Johan yang waktu itu ingin melecehkan mu. Wah, mau benar-benar gatal sekali sampai aku keheranan seperti ini. "


" Aku tidak- "


" Tidak apa?! Kau sengaja keluar ke toko roti karena kalian sudah membuat janji kan?! Iya kan?! "


" Tidak, kalau iya aku pasti akan memakai baju yang lebih baik. "


" Apapun alasannya, kau tetap saja sudah melakukan kesalahan sama berulang kali. Kalau kau memang sebegitu gatalnya, dan karena kau juga tidak ingin aku sentuh, maka aku akan memenuhi keinginanmu. " Jarvis melepaskan dagu Elle dan keluar dari sana dengan perasaan marah.


" Buat dia takut saja, jangan menyentuh dan jangan berbuat di luar batas, kalian paham? " Ucap Jarvis kepada dua orang pria yang memang ikut bersama dia pulang. Tujuannya adalah untuk memberikan efek jera kepada Elle.


Dua pria itu mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar membuat Elle ketakutan sekali.


" Kenapa kalian masuk tanpa izin dariku? " Elle menatap tajam kedua pria itu.


" Nona, kami hanya ingin memenuhi keinginan terpendam anda saja, jadi mari kita bermain. "


Elle menggelengkan kepala tak sanggup berkata-kata dengan apa yang di lakukan Jarvis padanya. Dua pria bajngan? Bahkan mati pun di lebih baik di banding harus menerima penghinaan ini!


Kedua pria itu mendekat dengan seringai yang menjauhkan, mirip sekali dengan mimik Johan waktu itu. Tak ingin dan tak rela kalau sampai mendapatkan pelecehan, Elle hanya bisa memilih jalan akhir karena kala dia berteriak pun dia tetap tidak akan bisa selamat. Elle memundurkan langkah kakinya, dengan cepat membuka laci paling ujung dia mana dia menyimpan karter yang waktu itu di gunakan Vivian untuk menyayat lengannya.


" Mundur! " Elle mengarahkan karter itu ke lehernya sendiri.


Bersambung.