
Aku ingin mengatakan banyak hal untuk memaki mu, aku ingin memukul mu dengan kedua tangan ku, tapi kenapa sekarang aku merasa ada yang tidak beres dengan ku?
Elle berhenti menoleh menatap Jarvis karena Jarvis memang sudah tidak terlihat lagi.
Meskipun mengingat masa itu sangat menyakitkan, tapi aku benar-benar tidak akan merelakan kau hidup bahagia bersama wanita baru mu nanti. Aku merasa aku akan baik-baik saja saat kau terus sendirian, sampai mati pun juga sepertinya tidak buruk.
Setelah kepergian Elle dan yang lainnya, Jarvis terduduk diam tanpa ekspresi. Sudah lebih dari dua jam, nyatanya Jarvis masih begitu betah berada di posisi sama tanpa bergerak sedikitpun. Dia kini tengah meratapi kepedihan hati yang di rasakannya, sok baik dan sok tegar lalu melepaskan Elle, tindakan itu tentu kadang membuatnya menyesal, tapi dia juga terlalu takut untuk mempercayai jika dia mampu membahagiakan Elle.
" Jadi seperti ini rasanya jika kita berpisah? Aku benar-benar seperti kehilangan nyawaku, Elle. " Jarvis tersenyum miris, jujur saja dia menyesali apa yang dia lakukan, tapi dia juga tidak akan menerima jika pada akhirnya dia sendiri adalah orang yang sudah menorehkan luka, lalu membuat luka itu semakin dalam.
Jarvis bangkit perlahan, dia berjalan dengan lemas menuju ke kamarnya. Sejenak dia terdiam mematung menatap kamar yang beberapa waktu ini dia tinggali bersama dengan Elle. Meksipun hubungan mereka memang tida begitu baik juga mendalam selayaknya suami istri lainnya, nyatanya Jarvis sudah cukup bersyukur karena dia bisa memeluk, juga mencium Elle.
Sekarang kamar itu hanya akan menjadi kenangan indah serta menyediakan, tapi sungguh itu tidak akan menjadi masalah karena Jarvis akan tetap berada di sana dan menjadikan rumah itu sebagai rumah tetapnya. Mungkin memang akan terus sunyi seperti sekarang, jadi Jarvis sudah mulai belajar menangani perasaan itu dan mencoba sebaik mungkin untuk tidak membiarkan sifat egois untuk memilki Elle itu meronta seperti sebelumnya.
" Elle, kau tahu betapa munafik nya aku saat aku mengatakan untuk kau bahagia, dan menemukan pria yang mampu memperlakukan mu dengan lembut? Aku justru mengharapkan sebaliknya, aku menginginkan kau tetap menjadi milik ku. Maaf karena aku harus berwajah dua, tapi aku tidak bohong soal ingin melihat mu bahagia. "
Dua hari setelah kejadian itu, Jarvis hanya diam di dalam kamar tak banyak melakukan apapun. Di tempat tidur ada baju yang di gunakan Elle sebelum dia pergi, dan masih ada aroma tubuh Elle yang tertunggak di sana. Sehelai baju itu adalah teman tidur Jarvis selama dua hari ini, menatap photo Elle dan membatin serta berdoa untuk Elle juga adalah hal yang paling sering dia lakukan dia hari ini. Tidak mandi, makan pun juga tidak. Mungkin untuk sebagian orang hal ini adalah fase sedih dalam kehidupan dan bisa bertahan dengan sabar dan santai. Tapi, Jarvis bahkan tidak bisa menghilangkan Elle sedetik pun dari kepalanya. Saat makan dia ingat benar Elle, baru akan mulai nyenyak saat tidur saja dia selalu memimpikan tentang Elle.
" Elle....... "
***
Elle menoleh ke belakang karena merasa ada yang memanggil namanya, tapi saat dia sadar jika sedang berada di dalam kamar seorang diri, Elle segera menggelengkan kepala mengusir perasaan yang tidak jelas itu.
Dua hari ini Elle juga tidak berada dalam keadaan baik, dia merasa ada sesuatu yang tidak biasa di rasakan olehnya dan sayangnya dia juga tidak tahu apa itu. Dua malam tinggal di kamar lamanya, kamar yang dulu sudah seperti tempat ternyaman untuknya justru terasa aneh dan seperti ada yang kurang tapi tidak tahu lagi apa. Susunan barangnya masih seperti dulu, sana sprei meksi baru juga sama seperti sebelumnya, photo yang terpajang di dinding juga masih seperti dulu, lantas apa yang membuat kamar itu terasa asing untuknya?
" Kak, ada Kak Bryant di depan. " Ucap Penelope setelah membuka pintu kamar Elle.
Elle tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Elle membuang nafasnya sebelum keluar dari kamar, lalu menuju ke ruang depan di mana Bryant berada. Dua hari ini Bryant benar-benar terus berada di sana, alasannya adalah karena dia takut terjadi sesuatu dengan Elle, dan dia juga takut jika Elle membutuhkan sesuatu yang mendesak.
" Bryant, ada apa? " Tanya Elle seraya duduk bersebrangan meja dengannya. Sudah ada Penelope di sana, juga sudah ada tiga cangkir teh yang sepertinya baru saja di buatkan oleh Penelope sebelum memanggil Elle untuk di minta untuk menemui Bryant.
" Nanti jangan lupa di makan ya bukanya? Oh, aku juga membawakan mu suplemen herbal, ini tidak berbahaya, justru manfaatnya sangat baik, kau wajib meminumnya. "
Elle memaksakan senyumnya, tidak tahu apa yang membuat Bryant sebaik itu padanya, hanya saja Elle terus saja merasa bersalah menerima kebaikan dari Bryant yang terbilang berlebihan untuknya.
" Bagaimana keadaan mu hari ini? " Tanya Bryant kepada Elle dengan wajah yang selalu ramah dan terlihat hangat.
" Aku baik-baik saja, ngomong-ngomong apa kau tidak bekerja? Kau sudah dua hari ini terus berada di rumah kami, apa sungguh kau tidak sibuk? "
Bryant menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kalau masalah pekerjaan ya tentu saja banyak yang harus dia kerjakan, tapi otaknya benar-benar selalu memerintah untuk menemui Elle, alias selalu memikirkan Elle jadi dia menemui Elle lagi-lagi.
" Masalah pekerjaan sudah ada yang handle, kau santai saja dan tidak boleh merasa tidak enak atau merepotkan karena aku sama sekali tidak merasa seperti itu. "
" Iya, bagiamanapun dua hari ini kami cukup menyusahkan mu, jadi wajar kalau aku merasa seperti itu. "
Bryant menghela nafas, dia tersenyum seolah meminta agar Elle tidak membahasnya lagi. Sebentar Bryant terdiam terlihat berpikir karena dia ingin bertanya tapi juga merasa agak ragu, dan karena dia tidak tahan lagi untuk ingin tahu, jadilah Bryant memberanikan diri untuk bertanya.
" Elle, kalau boleh tahu kapan kau akan mengajukan surat gugatan cerai? Bagaimanapun kasus dalam rumah tangga mu dengan Jarvis terbilang serius, aku yakin sekali dengan semua bukti yang ada putusan cerai akan segera di kabulkan. "
Elle terdiam, Penelope yang berada tak jauh darinya juga menatap dalam diam menunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibir Elle.
" Elle, kau mungkin tidak begitu perduli, tapi percayalah masih banyak pria di luar sana yang siap mencintai mu dengan tulus, memperlakukan mu jauh lebih baik. "
Elle mengepalkan tangannya mencengkram kain dress di pangkuannya.
" Akan aku pikirkan dengan baik-baik. " Ujar Elle.
Bersambung.