
Elle terdiam sebentar, lalu dia menatap Bryant dengan tatapan tegas.
" Aku tahu apa yang aku inginkan, aku tahu mana yang perlu aku lakukan dan tidak. Tapi setiap tindakan , setiap hari memiliki kebimbangannya sendiri. Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini dengan baik, aku perlu memikirkan benar tindakan ku yang jelas akan mempengaruhi masa depan ku. Ini bukan soal Jarvis dan kenangan buruknya, ini soal hati ku yang harus bisa menerima segala yang terjadi dan merelakan saja sebagai bagian dari masa lalu ku. "
Bryant terdiam dengan tatapan yang tidak biasa.
" Elle, yang aku lihat adalah, kau begitu ragu-ragu karena kau memiliki perasaan yang sulit untuk kau lawan. Benar bukan? "
" Kau begitu sensitif soal perasaan orang lain, entah aku harus berterimakasih atau kah aku harus merasa terganggu dengan itu. Aku sungguh tidak tahu, entah dugaan mu benar atau salah, aku tidak tahu, aku hanya butuh waktu untuk baik-baik memikirkannya dan langkah selanjutnya aku harus mengambil dengan hati-hati semoga tidak akan menjadi penyesalan, juga tidak akan menjadi masalah. "
Bryant tak lagi ingin bicara, sebenarnya dia tidak ingin memberikan ruang bagi Jarvis dan Elle untuk bicara karena dia takut kesempatan untuknya mendekati Elle semakin kecil. Tapi siapakah dia yang bisa berbuat seperti itu? Dari awal Elle memang selalu bersikap dingin seolah tidak ingin membuat Bryant merasa di berikan kesempatan dan menjadi salah paham dengan hubungan mereka yang jelas sudah di batasi oleh Elle sendiri.
" Bryant, aku ingin istirahat jadi bisakah kau pulang dulu? Aku juga tahu kau sibuk, pergilah kembali ke rumah, istirahatlah baik-baik, besok kau harus bekerja bukan? "
Bryant memaksakan senyumnya, lalu dengan segera mengangguk dan pergi meninggalkan Elle di sana. Jujur saja Bryant benar-benar sedih sekali karena tak merasakan adanya perasaan spesial dari Elle untuknya. Tapi dia juga tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, dan yang bisa dia lakukan hanyalah berusaha semampunya.
Setelah kepergian Bryant, Elle yang baru saja ingin merasa tenang kini datanglah Penelope.
" Kak Bryant kenapa langsung pulang, kan baru saja datang? "
Pertanyaaan Penelope barusan mendapatkan tatapan dingin dari Elle, sebenarnya apa yang di lakukan Penelope dengan terus mencoba mendekatkan Elle dengan Bryant benar-benar membuat Elle marah. Padahal yang dia inginkan hanyalah ketenangan, dia ingin memikirkan semua dengan pikiran yang lega, tapi tindakan Penelope yang mungkin karena dia merasa takut kakak nya sedih justru membuat suasana hati Elle tak pernah merasa baik akhir-akhir ini.
" Kak, kakak yang meminta dia pulang? "
Elle menghela nafas, lalu menatap Penelope dengan tegas.
" Lope, kau tahu benar kakak tidak menyukai Bryant dalam maksud dan tujuan yang bersangkutan dengan hati dan perasaan, kau mengenali kakak jauh lebih baik di banding siapapun, tapi kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau terus menciptakan peluang untuk kami berdua dan membuat Kakak merasa begitu muak? "
Penelope terdiam, dia menatap kakak nya dengan tatapan takut karena dia juga cukup memahami tindakannya bukanlah tindakan yang mudah untuk di pahami dan di terima oleh kakaknya. Tentu saja Penelope tahu jika resiko dari apa yang dia lakukan adalah mendapatkan kekesalan dari kakaknya seperti sekarang ini. Sungguh, Penelope hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kakaknya tapi sayangnya dia jadi salah arah karena perasaan bersalah serta iba untuk kakaknya.
" Hentikan niat mu untuk menjodohkan kakak dengan Bryant, selain kakak tidak tertarik, kakak juga cukup tahu diri bahwa tidak baik memulai hubungan di saat hubungan yang lama masih mengikat. " Elle meninggalkan Penelope di ruang tamu karena dia sudah ingin beristirahat.
Sesampainya di rumah, Jarvis rupanya sudah di sambut oleh Ibunya dengan mimik dingin seperti yang biasa Jarvis lihat sedari dia kecil.
" Kau sibuk apa belakangan ini? Kau jarang datang ke kantor, bahkan juga jarang berada di rumah. Kau sedang sibuk bermain tarik ulur dengan wanita itu? Hah! Kalau dia ingin berpisah, maka biarkan saja, wanita di dunia ini terlalu banyak, jadi jangan membuang waktu. "
Jarvis menghela nafasnya, lagi? Cara bicara yang dingin seperti itu, tatapan yang tidak bersahabat berbeda jauh saat Ibunya menatap Fredon.
" Apapun yang aku lakukan, aku sudah melakukan yang terbaik, jadi jangan menuntun terus menerus, aku sudah sangat lelah. "
" Lelah kau bilang? Seorang pemimpin perusahaan mana boleh mengatakan lelah?! Hanya gara-gara satu wanita saja kau banyak tingkah begini, kau itu harus mengutamakan yang lebih penting! "
" Tahu! Aku sudah mengerjakan apa yang harus aku kerjakan, bukankah tidak ada masalah di kantor? Kalau hanya banyak kerjaan, tentu saja karena di sana tempat bekerja. Cukup, ini sudah cukup! Aku ini anak mu, aku bukan sapi pekerja yang di tuntut untuk terus menghasilkan uang dan memajukan perusahaan! " Kesal Jarvis yang tak bisa lagi dia tahan. Puluhan tahun sudah dia menahan segala perasaan tertekan yang luar biasa, dia sudah ingin menghilangkan perasaan itu, tapi setiap hari Ibunya seperti sengaja menambahkan luka yang pada akhirnya membuat Jarvis menjadi seperti sekarang ini.
" Kalau saja Fredon masih hidup, demi Tuhan aku hanya akan menentukan perusahaan sepenuhnya kepada dia! Aku hanya punya kau anak laki-laki ku, kau pikir aku bisa apa?! "
Jarvis tersenyum, menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dikatakan Ibunya barusan.
" Fredon, pria yang kau didik begitu ketat itu? Pria yang kau masukkan kedalam kelas etiket, bermain piano, kau menuntutnya menjadi pria yang sopan, mudah tersenyum agar wajahnya terlihat hangat, kau memaksakan kepribadiannya dan menekannya dengan segala janji kebahagiaan. Kalau kau ingin tahu bagaimana perasaan Fredon selama ini, masuk lah ke kamar Fredon, dorong rak buku sampai terlihat ruangan kecil di sana. Baca buku harian Fredon, ah! Boleh lihat juga handycam Fredon, lihat semua video yang Fredon buat. Lihat wajah Fredon yang mengatakan betapa tersiksanya dia dengan tuntutan dari mu. Lihat dan perhatian baik-baik air mata Fredon yang jatuh! "
" Diam kau, Jarvis! Berani sekali kau bicara dengan kalimat seolah aku ini bukan Ibu mu! "
" Memang apa? Selama ini aku tidak di anggap anak mu hanya karena wajah ku yang begitu mirip Ayah ku bukan? Kau tersiksa melihat wajah ku yang begitu mirip dengan dia bukan? Kau tidak pernah menganggap ku anak mu, tidak sekalipun, tidak perduli juga seberapa banyak perjuangan ku hanya untuk bisa merasakan hangatnya pelukan seorang Ibu. "
Ibu Diana mengepalkan tangannya menahan diri agar tak berlebihan dalam mengekspresikan kekesalannya.
" Aku sudah lama sekali ingin mengatakan ini kepada Ibu. Sebenarnya, semua tindakan Fredon, kebejatan Fredon Ibu lah yang memaksanya. Ibu yang menciptakan Fredon si bajingan pengguna narkoba. Ibu lah yang juga telah membuat dia mati menyedihkan hanya demi obat terlarang yang jatuh ke air. "
Bersambung.