
Elle berjalan menuju kamar tidurnya dengan perasaan sedih yang begitu terasa. Hancur, dia benar-benar sangat hancur mendengar kalimat, kata demi kata yang keluar dari mulut adiknya. Begitu sampai di kamarnya Elle menjatuhkan tubuhnya dan duduk di lantai sembari menatap kedua tangannya. Benarkah dia benar-benar sudah menjadi sekejam itu hingga adiknya merasa begitu takut?
Benar, sepertinya apa yang di katakan Penelope memang begitu adanya. Meskipun apa yang dia dapatkan jauh lebih menyakitkan, lalu sekarang apa bedanya dengan dirinya? Dia juga menjadi penjahat meskipun tak menggunakan tangannya sendiri dia tetaplah seorang penjahat.
Elle menangis pilu karena tidak tahan lagi dengan semua yang terjadi ini. Pantaskah dia menderita? Pantaskah dia membalas dendam dengan cara yang sama? Lalu setelah dia membalas dendam pantaskah dia tersenyum bahagia? Meskipun dia bisa melakukannya tapi kenapa dia tidak merasa lega? Kenapa dia merasa tercekik oleh sesuatu yang tidak dia pahami? Jika memang melukai orang begitu menyesakkan dada, bagaimana bisa Vivian, Wendy, Ibu Diana tersenyum saja ketika melihat luka di tubuhnya?
" Ah.....! " Teriak Elle karena benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi semua perasaan tertekan itu.
Suara pintu terbuka, dan dia adalah Jarvis yang berjalan cepat untuk menghampiri Elle, lalu dengan segera dia meraih tubuh Elle untuk dia peluk. Tangan Elle tengah mencengkram rambutnya sendiri, maka dari itu Jarvis mencoba menenangkan Elle dan melepaskan cengkraman tangannya.
" Elle, tenangkan diri mu. Katakan saja ada apa, jika sulit untukmu, biarkan aku membantu. "
Setelah Elle tenang, Jarvis memberikan segelas air untuk Elle minum.
" Minumlah, Elle. Sedikit saja tidak apa-apa asal kau bisa tenang. "
Elle terdiam dengan tatapan kosong, dia seperti tak mendengar ucapan Jarvis membuat Jarvis menjadi sangat sedih dan merasa bingung harus melakukan apa.
" Elle, ada apa? Apa terjadi sesuatu saat kau makan malam bersama Bryant? Apa dia melakukan sesuatu padamu? " Cukup lama Jarvis menunggu jawaban dari Elle, tapi Elle masih saja terdiam tak mengatakan apapun. Jarvis mengangguk paham, dia pikir Elle hanya butuh waktu untuk sendiri dan sampai dia tenang, jadi Jarvis mengangkat tubuh Elle untuk berpindah ke tempat tidur, membaringkan, lalu memasangkan selimut juga.
" Aku akan tidur di sofa, nanti kalau butuh sesuatu bangunkan saja aku ya? " Ucap Jarvis yang tentu saja tak mendapatkan jawaban. Sebenarnya bisa saja Jarvis tidur di samping Elle, hanya saja dia takut kalau nanti gerakan nya saat tidur bisa mengganggu istirahat Elle, jadilah dia memilih tidur di sofa.
Sudah larut, Elle juga sudah tertidur, tapi Jarvis benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak. Sebentar-sebentar Jarvis akan terbangun, lalu mengecek keadaan Elle, barulah dia akan tidur lagi. Begitu saja terus hingga pagi datang.
" Elle, kita pergi sarapan setelah kau membersihkan diri ya? " Ucap Jarvis, tapi Elle yang tengah duduk di tempat tidur itu tak mengatakan apapun sehingga Jarvis lagi-lagi harus merasa bingung.
" Elle, maaf, tapi apa perlu aku memandikan mu? " Masih saja tak mengatakan apapun, Jarvis yang nekad akhirnya perlahan mengangkat tubuh Elle untuk masuk ke dalam kamar mandi. Perlahan dia mulai membuka pakaian yang di kenakan Elle dan berusaha agar tetap tenang dan Jangan sampai melakukan apa yang jelas akan membuat Elle semakin membencinya. Perlahan Jarvis meletakkan tubuh Elle ke bathtub lalu mulai membantu Elle untuk menggosok tubuhnya.
" Aku akan angkat tubuhmu keluar dari bathub, jadi jangan bergerak karena lantainya licin. " Ucap Jarvis lalu perlahan mengangkat tubuh Elle, lalu dia letakkan di atas sofa yang sudah dia alasi dengan kain penyerap air, hampir sejenis dengan handuk. Tak mengatakan apapun lagi, Jarvis segera membantu Elle untuk berpakaian tidak perduli bagaimana Elle berpikir sekarang.
Entah sampai kapan Elle akan terdiam dengan tatapan kosong semacam itu, tapi Jarvis berharap Elle akan segera kembali stabil, dsn dia tetap akan memanggilkan Dokter untuk Elle setelah selesai sarapan nanti.
" Elle, buka mulut mu dan makan bubur ini ya? " Jarvis mencoba menyuapkan sesendok bubur kepada Elle, tapi Elle masih saja diam tak memperlihatkan ekspresi apapun membuat Jarvis menjadi bingung kembali.
" Elle, maaf kalau aku memaksa, perutmu harus terisi walau cuma sedikit saja. " Jarvis menekan kedua sisi mulut Elle menjadi sedikit terbuka dan dia menyuapkan bubur itu untuknya.
Puihh
Bryant, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan sampai Elle menjadi seperti ini?
Jarvis bangkit, meletakkan bubur itu dan kembali menatap Elle.
" Kau tidak menyukai bubur? Kau mau makan apa? Hem? Katakan padaku aku akan membuatkan untukmu. "
Elle masih diam dengan ekspresi yang sama.
" Baiklah, kau tunggu di rumah dulu ya? Aku akan menghubungi Dokter segera, dan aku akan pergi sebentar untuk menemui seseorang, istirahat saja dulu ya? " Jarvis mengubah posisi Elle menjadi berbaring, barulah dia keluar dari kamar untuk menemui Bryant dan menanyakan apa yang terjadi hingga Elle menjadi diam seperti sekarang ini.
Di jam kantor seperti ini tentu saja Bryant ada di tempat kerjanya, maka dengan segera Jarvis mendatangi, dan setelah peraturan untuk bertemu Bryant di penuhi, akhirnya Jarvis bisa masuk ke ruangan Bryant yang pasti juga sudah menunggunya.
" Ada apa, Jarvis? Kau yang super sibuk ini bagiamana bisa datang ke perusahaan kecil semacam ini? Kau punya banyak waktu senggang atau bagaimana? "
Bug!
Tak memberikan jawaban secara lisan, dan pada akhirnya Jarvis memberikan sebuah pukulan di wajah Bryant sebagai jawabannya.
Bryant tersenyum dengan mimik kesal sembari mengusap darah yang keluar dari sisi bibirnya.
" Apa maksud pukulan mu ini? "
Jarvis mengepalkan tangannya, matanya yang sedari tadi menatap dingin dan tajam tak sekalipun berkedip memperhatikan Bryant.
" Apa yang kau lakukan kepada Elle? Kenapa dia terlihat sangat tidak baik dan menjadi seperti orang kehilangan jiwanya? "
Bryant tersenyum dengan tatapan mengejek. Sungguh dia sangat kesal mendengar pertanyaan Jarvis.
" Kenapa tidak kau tanyakan sendiri kepada dirimu, hah? Kalau bukan karena mu, serta keluargamu dia tidak menjadi seperti sekarang ini! Kau, adalah penyebab semua yang terjadi, Jarvis! "
Jarvis membuang nafas kasarnya.
" Dia sudah mengetahui segalanya, alasan aku melakukan kekejaman kepadanya. Dia masih baik-baik saja saat berangkat, bagiamana bisa dia aneh sekali saat pulang makan malam bersama mu. "
Bersambung.