Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 87 : Lembar Mengecewakan



Jarvis terdiam dengan tatapan pilu setelah menerima amplop yang dikirimkan padanya pagi tadi. Jarvis pikir itu adalah dokumen pekerjaan atau semacamnya, tapi begitu membaca isinya, Jarvis benar-benar di buat tak bisa berkata-kata dan menjadi sangat terkejut tak percaya dengan apa yang dia baca. Padahal sudah jelas dia pernah membatin kalau dia pasti akan mendapatkan selembaran pengajuan perceraian dari Elle. Tapi yang tidak Jarvis tahu adalah, rasanya benar-benar lebih sakit di banding yang dipikirkan.


Jarvis menatap selembaran itu kembali, meraihnya, lalu tersenyum ketika. Elle,...... Dia pasti sangat menderita sekali bukan? Meskipun dia tidak tahu bagiamana menjadi Elle, terang saja semua akan bisa merasakan betapa besar kemarahan, kebencian, dan juga kekecewaan atas segala rasa sakit yang dia dapatkan.


" Meskipun mengatakan, semoga kau baik-baik saja, dan hidup lah dengan bahagia di masa depan, aku tidak bisa membohongi hati ku yang terasa sakit, Elle. Ini adalah hukuman yang harus aku jalani, kau ingin melihat ku selalu menderita dan tidak mendapatkan kebahagiaan bukan? Akan aku jalani, akan ku nikmati baik-baik kehidupan menyedihkan ini. " Jarvis memuaskan senyumnya meski air matanya jatuh begitu saja. Beberapa waktu lalu dia sempat merelakan perasaan cintanya terabaikan, lalu goyah saat dia tidak bisa menahan perasaan rindu kepada Elle, dan menemui Elle membuatnya merasa ingin begitu egois mementingkan diri sendiri, lalu mengikat Elle kuat-kuat tanpa ampun. Tapi, bagaimana dengan hati Elle? Bagaimana jika keegoisannya itu membuat Elle menderita dan dia juga harus meyakinkan Elle yang bersedih setiap hari?


" Hah...... Hahahaha...... " Jarvis tertawa dan menangis bersamaan. Sebenarnya bagaimana dia akan mengambil keputusan ini tentu saja dia tahu, tapi dia masih saja ingin mencoba untuk sedikit saja egois. Lucu, benar-benar lucu sekali karena Jarvis sendiri seperti orang bodoh. Pertama dia jatuh cinta, kemudian sadar jika harus membenci, dia mati-matian mengutamakan kebenciannya demi membalas dendam, kedua dia membenci sekaligus mencintai di saat bersamaan membuatnya seakan tak bisa tenang dalam bersikap. Ketiga, di menyadari akan kesalahannya dan mengutamakan perasaan cinta yang ia miliki dengan harapan dapat membawa kembali perasaan cinta yang hilang dari hati Elle untuknya. Gila, sekarang dia harus melepaskan Elle di saat dia benar-benar mencintai Elle sepenuhnya, dan sialnya dia sama sekali tidak memiliki pilihan lain setelah melewatkan banyak kesempatan.


" Hidup lah terus dengan kebodohan mu, Jarvis. Pria seperti mu memang hanya akan menjadi pria tidak berguna. Nikmati saja rasa sakit ini, rasakan dan resapi dengan baik bagaimana Tuhan memberikan hukuman untuk mu. " Jarvis terkekeh menertawakan kebodohannya sendiri, tapi matanya masih saja menitihkan air mata.


Jarvis bangkit dari posisinya, sebentar menghela nafas lalu berjalan mendekati laci yang ada di ujung ruangan. Jarvis membuka satu laci, mengeluarkan satu buah bolpoin dan bersiap memberikan tanda tangannya di kertas permohonan bercerai itu.


Berpihak lah padaku, Tuhan.


Jarvis menggerakkan bolpoin itu dan membubuhkan tanda tangannya di sana.


Setelah itu Jarvis memasukkan kembali ke dalam amplop coklat, dan berjalan keluar dari kamarnya. Niatnya adalah untuk menemui Elle dan menyerahkan sendiri surat permohonan cerai yang sudah dia tanda tangani. Tidak perlu lewat pengacara atau apapun, sekarang Jarvis hanya bisa mengandalkan peruntungan untuk melihat Elle dan sedikit bicara padanya sebelum mereka akan benar-benar menjadi asing tanpa ikatan hubungan apapun.


Dengan harapan yang besar Jarvis mengendarai mobilnya, menuju di mana Elle tinggal bersama dengan Ayah dan juga adiknya. Ini baru aja pukul delapan malam, jadi Jarvis sengaja datang kesana karena dia juga yakin benar kalau Elle pasti lah belum tidur.


Begitu sampai di kediaman Elle, Jarvis sebentar membuang nafas untuk menghilangkan perasaan gugupnya. Setelah itu dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Elle. Tak lama pintu terbuka, dan yang membukanya adalah Penelope.


" Kak Jarvis, kenapa datang malam-malam begini? " Tanya Vivian dengan tatapan dingin karena memang dia tidak menyukai keberadaan Jarvis. Maklum saja, siapa Jarvis dan apa yang sudah di lakukan Jarvis benar-benar tak bisa dia lupakan dan dia maklumi.


" Aku ingin menyerahkan sesuatu, juga ingin membicarakan sesuatu dengannya. "


Vivian membuang nafas kasarnya.


" Berikan saja pada ku, dan katakan saja pada ku apa yang ingin kak Jarvis katakan, nanti akan aku sampaikan kepada kakak ku. "


" Tidak bisakah tolong panggil dia sebentar? "


" Tidak! "


" Hanya sebentar. "


" Tidak! "


" Orang ini datang lagi, alasannya kali ini adalah ingin menyerahkan suatu, dan membicarakan sesuatu dengan kakak. Tidak tahu dia ingin mengatakan apa, tapi aku merasa tidak nyaman kalau mereka bertemu. Kaka Jarvis pasti ingin merayu kakak. "


Jarvis tak mengatakan apapun, memang kalau di pikirkan lagi ya wajar saja kalau orang begitu buruk menilai dirinya, yah selama semua berjalan sesuai keinginannya Elle dan keluarga, Jarvis hanya bisa diam menerima asalkan Elle mendapatkan bahagianya.


Ayah membuang nafasnya.


" Sudahlah, Lope. Biarkan saja dia masuk, bagaimanapun hubungan mereka belum terputus secara resmi, biarkan dia bertemu kakak mu. Kalau kita karang terus menerus, masalah di antara mereka tidak akan pernah selesai. "


Penelope tak lagi bisa mengatakan apapun, sekarang ini ucapan Ayahnya adalah yang paling masuk akal, di tambah dia juga tidak memiliki keberanian sebesar itu sehingga berani membantah ucapan Ayahnya.


" Baiklah, aku panggil kakak dulu. "


Jarvis mengangguk, lalu masuk ke dalam karena Ayah mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam dan berbicara di ruang tamu nanti bersama dengan Elle.


Beberapa saat kemudian.


Jarvis menyerahkan surat permohonan cerai yang sudah dia tanda tangani kepada Elle. Juga satu lembar kertas lagi.


Elle memegang erat surat permohonan cerai yang rupanya sudah di tanda tangani oleh Jarvis. Sungguh Elle tidak menyangka kalau Jarvis akan semudah itu menandatangi, bahkan tidak lebih dari sehari untuk berpikir dulu.


Kenapa aku kecewa menerima ini?


Setelah cukup melihat tanda tangan Jarvis di kertas itu, Elle meletakkan selembaran itu ke dalam amplop.


" Ini apa? " Tanya Elle yang baru menyadari adanya satu lagi kertas di sana.


" Aku tidak tahu bagiamana menyebutnya, tapi aku benar-benar ingin memberikan itu untuk mu. "


Elle membaca dengan jelas kertas itu, kertas yang akan membuatnya memiliki satu rumah besar di kawasan elit, satu buah mobil mewah, apartemen, uang tabungan, bahkan juga saham sebesar lima persen dari saham yang dimiliki Jarvis.


" Berikan tanda tangan mu, pengacara ku akan mengurusnya dengan cepat. "


Elle terdiam sebentar, lalu menatap Jarvis.


Bersambung.