Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 75 : Kepergian Membawa Hoki



Begitu sampai di rumah, Jarvis dengan cepat berjalan menuju kamarnya untuk mencari keberadaan Elle. Tidak ada, jadilah Jarvis segera berjalan cepat menuju ke taman belakang berharap Elle berada di sana. Benar saja, Elle tengah bermain dengan sepasang anak anjing yang mereka pelihara, Jessi dan Jason. Jarvis tersenyum lega, dia menjalankan kaki nya santai menuju di mana Elle berada sekarang. Begitu sudah dekat, dan Eliza menyadari kedatangan Jarvis, dia segera mohon undur diri, dan sekarang hanya tinggal Jarvis dan juga Elle saja di sana.


" Elle, Ayah mu, dan juga Penelope setuju untuk melakukan metode penyembuhan dengan cara yang agak sulit, tapi aku benar-benar berharap kau bisa kembali seperti sedia kala, Ayah dan adik mu juga pasti ingin kau sembuh kan? Meskipun aku tidak tahu bagiamana memulai ketika kau sembuh nanti, aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu, Elle. Maafkan aku, tolong maafkan dan jangan terlalu lama membenci ku. Aku tahu kau marah, aku tahu kau merasa sakit, kecewa, aku akan menunggu dengan sabar, aku akan menunggu hari dimana aku bisa melihat senyum di bibir mu lagi.


" Elle, kita masuk ke dalam yuk? Kita harus segera mempersiapkan banyak hal yang di butuhkan, kau juga harus tenang dari sekarang supaya semua berjalan lancar nantinya. "


Sedari tadi Jarvis berbicara, Elle benar-benar hanya diam dan mendengarkan semua yang di katakan oleh Jarvis. Entah benar dia akan sembuh atau tidak, dia sama sekali sudah tidak ingin memperdulikannya lagi.


Elle menatap tangan Jarvis yang terulur, sebentar dia diam lalu meraih tangan itu membuat Jarvis tersentak dan menatap Elle dengan tatapan bahagia. Saat ini Elle pasti sedang mendapati kesadarannya, sayangnya dia hanya bisa menyimpan kebahagiaan itu di dalam hati dan mempertahankan kondisi Elle yang seperti sekarang ini. Setidaknya semakin sering Elle merespon dengan benar, semakin menunjukkan benar bahwa kemungkinan untuk Elle kembali pulih seperti sedia kala akan lebih besar lagi.


Jarvis dan Elle sudah sampai di kamar mereka.


" Elle, kau istirahatlah dulu ya? Aku akan keluar sebentar menghubungi Dokter, juga Ayah dan Adik mu. "


Setelah mengatakan itu, Jarvis benar-benar keluar dari kamar, menuju ke rumah kerjanya lalu segera menghubungi Dokter untuk menyampaikan persetujuan keluarga dengan metode penyembuhan yang resikonya juga tidak main-main. Tapi baru saja selesai menyelesaikan panggilan, suara panggilan telepon terdengar, dan itu adalah panggilan telepon dari Ibunya.


Kemana saja kau, Jarvis? Kau mulai menelantarkan adik mu hah?! Kau tahu benar keadaan adik mu sedang tidak baik kan? Kenapa kau malah sibuk di luaran sana?!


Jarvis baru saja menerima panggilan dan baru juga membuka mulut untuk menyapa tapi yang dia dengar adalah barisan kalimat yang tidak enak di dengar dan tidak enak untuk di rasakan oleh hatinya.


Masalah Wendy belum beres, kami sudah akan berangkat ke bandara tapi kau tidak juga muncul! Kau ini anak macam apa?! Kau tidak malu menjadi sosok kakak yang seperti itu?!


Jarvis membuang nafasnya, gila! Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Ibunya yang selalu membuatnya merasa tak pernah ada masanya dia benar. Sudah sejauh ini, sudah sebanyak ini pengorbanan yang dia lakukan, apakah itu semua tak ada sedikitpun yang nampak di mata Ibunya? Jarvis menjauhkan ponselnya, mengakhiri sambungan teleponnya tanpa mengatakan apapun.


Begitu mematikan sambungan telepon, Jarvis segera mematikan ponselnya karena benar-benar tidak ingin di ganggu untuk hari ini. Terlebih dia juga sudah mengirimkan pesan kepada Penelope.


***


" Dasar anak kurang ajar! Sepertinya dia benar-benar di buat gila oleh wanita itu! Tidak bisa di biarkan begitu saja, nanti begitu Ibu kembali, Ibu pasti akan memberikan pelajaran untuk mereka. " Kesal Ibu Diana.


Ibu Diana membuang nafasnya, sepertinya memang dia harus segera berangkat karena jam keberangkatan sudah dekat.


" Baiklah, titip rumah dulu, Vivian. Jangan sembarangan menerima tamu, kau tahu benar kalau aku tidak suka kan? "


Vivian tersenyum lalu mengangguk setuju serta paham.


" Kami berangkat dulu. " Ujar Ibu Diana lalu melangkah kan kaki untuk menuju mobil bersama dengan Wendy yang entah mengapa semenjak bangun pagi dia terlibat sangat murung.


Vivian tersenyum sembari melambaikan tangan mengiringi kepergian Ibu Diana dan juga Wendy yang semakin jauh, dan kini sudah keluar dari gerbang utama rumah. Senyum itu berganti menjadi senyum miring penuh kelicikan, tangannya yang sudah turun ke basah dengan segara mengepal dan bersiap dengan matang untuk tidak membuang waktu.


Sebentar Vivian duduk terdiam di ruang tamu, sekitar sepuluh menit karena bagiamanapun dia masih takut kalau nanti Ibu Diana dan Wendy kembali dengan alasan ada yang tertinggal, dan sepuluh menit itu sudah cukup membuat Vivian merasa sangat yakin kalau Ibu Diana dan Wendy tidak akan kembali ke rumah lagi. Vivian bangkit dari duduknya, memperhatikan dengan teliti di mana saja ada pelayan yang sedang bekerja, karena dia harus benar-benar mencari celah yang paling aman.


Setelah cukup yakin, Vivian dengan langkah kaki biasa segera melangkahkan kaki menuju kamar Wendy, setelah dia berhasil masuk ke dalam sana, dengan segera Vivian membuka satu persatu laci yang ada di kamar Wendy.


" Ya ampun...... Wendy, kau benar-benar bodoh sekali membiarkan perhiasan semahal ini di laci yang kuncinya saja aku tahu dimana letaknya. " Vivian tersenyum bahagia, sungguh beruntung sekali karena dia beberapa kali masuk ke dalam kamar Wendy dengan alasan melihat keadaan Wendy.


Vivian melanjutkan aksinya, dia menemukan brangkas, tapi sialnya dia tidak bisa membuka brangkas itu setelah banyak sekali menekan tombol brangkas.


" CK! Sialan! Terpaksa aku haus cari yang lain. " Vivian mengambil dua tas branded yang harganya sangat mahal menurut yang ia tahu, dan karena sudah tidak ada lagi yang bisa dia ambil, dengan segera Vivian keluar dari kamar Wendy dan tentunya dia sudah melihat dulu bagaimana keadaan di luar sebelum dia keluar dari sana. Vivian dengan segera masuk ke kamarnya, laku meletakkan barang berharga yang dia ambil dari kamar Wendy, sekarang dia mulai menuju ke kamar Ibu Diana.


Setelah memastikan keadaan mendukung aksinya, Vivian kini tengah tersenyum puas karena ternyata dia bisa mendapatkan banyak benda berharga dari sana. Tidak sulit membuka brangkas yang ada di kamar Ibu Diana, karena sebelum beraksi Vivian sudah mencari tahu pasti tanggal lahir Fredon. Seperti tebakannya, brangkas Ibu Diana di kunci dengan tanggal lahir Fredon.


" Aku bahagia sekali, akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah si Kelie brengsek itu. " Vivian tersenyum memeluk banyak sekali uang, perhiasan, juga mas batangan dari brangkas Ibu Diana sampai tidak ingat bahwa di dalam sana ada kamera pengawas.


Bersambung.