
Informasi itu membuat Leon marah besar, mereka yang kembali dan memberikan informasi kepadanya menjadi korban Leon, darah mengalir di pelipis mereka, kemarahannya tidak dapat di redamnya, dia adalah pria yang memiliki segalanya, dan tidak ada seorangpun yang pernah menolaknya.
"Pergi!" Bentaknya.
Dia menghempaskan tubuhnya di atas kursi lalu memijit-mijit keningnya, baru kali ini perasaannya begitu kacau, segala yang di rencanakannya tidak berjalan sesuai keinginannya, dia mengusap wajahnya lalu menautkannya, entah mengapa dia begitu menginginkan Andria menjadi pendampingnya, sangat menginginkannya. Tapi dia adalah tipikal pria yang tidak mudah menyerah, dia akan berusaha sampai apa yang di inginkannya terpenuhi.
~
Hari itu doughlas tiba di rumah sakit tempat tuan Anderson di rawat, sementara beberapa perawat tengah memeriksa tuan anderson.
Beberapa peralatan medis melekat di tubuh ayah andria, dia masih tidak sadarkan diri hingga sekarang, penyakit yang sudah lama di idapnya serta kabar terakhir yang di dengarnya membuat dia jatuh pingsan dan koma, dirinya tidak mampu menerima semua itu.
Doughlas masuk dan duduk di sisi sosok yang dipanggilnya ayah, doughlas menggenggam tangan tuan Anderson, dan berjanji mencari tahu tentang Kematian tragis yang menimpa Andria.
~
Hujan tidak turun lagi tetapi masih menyisakan gemuruh dan awan yang nampak gelap, sebuah mobil Limousine yang diiringi oleh puluhan mobil berwarna hitam telah tiba di mansion alexander. Alec segera turun dari mobilnya dengan perlahan dia mengangkat tubuh istrinya yang masih pingsan. Dengan cekatan orang-orang alec berdiri mengambil posisi berjaga di depan mansion.
Alec membawa tubuh Andria masuk ke dalam rumahnya, sementara itu Mrs Alexander yang melihat semua itu hanya terkejut dan memegang dadanya.
"Andria? Dia Andria Alec?!" Ucapnya menatap wajah menantunya yang masih tertidur.
"Ya mom, dia Andriaku..dia masih hidup." Ucap alec.
Dengan cekatan alec menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar tidur lalu membaringkannya perlahan, setelah membaringkannya dia kembali menatap wajah istri yang dicintainya, dia mengusap wajahnya lalu mengecupnya, hatinya begitu lega dan terasa ringan, ternyata andrianya belum pergi dari sisinya.
"Daddy? Ucap suara polos kein yang menatap ayahnya sambil memeluk istrinya. Dia berbalik dan memanggil putranya.
"Kemarilah kein." Ucap alec.
Kein tersenyum dan naik ke atas tempat tidur lalu memandangi wajah ibunya.
"Mommy kenapa dad?" Tanyanya.
"Mommy masih tidur sebentar lagi dia akan bangun." Ucap alec mengacak rambut putranya.
"Dimana kau menemukan mommy kein?" Tanya alec.
Kein berpikir sebentar lalu menjawabnya. "Aku menemuinya di dekat danau, di tempat itu aku pernah berjalan-jalan dengan mommy, dan aku kembali ke sana dan melihatnya jadi kupeluk saja mommy." Ucap kein.
Alec sangat bersyukur, karena kein memutuskan mencari Andria dan menemukanya meskipun resikonya begitu besar bahwa putranya harus keluar seorang diri di tengah hujan tapi Alec bangga dengan putranya yang pemberani.
"Biarkan ibumu tidur, sebaiknya kau makan dulu kein nanti ayah akan memanggil kein kalau mommy sudah bangun."
~
Hari mulai gelap, wangi dari tempat itu begitu familiar dihidung Andria, dia menyukainya, Andria mengambil napas panjang lalu perlahan membuka kedua matanya yang berat. Tubuhnya begitu hangat tetapi ada sesuatu yang menekan perutnya, dia kemudian memutar kepalanya ke samping dan menatap seorang pria sedang memeluknya.
Dia begitu terkejut ingin menepisnya tetapi melihat wajahnya entah mengapa membuat andria membiarkan pria ini memeluknya, dia menatap wajahnya lekat-lekat dan mengangkat tangannya ingin menyentuh wajahnya, tiba-tiba Alec membuka matanya dia lalu tersenyum dan merekatkan pelukannya kepada Andria.
Tetapi mata andria melotot dengan apa yang dilakukan Alec yang memeluknya dan membenamkan dalam-dalam wajahnya di ceruk leher andria dan mengecupnya, seketika Andria mendorongnya dan memukul wajah alec dengan bantal beberapa kali.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Andria panik merasakan jejak hangat di lehernya.
Alec tekejut, dia menangkis pukulan Andria bertubi-tubi di tubuhnya. "Andria? Kau tidak mengenaliku Sayang?" Ucapnya sambil memegang bantal yang akan dipukulkan Andria ke tubuhnya.
Dia menarik bantal itu hingga tubuh Andria tertarik ke depan dan jatuh ke pelukan Alec, dengan cekatan alec mengambil kesempatan dan mengecupnya dan menahannya di tubuhnya.
Tubuh Andria mencoba berontak tetapi pelukan Alec begitu kuat di tubuhnya hingga Andria tertahan di sana. Kecupan itu berlangsung begitu panjang. Alec akhirnya melepaskan Andria dan menatapnya, "Aku mencintaimu." Ucapnya sambil tersenyum, membuat semburat merah di pipi Andria muncul begitu saja, hal ini membuat alec begitu ingin melepaskan hasratnya yang sudah lama dipendamnya, dia kembali mendorong Andria hingga tubuhnya terbaring kembali, sebelum alec melaksanakan keinginannya sebuah ketukan beberapa kali dari pintu kamar membuatnya berdesis marah.
Andria mendorongnya dan mencoba duduk lalu memegang bibirnya yang terasa bengkak. 'Pria itu menciumnya dan entah mengapa tubuhnya merespon dan membiarkan begitu saja dia melakukannya'. Pikir Andria yang masih memegang bibirnya.
"Daddy? Mommy sudah bangun? Abel ingin menemui mommy." Ucap kein polos yang menggendong adiknya di pelukannya. Andria menatapnya dan wajahnya lalu melembut memandang keduanya yang begitu menggemaskan.
Kein membawa Abel ke atas tempat tidur seketika Abel yang menatap ibunya lalu merangkak kepada Andria dan memeluknya. "Mom..mommy..." Ucap Abel perlahan.
Andria langsung saja menggendong dan memeluk Abel, perasaan Andria begitu hangat dan merindukannya, dia sangat ingin mengingat semuanya kembali, Abel mendekap erat tubuh Andria begitupun kein yang memeluk ibunya di sampingnya sambil matanya menatap ayahnya yang memijit-mijit pangkal hidungnya, tetapi langsung saja duduk di hadapan mereka bertiga sambil tersenyum senang.
Sebuah ketukan membuat alec turun dari tempat tidur dan membuka pintu dan melihat wajah ibunya yang menghapus air matanya dengan sapu tangan dan menatap walch yang berdiri di sampingnya.
Alec keluar dari kamar dan berbalik sebentar menatap Andria mengecup pipi Abel dan berbincang-bincang bersama kein, dia tersenyum lalu menutup pintunya.
Alec kembali ke ruangannya diikuti oleh Alec. "Sir kami menemukan bukti bahwa wanita yang meninggal di mansion tuan Anderson adalah ibu tiri andria, nyonya Rowena yang melarikan diri dari penjara, Sepertinya nyonya Andria berada di waktu yang tidak tepat ketika dia datang ke rumah tuan Anderson, Rowena sudah berada di sana dan menyerang nona andria."
Dia memberikan flashdisk kepada alec, "kami menemukan cctv dari halaman mansion tuan Anderson yang sempat merekam kejadian itu."
Alec mengambil flashdisk itu dan menggenggamnya, "Jadi, wanita yang tewas terbakar itu adalah Rowena." Ucap alec.
"Ya, sir dan Leon de Lucas mengambil nyonya Andria ketika dia jatuh pingsan dan membawanya, kemungkinan besar dia yang membakar mansion tuan Anderson." Ucap walch.
Alec menggeram, "pria itu menyembunyikan istriku, aku tidak akan membiarkan mereka, siapkan orang-orang kita walch, perketat keamanan di setiap sudut, jangan biarkan ada seorangpun yang lewat di depan mansionku.
"Baik sir."
Hari itu hujan kembali turun meskipun awan gelap dan dingin menyelimuti cuaca di hari itu, tetapi dengan adanya kehadiran Andria membuat keluarga itu menjadi hangat meskipun ingatannya belum kembali.