Her Secret

Her Secret
Jessie Weakhly



"Selamat siang saya Jessie Weakhly, saya adalah rekan kerja Mr Alec, er...saya datang ingin menemui kein dan Abel nyonya, boleh saya masuk?"


Wajah nyonya alexander sedikit heran tetapi dengan sopan dia tersenyum dan mempersilahkan wanita berambut merah ini masuk ke dalam rumahnya.


Dia tersenyum ramah dan mengedarkan pandangannya mencari Abel dan kein, dia menatap keduanya yang tengah duduk di kursi sambil menatapnya, Abel yang masih balita di peluknya lalu memberikan mainan boneka ke tangan Abel, tiba-tiba Abel menjerit meronta-ronta di pelukan wanita itu dia menangis keras melihat sosok yang tidak dikenalnya.


"Turunkan dia ! dia tidak suka orang asing, lepaskan adikku !" ucap kein berdiri menatap wanita itu yang kini merasa canggung lalu memberikan Abel kepada nyonya Alexander.


"Kein sayang jangan begitu, sopanlah nona ini teman ayahmu." tegur nyonya Alexander.


"Hai, kau pasti kein, kau sangat mirip dengan ayahmu kau sangat manis dan...


"Salah ! aku mirip ibuku." ucap kein kasar.


"Em ini untukmu." Dengan membuat suara selembut mungkin sambil memberikan bungkusan mainan besar berisi robot-robotan kepada kein.


Kein menatap wanita di hadapannya dengan wajah tidak suka, dia mengambil mainan itu lalu melemparkan mainan itu dengan keras.


"Siapa kau! untuk apa kau datang kerumahku? pergi dari rumahku sekarang !" perintahnya.


"Kein honey, ada apa denganmu kau sungguh tidak sopan."


Matanya menatap tajam wanita yang berdiri dihadapannya, dia lalu menendang jauh-jauh mainan itu, "Aku. bilang. pergi!" Teriak kein sehingga Jessy gelagapan mendengar teriakannya.


"Sebaiknya anda pergi nona, kondisi kein kurang baik, nanti aku akan menyampaikan kedatanganmu kepada alec." ucap nyonya Alexander.


Dengan senyum terpaksa Jessie dengan cepat berlari keluar dari kediaman Alexander, dia masih mendengar teriakan-teriakan kein kepadanya.


Setelah pintu menutup jessie berbalik dan menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Ck ck, Sial ! anak kurang ajar sangat mirip dengan ibunya, lihat saja ! jika nanti aku menjadi nyonya di rumah ini, kau akan tersiksa menghadapiku." sambil merapikan roknya yang melekat ketat di pinggulnya.


"Benarkah? tapi aku pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi nona, menantuku satu-satunya hanyalah Andria, dan aku akan berusaha keras agar kau tidak muncul lagi dihadapan keluarga Alexander, tidak...bahkan keberadaanmu di perusahaan Alexander akan aku enyahkan camkan itu, selamat siang...oh ya dan kau melupakan ini."


Dia membuang di lantai bungkusan yang telah di bawa oleh Jessie dengan wajah menggeram.


"Dasar wanita jalang." Umpat Nyonya Alexander setelah menutup pintu. Jessie membeku, segala yang dilakukannya tidak berjalan dengan yang diinginkannya, jantungnya berdetak cepat, ketakutan menghampirinya dia berjalan lunglai dan menuju ke dalam mobilnya dengan pandangan tajam dari Gery yang sejak tadi berdiri di sana mendengarkan segala yang dikatakannya.


~


Sore itu Alec masih berada di kantornya dia bersandar di kursi sambil termenung memandang pemandangan kota Vancouver dari kaca besar di ruangannya. Ketukan dari luar membawanya kembali ke realita.


"masuk." ucap alec.


Walch masuk dan memberikan dokumen penting kepada alec, tanpa berkata-kata Alec segera menanda tangani dokumen itu.


"Sir, saya minta maaf jika tidak sopan tapi erm.. ini." Dia meletakkan tiket bermain ke Disneyland di Vancouver, "Erm Saya memiliki banyak tiket seperti itu, anda bisa membawa anak-anak anda ke sana." ucapnya.


Alec memegang beberapa tiket bermain itu dan membayangkan kein yang akan tersenyum senang jika dia mendapatkan kesempatan pergi ke sana.


Dia sedikit menunduk kemudian melangkah dan menutup pintu ruangannya. Alec menatap beberapa tiket berwarna biru di tangannya, dia lalu berdiri dan mengambil jasnya kemudian mengenakannya lalu keluar dari ruangannya. Ketika menunggu di lift beberapa orang mengikutinya dari belakang, setelah masuk ke dalam lift seorang wanita terburu-buru ingin masuk juga ke dalam lift, terdengar suara high heelsnya yang berbunyi di setiap langkahnya.


"Permisi boleh aku masuk, aku sedang terburu-buru."


ucapnya sambil memperbaiki rambut yang menempel di keningnya. Alec hanya menatap wanita pirang dengan rambut bergelombang di hadapannya, tetapi hanya satu orang yang menjawab pertanyaannya.


"Kau berada di divisi mana?" tanya walch pada wanita itu.


"Eh saya dari divisi pemasaran sir." ucapnya terdengar percaya diri. Sementara itu alec sibuk dengan ponselnya tanpa memperdulikan perbincangan walch dan wanita itu.


"Siapa kepala divisimu?" ujar walch mulai menginterogasi wanita di hadapannya dengan pandangan tajam.


"Er Ronan Weltson sir." Hal ini membuat alec melirik pada wanita itu sehingga semburat kemerahan terbit di kedua pipinya, tetapi dengan cepat kembali mengalihkan perhatiannya kepada ponselnya.


"Kau tahu lift khusus ini bukan untuk karyawan, sudah berapa lama kau bekerja di Perusahaan ini." Ucap walch dengan wajah datar patennya dia tidak menyukai melihat ketidaksempurnaan di depan matanya.


"Ma...maaf sir aku.." ucap wanita itu tergagap.


"Sepertinya aku harus memanggil kepala divisimu Ronan Weltson dan meninjau ulang setiap karyawan yang bekerja di bawahnya."


ucap walch kepada wanita dihadapannya yang mulai kehilangan kepercayaan dirinya dia berdiri dengan tidak nyaman di depan Alec Alexander yang seperti tidak peduli dengan perbincangan keduanya.


Tanpa memandang Janet dengan wajah merah dan matanya yang mulai basah, lift akhirnya menutup meninggalkan wanita itu tanpa mengucapkan apa-apa lagi hanya pandangan walch yang tajam yang terakhir dilihatnya.


~


Alec akhirnya tiba di mansionnya, dia datang tepat saat makan malam akan dihidangkan, suara-suara terdengar dari dalam rumah, kali ini kein hanya duduk di ruang tamu di depan kaca besar, dan suara Abel yang menggema dan bermain-main dengan mainannya bersama neneknya dan dua orang pelayan yang menemaninya.


"Bagaimana perjalananmu sayang, beruntung sekali kau tiba saat makan malam, kita bisa berkumpul dan makan malam bersama, iyakan Abel sayang?" ucap Mrs. Alexander menggendong cucunya.


"Baik mam, ya aku ingin makan malam bersama kein dan Abel, pekerjaan di kantor bisa kuselesaikan di rumah." Matanya melirik ke arah kein yang membelakangi mereka semua dan hanya terdiam menatap jendela besar, suasana di luar sudah begitu gelap hanya cahaya dari lampu jalan yang menyinari halaman di luar rumah sehingga tidak ada yang bisa di lihat dari sana.


Alec menghampiri putranya yang sejak tadi tidak memperdulikan kedatangan ayahnya. Kecupan di puncak kepala kein yang diberikan Alec kepadanya dan begitu saja duduk di sebelahnya.


"Waktunya makan malam kein." ucap alec menatap putranya yang seperti melamun. Dia mengangguk tanpa berbicara kepada ayahnya. "Kau tidak senang ayah cepat pulang ke rumah?" tanyanya.


Kein berbalik, dia lalu menatap ayahnya, "Aku senang dad." ucap kein.


"Kenapa kau selalu memandang jendela itu kein?" tanya alec menatapnya.


Kein terdiam lalu berbicara perlahan. "Mommy berjanji padaku akan datang kepadaku jika aku menunggunya di sini dan menjadi anak yang baik." ucapnya.


Wajah alec berubah menjadi kaku, kesedihan merayap di wajahnya. "Kein ibumu.....


"Tidak ! mommy akan datang padaku, aku akan menunggunya di sini." ucap kein keras kepala.


Alec mencoba mengendalikan dirinya, dia ingin menjelaskan kepada putranya kalau ibunya sudah tiada tapi sama seperti kein dirinyapun menolak mempercayai kepergian Andria.