Her Secret

Her Secret
Jantungku berdetak kencang



Tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap, aku tidak bisa merasakan kakiku sama sekali, tubuhku seakan melayang ketika dia menciumku, aku kesulitan bernapas. Tanganku menggenggam erat handuk kecil yang kukenakan, aku mencoba mendorong Alec tetapi tubuhnya semakin erat di tubuhku, aku mengerang keras karena tiba-tiba saja kakiku tidak menapak lantai, dia membawaku di sofa dan menghimpitku di sana.


Dia melepaskan bibirnya dan tersenyum tipis, jantungku berdegup kencang, bibirku terasa bengkak dibuatnya, sementara napasku terasa pendek.


Kami saling menatap begitu intens, tiba-tiba saja ponselnya berdering membuatnya berdesis marah. Dia menatap panggilan di ponselnya perlahan dia mulai bergerak dan pergi menjauh Ketika menerima telepon. Dia terlihat begitu serius.


Andria mengambil kesempatan itu untuk bergegas pergi darinya, dia setengah berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya, dengan terburu-buru dia mencari pakaian di dalam lemari itu, dan semuanya membuat dirinya tercengang, gaun yang beraneka ragam mendominasi lemari itu, dan semuanya terlihat seksi, apakah aku harus mengenakan gaun ini?


Terdengar ketukan dari luar pintu kamar, dan teriakan Alec yang menggema. "Andria ! buka pintunya, aku harus segera pergi". Sementara itu Andria mengambil asal saja pakaian yang ada di dalam lemari dan terburu-buru mengenakannya.


Pria itu pasti sedang menertawakannya dia pasti mengetahui jika di dalam lemari ini semuanya berisi gaun-gaun yang seksi, sangat bertolak belakang dengan pakaian yang sering dikenakannya.


"Dasar pria mesum itu...".


Andria mengenakan gaun off shoulder berwarna putih dipadu dengan jeans sobek begitu pendek berwarna biru pudar. Rambut panjangnya dia gerai agar bahunya yang terpampang jelas dapat tertutupi.


Dia membuka pintu kamarnya dan Alec menunggu sambil bersandar di pintu, mulutnya melengkung membentuk senyuman, "Cantik", gumamnya. Andria memandangnya dan menjaga jarak kepada alec. Sudut mulutnya terangkat menatap Andria yang canggung dihadapannya.


"Aku harus pergi Andria". Dia kemudian berbalik dan menuju pintu keluar dengan Andria mengikutinya dari belakang.


"Kita akan makan malam jika pekerjaanku selesai dengan cepat malam ini". Kata Alec yang tiba-tiba berbalik menghadap Andria sehingga alec menghilangkan jarak di antara mereka. Sekali lagi Andria berada sangat dekat dengan pria dihadapannya.


"Andria,...tatap mataku". Bisiknya, Andria mengerjap lalu menatapnya.


"Aku akan segera kembali, kau mendengarku erm..ok aku pergi".


Dia mengecup kening Andria dan tersenyum tipis dan membisikkan sesuatu di telinga andria. Andria hanya berdiri terpaku, apakah aku tidak salah dengar, menyukaiku?


~


Ronan berada di kamar Andria memperhatikan setiap sudut ruangan itu, lalu menatap meja belajar serta buku-buku yang tersusun rapi, gadis itu dimana? pikir Ronan yang duduk di tepi tempat tidur Andria. Apakah dia pergi menemui Mr. Alexander? Ronan lalu keluar dari kamar dan segera mengambil kunci mobilnya.


Ronan kau mau kemana? aku ikut ya..".Teriak Lucy. Gadis itu berlarian membuka pintu mobilnya dan duduk manis di samping Ronan. "Aku bosan, biarkan aku ikut denganmu". Ronan tidak menjawabnya hanya menggeleng menatapnya.


"Kita akan kemana"? tanyanya ceria.


"Kita akan mencari Andria", ucap Ronan. Wajah Lucy tampak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Untuk apa Ronan, gadis kasar itu sudah memukulku bagaimana kalau dia kembali memukulku? lagi pula bibi tidak senang mendengarnya, dan membiarkan Andria menginap di rumah temannya untuk sementara waktu".


"Dia tidak akan melakukan hal itu jika kau tidak melakukan sesuatu lucy, apa yang kau katakan padanya hingga dia memukulmu"? Tanya Ronan yang masih mengemudikan mobilnya menuju kantor.


"Kau begitu percaya padanya daripada aku Ronan ! padahal aku ini sepupumu dan dia hanyalah orang asing yang tidak jelas, bagaimana bisa kalian membiarkan gadis liar itu masuk dan tinggal di rumahmu Ronan, aku akan bicara dengan bibi agar dia meninggalkan rumahmu secepatnya".


Tiba-tiba saja Ronan menepikan mobilnya, "Keluar ! gumam Ronan kepada Lucy tanpa menatapnya.


"Apa..apa katamu Ronan jangan bercanda". Kata lucy yang dengan ragu tersenyum pada Ronan. Kilatan kemarahan terlihat di wajah Ronan begitu mendengar kata-kata lucy hingga dirinya seperti menciut di tempat duduknya.


"Kalau kau mengatakan itu kepada ibuku, jangan pernah datang ke rumahku lagi, atau menemuiku, kau mengerti !". Kata Ronan tajam.


Ronan berhenti di depan kantornya dan segera turun dari mobilnya ketika dilihatnya Mr. Alexander baru saja keluar dari mobilnya.


Ronan menghampirinya dengan Lucy berada di sampingnya.


Tiba-tiba saja lucy memainkan rambutnya menatap alec seakan dia menemukan mainan baru.


"Erm..apa kabar ! ucap Ronan canggung.


Alec menatapnya, ekspresi tidak suka sangat kental di wajahnya. "Ada apa"? tanyanya.


"Apakah andria tidak menemui anda"? Kata Ronan terus terang.


"Apakah sesuatu terjadi padanya"? tanya alec.


mengerling gadis yang ada di samping Ronan.


"Kami mencari-carinya tapi belum juga menemukannya, Oh ya namaku Lucy aku sahabat baik Andria". Matanya tertuju kepada alec dengan memasang wajah seimut dan seseksi mungkin.


Ronan menggeleng jengkel melihat tingkah lucy.


"Sahabat? gadis sepertimu?". kata Alec matanya menatap Lucy dengan mengerutkan keningnya.


"Apa? ucap Lucy.


Tanpa mengucapkan apapun Alec berlalu dan masuk ke dalam kantor.


"Wajar saja jika Andria menamparmu Lucy". gumam Ronan padanya.


Lucy menghentakkan kakinya mendengar nama Andria, ada apa dengan wanita itu? mengapa dia bisa meracuni pikiran pria-pria ini? Dia hendak masuk kedalam mobil Ronan tetapi tanpa menunggu Lucy, Ronan mengendarai mobilnya tanpa berbalik kepada Lucy yang ternganga.


~


Andria tengah sibuk dengan pekerjaan yang dilakukannya di dapur, dia memasak untuk makan malamnya, dia memotong-motong daging dan sayuran, dia ingin membuat spaghetti bolognese. Tidak menunggu lama spaghettinya pun sudah dapat dihidangkan di atas meja makan, wanginya menggugah selera, Andria mencobanya dan merasa masakannya sangat lezat.


"Apa aku akan menunggunya? katanya dia akan datang untuk makan malam". ucap andria menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Andria mengabaikan perutnya yang sudah berbunyi, bagaimana kalau aku menghubunginya? tidak tidak...untuk apa aku meneleponnya. pikir Andria.


Atau aku membawanya ke apartemennya saja? lagi pula aku sudah masak banyak, aku juga akan memberikannya kepada Gery. Tanpa ragu Andria mengemas dua kotak makanan dan memakai sweater Coklat yang di temukannya di dalam lemari.


Andria baru menyadari jika apartemen yang alec berikan untuknya, sama dengan tempat tinggal Alec, hanya saja apartemen alec berada di lantai paling atas dari gedung ini. Andria masuk ke dalam lift dan menekan tombol paling atas dan tidak lama kemudian Andria tiba di depan apartemen alec.


Dengan ragu Andria menekan bel apartemennya tapi tidak ada seorangpun yang keluar dari pintunya, mungkin saja dia belum pulang. pikirnya, tetapi anehnya Andria dapat mendengar suara-suara dari dalam, dia mendorong sedikit pintunya, "terbuka? gumam Andria pelan. Ada dua pasang sepatu wanita dan pria di hadapannya, dia memberanikan dirinya melangkah lebih jauh, dia menatap sesuatu yang membuatnya membelalakkan matanya, seorang wanita tengah duduk di atas tubuh alec dan mencium Alec dengan liar, Andria berbalik tanpa mereka sadari. Andria segera keluar dari pintu dan bertemu dengan Gery di pintu masuk, membuat Gery terperanjat.


"Miss Andria?


Tapi Andria pergi begitu saja meninggalkannya, mengapa perasaanku begitu kacau, tentu saja pria seperti alec memiliki teman kencan dengan seorang wanita dimana saja, apa yang kupikirkan? apa yang kuharapkan? jantung Andria berpacu tidak menentu berdetak kencang, jadi...selama ini pria itu hanya mempermainkanku? menciumku dengan semaunya, matanya mulai memanas.


Andria tersenyum tidak percaya dengan dirinya sendiri, "Kau gadis bodoh Andria". gumam Andria. Dia melangkahkan kakinya ke dalam apartemennya, andria pikir dalam waktu lama dia akan tinggal di sini tapi ternyata tidak ! Aku harus pergi dari sini.