Her Secret

Her Secret
Dia tersenyum?



Alec memandang jendela besar yang terpampang dihadapannya, "Mengapa aku begitu memikirkan gadis itu??"


Cerah, tidak sesuai dengan suasana hatinya, Dia menggunakan bus, andria berangkat menuju tempat tujuannya, beruntungnya tidak begitu banyak orang di dalam bus hari ini, Andria menyandarkan kepalanya ke jendela bus itu dan memandang orang-orang berlalu lalang, setengah jam lagi andria akan sampai di tempat tujuannya, di situlah awal mula Andria akan mencarinya, meskipun sudah tua tempat itu masih terbuka.


Toko buku guard, ya di situlah andria akan memulai pencariannya.


Matanya mengerjap memandang sosok yang ada di samping bus itu, tapi tanpa ekspresi dan setelah melihatnya, Andria memalingkan wajahnya. Dia adalah pria yang mengetahui latar belakangnya, andria heran mengapa dia bisa melihatnya di tempat seperti ini? andria tahu pria itu menatapnya dari balik jendela mobilnya yang bersampingan dengan bus yang sedang andria naiki saat ini, Andria melihat pria itu terkesiap dan sedikit kaget bahwa dia melihat andria di bus kuning itu.


"kebetulan yang tidak menarik." Ucap Andria.


Andria tidak perduli pada pria itu.


"Sialan ! mengapa aku bisa bertatapan dengannya dan bertemu dengannya?" ucap Andria.


~


Gery seperti biasanya membawa mobil tuannya menuju kantor di pagi hari, Alec melihat panggilan telepon dari kerin di handphonenya yang dia abaikan, lalu mematikannya dan memasukkan ponselnya ke jasnya.


"Gery kau sudah menghubungi Mr.Canon pagi ini?" tanyanya.


"Ya tuan alec, aku sudah mengubungi Mr.Canon dan dia akan datang kekantor pagi ini dengan dokumennya." ucap Gery.


"Bagus, sekarang tinggal menanda tangani dan beres." Mobil berhenti di lampu merah, alec memandang ke samping jendela dengan bosan sambil memegang dagunya. Dan tebak apa yang dilihatnya?? Gadis itu ada di sana di dalam bus itu, sedang menatap keluar jendela, juga pada saat bus itu berhenti.


"Dia ingin pergi ke suatu tempat?" gumam Alec. Setelah beberapa menit dia menyadari keberadaan alec yang menatapnya sedari tadi.


"Bagus..dia membuang wajahnya padaku???" ucap Alec tidak percaya.


"Apa dia mengabaikanku? Dia ingin kemana?" gery menatapku dari kaca spion dan mengetahui Andria berada dalam bus.


"Tuan alec apakah anda ingin pergi ke suatu tempat?"


"Tidak ! erm gery oky ! ikuti bus itu !" perintahnya.


Gery tersenyum, "Baik tuan Alec."


"Tuan, nona itu telah turun dari bus." ucap Gery. Alec memperhatikan gadis itu dan ingin mengetahui dia hendak kemana, sepertinya dia memasuki toko buku tua di persimpangan jalan, tak banyak orang yang singgah di sana. Alec turun dari mobil dan berdiri di depan toko buku tua itu.


Bunyi pintu itu berderik membuatnya berbalik dan memandang buku-buku tua pada rak-rak buku, tercium bau kertas yang sudah lapuk, membuat alec mengibaskan tangannya pada wajahnya.Tempat yang betul-betul kumuh, mengapa ada tempat seperti ini? Dimana gadis itu? pikirnya.


Alec menelusuri rak demi rak, tapi dia tak menemukannya, seseorang keluar dari dalam, seorang kakek tua berkacamata.


"Ada yang bisa aku bantu tuan?" Apakah anda mencari sebuah buku khusus?" tanyanya.


"Tidak, aku erm ya…aku sedang mencari-cari."


"tak banyak yang datang ke toko buku tua ini tuan, Oh ya kecuali satu nona muda yang juga sedang mencari sebuah buku tua."


"Apakah kau sudah menemukannya nona Az?" kakek tua itu berbicara di belakang alec dengan spontan alec berbalik dan mendapati sepasang mata menatap sinis padanya.


Tanpa mempedulikan pria didepannya Andria menatap kakek itu. "ya, sedikit lagi akan kudapatkan." jawab Andria.


~


'Brengsek, Apa dia mengikutiku? apa yang diinginkan pria ini padaku??' gumam Andria.


Andria berjalan membelakanginya seperti tak melihatnya, dia berada tepat di belakangnya, Andria duduk di salah satu kursi di dekat jendela. Alec lalu menarik salah satu kursi di depannya dan duduk di sana.


"Kebetulan yang menyenangkan nona andria?" Andria menatapnya. "Apa yang anda inginkan?" tanya andria tanpa basa basi pada Alec.


"Apa yang aku inginkan?" Matanya bersinar jahat. "Tidak ada yang kuinginkan nona Andria, jangan salah paham, aku juga sedang mencari sebuah buku sama sepertimu." ucap Alec berpura-pura serius.


Andria tersenyum sinis padanya. "mengapa anda masih duduk disini dan tak mencari?" tanya andria.


Dia tersenyum sambil menyilangkan kaki panjangnya dan bersandar pada kursi. "Mengapa kau peduli nona Andria, aku akan mencarinya sebentar jika kuinginkan."


Ingin sekali kulemparkan buku ini di wajahnya. Andria berdiri ingin pergi mencari buku yang lainnya. Andria tidak ingin mendengar perkataan omong kosongnya, tiba-tiba dia juga ikut berdiri dan menghalangi jalan Andria.


"Nona Andria bukankah itu tidak sopan pergi begitu saja'?" katanya dengan wajah marah.


"Tak ada yang perlu kukatakan pada anda." ucap Andria. Dia pergi begitu saja dari hadapan Alec.


~


Bel istirahat berbunyi sehabis pelajaran pemerintahan yang membosankan. Andria menutup semua buku-bukunya dan membawa tasnya ke kantin sekolah. Hari ini sedikit mendung tapi tak hujan, warna hijau dari kota ini terlihat jelas ketika cuaca seperti ini, pohon-pohon dan kabut jelas terlihat dari balik belakang sekolah. Andria suka cuaca seperti ini mengingatkannya pada Gun wu yang bersembunyi di halaman panti setelah mengambil beberapa makanan dari dapur.


"Hai andria." Seseorang menyapanya dan dengan santai duduk di hadapannya. Andria tahu chris selalu berusaha baik padanya dan mencoba ngobrol dengannya. Dan dengan sikap manisnya itu banyak cewek di sekolah ini menatap marah pada Andria. "Ck, itu baguskan !" gumam Andria mendengus.


"Em..Hai chris."


Dia tersenyum dan memberikan minuman pada Andria. "jadi…bagaimana libur akhir pekanmu andria, apa menyenangkan?"


"Erm, ya cukup menyenangkan." Apakah aku harus bertanya juga padanya?? pikir Andria.


"Liburanku juga menyenangkan, Aku pergi ke beberapa kota untuk membeli beberapa peralatan olah raga, dan itu cukup menyenangkan." ucap Chris.


'Oh, dia adalah tipe pria yang menjelaskan semuanya meskipun aku tak bertanya padanya, itu membuat semuanya lebih mudah.' pikir Andria.


Mata-mata di kantin memandang mereka, chris menyadari hal tersebut. "Andria aku minta maaf kau tahu sikap cewek di sekolah ini." Dengan sedikit menggaruk hidungnya.


"Tak masalah." Ucap Andria sambil menyesap minuman di tangannya.


Chris seperti ingin mengatakan sesuatu pada Andrja, sikapnya mencurigakan dan tak tenang.


"Erm…Andria boleh aku meminta padamu sesuatu?" ucap Chris dengan wajah meminta pertolongan.


'Oh minta tolong? ngomong-ngomong aku jarang dimintai tolong oleh seseorang.' pikir Andria.


"Apa?" ucap Andria.


"Maukah kau menemaniku ke toko buku sepulang sekolah?" katanya memohon.


Andria menatapnya curiga, apa yang direncanakan anak ini? Andria membayangkan sepulang sekolah Andria harus membantu Mrs.weltson mengantar ayam dan itu membosankan.


"oke", Jawab Andria akhirnya memutuskan, toko buku adalah kata terakhir dalam kamusnya, tapi..Andrja lebih memilih menemani pria ink di bandingkan pulang dan mengantar lagi.


Sepulang sekolah chris sudah menunggunya dipintu kelas dan tersenyum lebar padanya, Andria ingin memutar matanya tapi demi kesopanan tidak dilakukannya.


"Senang sekali rasanya kau dapat menemaniku andria." ucap Chris.


"Tak masalah chris, aku juga sedang ingin ke toko buku." jawab Andria asal.


Mereka pun berangkat dan chris tak berhenti berceloteh di jalan karena dia menyadari cewek di sebelahnya ini takkan memulai pembicaraan jika tak ditanya olehnya.


Mereka sampai di toko buku yang letaknya tak jauh dengan sekolahnya.


"Kau tahu andria, kalau buku golden sport karya jonathan takkan kudapatkan." Dia tertunduk lesuh.


"aku mencarinya di beberapa tempat di toko buku tapi tak kudapatkan." katanya putus asa.


Andeia hanya memandangnya tanpa komentar.


"Kau ingin membeli sesuatu andria?" tanyanya. Andria yang dari tadi melihat kesekeliing dari rak-rak buku tak menemui buku yang di carinya, diapun menggeleng pada chris.


"Sama-sama kurang beruntung kurasa." kata chris tersenyum lesu.


Andria hanya menaikkan bahunya pada chris, mereka keluar dari toko buku itu dan berjalan sepanjang emperan toko, chris kembali berceloteh pada andria hanya mencoba mengurangi kecanggungan di antara mereka.


"Tuan alec, sebentar lagi kita sampai." kata gery yang sedang menuju bandara Colorado.


Pria yang duduk di belakang menyandarkan sikunya di samping jendela dan sedang memikirkan sesuatu seperti rambut hitam, wajah yang dingin dan senyum sinis yang selalu akhir-akhir ini melayang secara tiba-tiba dipikirannya.


"Stop gery." katanya tiba-tiba dan sedang melayangkan pandangan pada sesuatu di seberang jalan. "Siapa lelaki di sebelahnya." ucap Alec mengernyit.


Dia memandang pada mereka berdua dengan tatapan tajam, rahangnya mulai kaku. Dan betapa herannya alec memandang gadis itu yang tanpa dia sangka dia tersenyum, tapi dia bukan tersenyum sinis seperti saat itu padanya, melainkan senyum seorang gadis normal dan dia sangat manis, matanya bersinar lembut. Apa yang membuat dia tersenyum seperti itu? Apakah karena lelaki di sebelahnya? pikir Alec dan dia tidak menyukainya.


Dengan wajah yang masam dia menyuruh gery berangkat kembali. Sambil memikirkan sesuatu yang ia susun dikepalanya.


Alec memikirkan sesuatu selama perjalanan ke bandara, dan senyum terbersit dibibirnya.