Her Secret

Her Secret
Ronan dan kegilaannya



Hujan kian deras Andria masih berada di cafe doughlas, dia duduk di meja sambil memandang hujan dari luar yang tidak berhenti malah semakin deras, sekarang tepat pukul 11 malam, aku memikirkan kembali bagaimana aku begitu canggung di hadapan alec pagi itu, tetapi dia bersikap sebaliknya seperti tidak ada kejadian apapun dengan caranya dia memperlakukanku dengan penuh cinta dan menatapku Seakan-akan aku akan menghilang.


Alec sudah dua hari ini ke luar kota dia kembali ke Seattle bersama Gery, dia melarangku untuk kembali ke flatku tapi aku begitu bosan jika berada di sana jadi malam ini aku berencana menginap di flatku. Sepertinya Alec sangat sibuk sudah seharian dia tidak meneleponku, aku menghembuskan napas panjang dan menunggu hujan yang tidak mau berhenti.


Aku menekan ponselku untuk menghubungi doughlas, tapi setelah panggilan ke tiga dia masih tidak mengangkat ponselnya. "Baiklah aku yang akan menutup cafe ini dah hujan-hujanan sampai ke flat, lagi pula tempatku tidak begitu jauh dari sini". ucap andria.


Aku mematikan semua lampu dan mengambil tasku, ruang dapur kubiarkan saja menyala. "Andria ? Suaranya begitu berat. Aku berbalik karena terkejut.


"Ronan? kau mengagetkanku". Aku menatapnya dan melihat dirinya yang sedikit basah. "Apa yang kau lakukan disini? cafenya sudah tutup dan doughlas tidak datang hari ini".


"Aku datang menemuimu". ucapnya, dia menatap Andria dengan suara serak, "Kau tahu berapa hari aku ke flatmu dan selalu saja kosong? sudah seminggu Andria, tapi kau selalu tidak ada di sana". ucapnya dengan suara keras.


"Aku sementara tidak tinggal di flatku Ronan, aku....


"Apa kau sudah tidur dengan pria itu? apa yang dijanjikan untukmu agar dia bisa memilikimu"? ucap Ronan kasar.


"Apa? kau gila Ronan? itu urusanku, kau tidak berhak mencampuri hidupku". kata Andria yang mulai tidak suka dengan sikap Ronan.


Ronan lalu tertawa sinis, "Jadi, kau sudah tidur dengannya? ucapnya marah.


"Bukan urusanmu". Gertak Andria, dia berjalan cepat menuju pintu tapi Ronan memegang erat tangannya, "Aku menyukaimu Andria ! kau mendengarku? aku ingin kita kembali seperti dulu, bersamaku di Seattle". Dia menarik keras tangan Andria hingga dia menabrak tubuh Ronan.


Ronan memeluk Andria dan hendak menciumnya tapi Andria mengalihkan wajahnya, "Lepaskan aku Ronan". Teriak Andria.


Dia mendorong Andria ke tembok sehingga ia terhimpit, dia mencoba menginjak kaki Ronan dan memukulnya tapi tidak berhasil juga, hingga Ronan mencium Andria dan mencoba membuka bibirnya. Tiba-tiba saja seseorang memegang bahu Ronan dan meninjunya tepat di wajahnya.


"Aku tidak tahu rencana yang kau maksudkan seperti ini ronan, aku sangat kecewa padamu". Doughlas memandangnya dengan tajam, tangannya terkepal marah.


Ronan mencoba berdiri dan meringis memegang rahangnya yang memerah. sekali lagi pukulan melayang di bibir Ronan hingga berdarah. "Pergilah ! sebaiknya jangan pernah menemui Andria lagi, aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya". ucap doughlas dengan mencengkram baju Ronan.


Ronan menatap wajah Andria yang berada di belakang doughlas. Wajahnya seketika panik, "Andria, Andria maafkan aku..please Andria aku tidak bermaksud menyakitimu, aku mabuk dan.....


"Pergilah Ronan ! Andria tidak ingin mendengar penjelasanmu".


Andria berbalik tidak mau menatapnya, meskipun Ronan berteriak-teriak minta maaf padanya. "Andria kumohon dengarkan penjelasanku, Andria "! Ronan menggedor-gedor pintu cafe.


Doughlas menarik Ronan dan mengeluarkannya dari cafe, sementara Andria menutup matanya tidak mau menatap Ronan yang berteriak-teriak di kaca cafe. "Andria beb, tunggulah di sini, biar aku mengantar brengsek itu, dia betul-betul mabuk berat". ucap doughlas menatapnya.


"Hei, kau tidak apa-apa". Dia memegang dagu Andria dan menatap bibir Andria yang membengkak dan berdarah. Dia mengusap kepalanya, "Tunggu di sini aku segera kembali", ucapnya lembut. Andria hanya mengangguk, kepalanya kembali pusing, "Ok dough", bisiknya.


~


Dia lalu mengambil ponselnya, dan menatapnya, sama sekali tidak ada panggilan telepon dari andria hanya selebihnya beberapa orang dan wanita yang mengajaknya ke pesta atau ke club.


"Ugh, Andria kau sama sekali tidak menghubungiku? gadis itu betul-betul keras kepala". Dia menekan angka 1 di ponselnya tetapi tidak ada jawaban sama sekali, dia menghubungi sampai kelima kalinya tetapi Andria tidak mengangkatnya.


"Kemana dia? apa dia sudah tidur"? gumam Alec. Dia mengirimkan teks ke ponsel Andria agar segera menghubunginya. Alec berbaring sedikit lalu beranjak ke kamar mandi berharap Andria segera menghubunginya.


~


Andria membuka matanya dan melihat dirinya berada di tempat asing, dia lalu menatap ruangan besar dengan kaca besar yang melatarbelakangi kota Vancouver. "Aku ada dimana". gumam Andria.


"Kau ada di apartemenku Andria". Suaranya yang berat kental dengan aksen Britishnya membuat Andria berbalik dan memandangnya yang duduk di sofa sambil menatapnya.


"Doughlas? kenapa aku ada di sini"? tanya Andria.


"Kau pingsan Andria, setelah aku mengantar brengsek itu aku mendapatimu pingsan di dapur dan kau sedikit demam". Ucapnya lagi.


Andria mengangguk, "Em trims doughlas". kata Andria menatapnya, dan memikirkan kalau pria di hadapannya ini adalah kakak tirinya istri kedua dari ayahnya setelah ibu kandung Andria wafat. Tapi Andria tidak mengingat apapun selama insiden kebakaran itu terjadi tahu-tahu dia bisa berbahasa Jepang meskipun masih terbata-bata dan mereka di panti mengatakan kalau keluarganya berasal dari Jepang tapi semuanya itu palsu, Okada menculiknya entah berapa lama hingga dia berakhir di panti asuhan.


Doughlas bangkit dari tempat duduknya dan mengambil air di atas nakas dan obat untuk Andria, "minum obat ini Andria, agar demammu turun". Doughlas memegang kening Andria membuatnya sedikit terkejut.


"Masih demam". ucap doughlas, "Tidurlah kembali, aku ada di sebelah jika kau butuh sesuatu". Senyum doughlas, dia kembali mengacak rambut Andria dan keluar dari kamarnya.


Andaikan saja doughlas tahu tentang dirinya, apakah dia bisa menganggap Andria sebagai keluarganya dan melihat andria sebagai adik perempuannya?


Suara ponsel Andria kembali berdering, Andria bangun lalu mengambil ponselnya, Alec telah meneleponnya puluhan kali. Andria mengangkat teleponnya.


"Halo Alec". Kata Andria serak karena baru saja bangun dari tidurnya tepat pukul 3 pagi.


"Kau. ada. dimana."? suaranya yang marah terdengar jelas.


"Aku akan menjelaskannya Alec, kau ada di mana"?


"Aku masih di Seattle, orangku baru saja berada di flatmu tapi kau tidak ada di sana, kau ada di mana? ucapnya tegas.


"Aku berada di rumah doughlas, aku tadi pingsan ketika bekerja... Halo? Alec? Ponselnya lalu ditutup.


Ponsel Andria berbunyi dan teks dari alec yang singkat baru saja masuk.


"Aku. segera. menjemputmu". Andria berbaring kembali dan akan mendengarkan celotehan Alec yang marah Sebentar lagi, tapi anehnya hal itu membuat Andria tersenyum, dia merindukan Alec.