
Mata Andria bosan menatapnya, Chris tak henti-hentinya membicarakan tentang dirinya, untunglah mereka turun dari bus itu, beberapa toko usang di emperan jalan berderet-deret, para pejalan kaki hanya melewatinya saja, toko usang itu menjual ribuan buku yang tidak bisa kau dapatkan jika kau berkunjung di toko biasa di Seattle, tempat ini sangat membantu jika kau mencari beberapa buku yang tidak di jual lagi.
Andria memasukinya bersama Chris, menerawang diantara sesaknya rak-rak buku yang berdebu dan usang. Setelah beberapa belokan yang mereka lalui, matanya membelalak menatap sebuah buku berwarna merah yang sudah sobek di sana-sini.
Andria mengambilnya dan membaca sampulnya, tanpa mengetahui seseorang memperhatikannya, Andria membacanya dengan serius, sampulnya begitu mirip tapi bukan buku ini yang dia cari, kenangan itu sebenarnya masih sangat samar diingatkannya.
kepalanya berdentum-dentum lagi, sakit dikepalanya dapat Andria rasakan, dia lalu terduduk sebentar memegang rak buku sebagai sandarannya agar tidak terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?" Suara baritonnya berat dan terdengar khawatir. Andria mendongak menatap pria berjas dihadapannya. Dia memegang lengan andria seketika. Andria ingin menghempaskan tangannya, tapi tubuhnya tidak bisa menahan dentuman dikepalanya.
Dia memapah Andria dan masuk ke mobilnya, Andria menutup matanya mencoba menghilangkan rasa sakit dikepalanya.
"Gery, kita ke rumah sakit." Katanya dengan wajah sedikit cemas menatap wajah pucat Andria.
"Tidak ! jangan kesana, turunkan saja aku di sini." Kata Andria tajam. Bibir Alex menipis.
"Hentikan mobil di apotik itu Gery." Dengan menunduk Gery segera menepikan mobilnya.
Andria mencoba membuka pintu mobilnya, tapi ditahan oleh Alec. "Kau mau kemana? kau bahkan tidak bisa berdiri Andria." Bentaknya.
Dengan marah Andria memaksa dirinya membuka matanya. "Jangan campuri urusanku, aku ingin turun." Kata Andria dingin.
Dia betul-betul gadis keras kepala, tapi dia tidak tahu bagaimana keras kepalanya diriku, akupun tidak mau membiarkan dia pergi begitu saja, pikir Alec.
"Pergilah, kalau begitu aku tidak akan menghalangimu." kata alec dengan nada menantang. Andria membuka pintu mobil meraba-rabanya agar terbuka, tapi dia terduduk lagi dan terjatuh menimpa tubuh Alec.
"See, istirahatlah sebentar kau bahkan tidak bisa berdiri." Andria memejamkan matanya mencoba menghilangkan sakit dikepalanya, keringat dingin mengucur didahinya. Baru kali ini penyakit lamanya kambuh lagi, pusing yang tidak bisa dikendalikannya.
Gery masuk kedalam mobil dan mengulurkan beberapa obat kepada Alec. "Kau sudah makan Andri" tanya alec padanya.
Dia tidak menjawab pertanyaan Alec hanya menutup kedua matanya, alec mengembuskan napasnya. "Ke apartemenku Gery." Gery membungkuk mengikuti perintah Alec.
~
Chris berjalan diantara rak-rak mencari Andria, dia menanyakan orang-orang yang ada di sana tapi tidak ada seorangpun yang melihatnya. "Kemana Andria?" bisiknya.
"Di mana Andria?" seseorang menatap Chris dengan mata birunya yang tajam. Dia berdiri berdesakan diantara rak-rak buku.
"Aku sedang mencarinya, ngomong-ngomong kau siapa?" tanya Chris memandang Ronan yang menatap seluruh ruangan mencari-cari Andria.
"Aku..erm, aku walinya, hubungi aku di nomor ini jika kau menemukan Andria." Kata Ronan sambil menyerahkan kartu namanya. Chris mengangguk kepadanya.
Dia segera keluar dari toko buku usang itu, menatap setiap jalanan di tengah-tengah orang yang berjalan di kota Seattle. "Sial ! kemana dia." Umpat Ronan, dia kehilangan jejak Andria ketika dia memesan kopi di salah satu cafe di seberang jalan.
~
Dia tidak tahu mengapa dia bersusah payah membawa gadis yang jelas-jelas membencinya. Dia mengangkatnya memasuki apartemennya, sementara Gery membukakan pintu apartemen untuknya.
Dia membaringkan Andria di tempat tidurnya, menggulung lengan bajunya membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. Alec segera mengambil handuk putih kecil lalu mengompres Andria.
"Apa yang kulakukan? seharusnya aku membawanya ke rumah sakit, tanpa harus bersusah payah seperti ini."
Alec menatap Andria yang terbaring di tempat tidurnya wajah cantiknya membuat suasana kamar lebih indah dan menarik, pikir Alec tanpa sadar. Dia menggelengkan kepalanya, lalu duduk di tepi tempat tidur menatap Andria yang tertidur pulas.