
Angin dingin begitu menusuk ke tulang tetapi pria bermata coklat itu sudah tidak sabar ingin mengakhiri kejar-kejaran tidak berguna ini, dia harus segera mengetahui dimana ponakannya, dan informasi penting ini harus dia ketahui dari wanita yang sedang membuat sesuatu di dapur tanpa penjagaan siapapun.
Clan de lucas sudah begitu terkenal di kota Milan, separuh kota sudah di kuasai oleh clan ini, setelah kakaknya wafat adiknya yang bernama Leone de lucas lah yang menjadi anggota tertinggi clan, dan sekarang ini dia berusaha mencari tahu ponakannya, karena darah de lucas mengalir di darah putra rowena.
Suara langkah kaki yang begitu pelan membuat Andria berbalik cepat dan tanpa sadar sebuah pisau sudah berada di tangannya, ketika Andria hendak menyerang pria itu, dengan cepat ia menyambar pergelangan tangan Andria.
"Hy, kau Andria?" ucap pria bermata coklat yang dalam itu, dengan smirk di wajahnya.
"Siapa kau, mengapa kau ada di sini!" ucapan Andria berdesis marah, tetapi jantungnya berdegup begitu kencang. "Keluar dari sini sekarang juga, atau aku akan teriak."
"Hehe...nyonya Alexander tenanglah, aku bukan ke sini untuk menyakitimu, aku ingin bertanya sesuatu padamu, karena untuk mendekatimu saja sudah cukup rumit bagiku."
Mata tajamnya menatap wajah Andria, senyum di bibirnya merekah entah mengapa, meskipun wanita ini sudah memiliki suami dan dua orang anak, kecantikannya tidak bisa tertutupi begitu saja.
"Dimana doughlas." tanyanya.
Mata andria membelalak, "Untuk..untuk apa kau mencarinya?!"
"Itu bukan urusanmu mam, katakan saja dimana doughlas." matanya masih bermain-main di wajah Andria, Senyumnya selalu terbit di bibirnya.
"Aku tidak tahu!" ucap Andria berbohong.
Dia mengangkat satu alisnya, "Kau berbohong nyonya, katakan saja dimana doughlas, dan aku akan melepaskanmu." ucapnya.
"Mengapa kau mencarinya? apa urusanmu dengannya?"
"Sepertinya itu bukan urusanmu nyonya."
"Kalau begitu bukan urusanku untuk menjawab pertanyaanmu." ucapnya keras.
Suara pintu mendobrak terbuka, beberapa penjaga masuk dan melihat Andria tersudut di tembok, dengan cepat pria itu berlari melintasi dapur dan keluar ke kegelapan malam.
Gery berlari-lari ke arah Andria, "Nyonya anda baik-baik saja?" tanyanya.
"aku baik Gery, siapa orang itu?" tanyanya.
"Kami sedang menyelidikinya Nyonya, apakah anda yakin baik-baik saja, perlukah aku memanggil dokter?" ucap gery.
"Tidak, tidak usah Gery, aku hanya sedikit shock, cari tahu siapa pria itu dan dia sedang mencari doughlas."
"Tuan doughlas?" tanyanya.
"Ya, dia mencari doughlas tapi aku tidak menjawab pertanyaannya."
"Baiklah nyonya kami akan menyelidikinya." Gery segera memperketat keamanan dan menambahkan penjagaan, dia termasuk orang hebat bisa menyusup ke tempat ini dengan begitu banyak penjagaan.
~
"Sial ! kalian bodoh ! bagaimana jika sesuatu terjadi pada istriku, aku akan membunuh kalian semua." bentak Alec ketika diberitahu penyusup yang masuk ke dapur dan bertemu dengan Andria.
"Cari tahu apa ya diinginkan orang itu." perintahnya.
"Baik tuan."
Pikirannya menerawang sambil mengedarkan pandangannya di pemandangan kota Seattle di hadapannya. "Doughlas? mengapa dia mencari doughlas?" pikirnya.
"Mom?...mom.." suara Abel yang merengek ingin di gendong oleh andria entah mengapa dia begitu rewel pagi ini, seharian Abel tidak pernah lepas dari ibunya, setiap saat dia merengek minta di gendong meskipun dia di selalu diikuti oleh seorang pelayan yang menjaganya.
"Kein makan sarapanmu sayang, kau tidak suka sandwich?" tanya Andria.
"Emm, aku ingin makan sereal mom." ucapnya merajuk.
"ok honey, dengan cepat pelayan menyediakan sereal untuk kein, sudah tiga hari kein merajuk kepada andria, dia masih marah karena mereka tidak pergi ketempat bermain.
"Nanti siang kita akan ke tempat bermain sayang!" ucapnya.
"Benarkah? benar ya mom!" teriak kein lalu memeluk ibunya, meskipun mainan kein masih menggunung di kamarnya dia selalu merengek minta mainan yang baru terkadang Andria harus bersikap tegas kepada putranya ini.
"Gery kami akan ke central square mall, kami hanya pergi sebentar ke sana." ucapnya di sela-sela mengambil tasnya di atas sofa bersama kein yang juga sudah siap berangkat.
Wajah datar Gery berubah khawatir, "Nyonya sepertinya bukan waktu yang tepat untuk pergi nyonya, saya khawatir orang yang mengancam nyonya masih berkeliaran di luar sana, tuan Alec tidak akan membiarkan Anda keluar rumah di waktu sekarang ini nyonya terlalu berbahaya." Ucap Gery panjang lebar.
"Paman Gery aku ingin pergi sekarang, sekarang ! mom sudah berjanji padaku, ya..ya paman bisa ikut kami, ayolaaaaah." rengek kein.
Dengan wajah khawatir Gery masih memandangi kein yang merengek-rengek, "Hanya sebentar nyonya, setelah membeli mainan kita langsung pulang." ucapnya.
"Horeee, kita berangkat sekarang." Sorak kein sambil berjingkrak gembira. Andria hanya menggeleng melihat putranya melompat-lompat senang dia mirip sekali dengan ayahnya dia harus mendapatkan apa yang diinginkannya.
Mobil sudah menunggu di parkiran, Gery dengan sigap membukakan pintu mobil untuk mereka sambil mengedarkan pandangannya di sekitar, rasa khawatir dan waspada masih merayap di wajahnya.
Sebelum dia memasuki mobil dia memegang earphonenya lalu dua mobil di belakangnya sudah siap menjaga mereka. Mobil lalu melaju di pusat kota Vancouver. Ponsel berdering dan nama Alec tertera di layar ponsel.
"Halo sayang!" ucap Andria yang berkedip beberapa kali karena kemarahanya terdengar dari ujung telepon.
"Kembali Andria ! kembali kataku di luar masih berbahaya."
"Tapi Alec kami hanya akan pergi sebentar lalu akan kembali, please jangan marah." ucap andria.
"Berikan ponselnya pada Gery, sekarang !" ucapnya membentak.
Setelah mendengar Omelan Alec, Gery memegang earphonenya, memerintahkan untuk memutar balik mobil kembali ke kediaman Alexander. Wajah kein memerah, bibirnya sudah monyong, tidak berapa lama suara tangisannya pecah, membuat Andria harus membujuknya agar berhenti menangis.
"Tenanglah kein kita bisa membelinya lain waktu bersama ayah, bagaimana?" bujuk Andria.
Tangisan kein belum berhenti, tetapi sesuatu membuat mereka terdorong kedepan, Gery tiba-tiba melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, Andria langsung saja memekik dan memeluk kein, wajahnya begitu panik, kein yang menangis pun ikut berhenti mengetahui sesuatu yang berbahaya sedang menjemput mereka.
"Pegangan nyonya!" teriakan Gery memecah suasana yang begitu tegang, mobil kami diapit oleh tiga mobil besar berwarna hitam, masing-masing mobil memerangkap mobil sehingga gery tidak bisa lari dari mereka.
"Sial !" umpat Gery. Dia melajukan mobilnya begitu kencang hingga dengan keahliannya dia dapat meloloskan diri dari mobil itu.
Andria memeluk erat kein dengan sekuat tenaga, agar putranya tidak jatuh, ponsel Andria berdering kembali tetapi di situasi seperti itu membuat Andria tidak mungkin mengangkat ponselnya.
"Sial!" umpat Alec, walch ! siapkan 077heli aku kembali ke Vancouver sekarang!", tubuh Andria menggigil membayangkan sesuatu yang buruk akan menimpa mereka.